
pov Nicole.
"kau makan siang bersamaku"
" B-baiklah"
Aku menoleh sempurna padanya. Apakah barusan dia mengajakku makan bersama?. Memang waktunya makan siang. tapi makan bersama sungguh di luar ekspektasi ku.
Aku kembali menyusul langkah lebarnya keluar ruangan lalu masuk ke dalam lift. Entah hanya perasaan ku saja atau memang rasanya begitu gerah. Untunglah aku membawa ikat rambut di sakuku. Ku ikat rambutku dengan asal cepol.
Ddrrt... drrt...
ponselku bergetar, berpendar semangat sebelum aku mengangkatnya. Ah.. rasanya malas sekali mengangkat karena nomor yang tidak ku kenal.
"Hallo"
" Apa benar ini sekertaris tuan park? "
Rasanya aku ingin mengutuk diriku sendiri saat ini karena menjawab dengan nada yang teramat ketus. Sepertinya mulai dari sekarang aku harus terbiasa dengan nomor yang tak ku kenal. Sebab aku bekerja sebagai sekertaris CEO salah satu perusahaan terbesar di Korea.
" Benar. tapi kalau saya boleh tau, dengan siapa saat ini saya berbicara. "
" saya manager tuan Kim Seokjin dari Jepang,yang akan melakukan kerjasama dengan perusahaan PJM company. Saya menghubungi anda untuk membicarakan rencana ini lebih lanjut.
" Baiklah, saya akan membicarakan ini kepada tuan park terlebih dulu. Saya akan menghubungi anda setelahnya. "
" Baiklah, Terima kasih"
" sama sama. "
Aku memutus panggilan setelahnya. Aku tau sedari tadi aku tak lepas dari tatapan pria yang saat ini berdiri di sampingku.Begitu aku selesai, pria ini kembali menatap ke depan.
Tingg....
Aku kembali berjalan keluar lift mengikuti langkah jimin yang entah kemana. Ku pikir, ia akan mengajakku makan siang di kantin kantor. nyatanya, ia berjalan menuju ke arah dimana mobilnya terparkir. WHAT? apa aku harus semobil dengannya?
" kenapa tidak masuk? "
Aku tersentak setelah beberapa detik hanya terdiam di samping mobil jimin. Setelah pria itu duduk di jok kemudi, aku ikut masuk meski dengan perasaan ragu.
" Kenapa kau selalu menolakku? "
Aku tak menoleh padanya.Ia menancap pedal gasnya dengan kecepatan pelan. Dapat kurasakan sesekali ia menoleh ke arahku. seakan menunggu jawaban atas pertanyaannya tadi.
" Maaf tuan, tapi saya sedang tidak ingin membicarakan itu"
Jawabku membuat nya terkekeh. Entah dimana letak kelucuannya.
" Apakah kau berniat menghindar dariku? " ucapnya setelah meredakan kekehannya. " Kalau kau berfikir begitu, maka lupakan. Karena aku tidak segan segan untuk menyiksamu jika kau terus saja menolakku. "
Kini giliranku untuk tertawa. aku merasa apa yang baru saja dikatakan benar benar lucu.
jimin menepikan mobilnya lalu berhenti. Setelah beberapa detik terdiam, ia menoleh kepadaku yang sama sekali tak ingin menatapnya.
Dapat kurasakan dengan cepat ia mendorong tubuhku dan menurunkan jok mobil yang kududuki hingga kini tubuhku setengah berbaring dan dia berada di atasku.
Nafasku tercekat, dapat kulihat wajahnya yang menampakkan kemarahan.
" Bicara yang sopan, aku ini bossmu"
"M-maafkan....s-saya tuan"
Jimin tersenyum smirk melihat aku yang saat ini mulai gugup karena dirinya.
Aku berusaha kuat mendorong tubuhnya. Namun bukannya menjauh, ia malah menahan kedua tanganku tepat di atas kepalaku.
Beberapa detik setelah ia menatapku, ia meciumku secara brutal. entah bagaimana cara mendefinisikan ini. Tapi, apakah ini yang ia maksud menyiksa?
ku pukul pukul dadanya agar menjauh. Namun sialnya ia malah mengelus paha dalamku secara sensual. Bodonya aku, seakan terhipnotis aku membalas setiap lumatannya.
Seakan tersadar aku menggigit kasar bibir bawahnya, Kudorong sekuat tenaga tubuhnya hingga menjauh. Ku tegakkan dudukku setelahnya.
" M-maaf tuan. Tidak seharusnya tuan melakukan ini pada saya. Saya bukan orang yang bisa tuan sentuh sesuka hati tuan. Tuan baru saja melakukan suatu pelecehan pada sekertaris anda sendiri"
Ia tertawa keras " Tapi kau menikmati nya Nicole" ucapnya di sela sela tawanya.
Kini aku terlihat seperti orang bodoh. Atau memang aku bodoh? Entahlah....
" Maaf tuan, saya berhenti di sini. saya akan kembali ke kantor dan makan siang disana saja."
ucapku kemudian turun dari mobil tanpa melihatnya sama sekali.
Saat berada di dalam taksi menuju kantor, aku hanya melihat keluar jendela. Tak terasa air mata jatuh menetes. Bagaimana bisa jimin memperlakukanku seperti itu.