CEO PARK

CEO PARK
6. Eye



Ddrrttt....


satu pesan masuk dari Hana.


Hana kim


kau tidak ingin pergi makan siang? ku tunggu di depan.


Yap, saking sibuknya dengan pekerjaannya, sampai sampai Nicole baru saja akan kehilangan waktu makan siangnya jika saja Hana tak mengiriminya pesan.


Ia pun membereskan mejanya dan berjalan keluar untuk menemui Hana.


" Bagaimana? "


Tanya Hana saat berada di dalam lift menuju kantin yang terletak di lantai 3.


" Kau sendiri bagaimana? "


" Kalau aku siihhh... yang jelas happy bisa satu ruangan sama lelaki tampan.Kau tau,bahkan aku tidak fokus dengan pekerjaan ku melainkan fokus memandangi wajah tampannya...."


Nicole memutar bola matanya malas.


" Kau memang penggila lelaki tampan. "


Ting...


Pintu lift terbuka terlihat banyak sekali karyawan yang sedang menikmati makan siangnya. Dan tak sedikit pula yang memperhatikan mereka berdua.


Setelah memesan makanan, mereka berdua pun duduk di kursi dekat dengan jendela kaca besar. Makan siang kali ini berjalan normal. hanya menikmati makanan dan minuman sembari sesekali melemparkan candaan.


Hingga waktu makan siang sudah habis, mereka kembali naik ke lantai 8.


" Bye... "


ucap Hana pada Nicole ketika mereka akan berpisah arah.


Nicole berjalan menuju ruangan nya. Dan saat hendak masuk, ia dibuat terkejut oleh wanita yang keluar dari ruangannya dengan pakaian yang seksi dan berantakan.


Sekilas wanita itu melihat Nicole sebelum berlalu pergi. Nicole melihat sekeliling untuk memastikan kalau ia tak salah ruangan. Dan benar, itu memang ruangannya. Tapi, siapa perempuan tadi? kenapa ia terlihat begitu berantakan?


Di dorongnya pintu dan melangkahkan kakinya masuk. Dan di dalam terlihat Jimin yang sedang duduk di kursi kebesarannya menatap nicole dengan tersenyum smirk.


Sial.


Tapi kenapa jimin juga terlihat berantakan? ya Tuhan... apa yang baru saja mereka lakukan.


Nicole mengerjapkan matanya beberapa kali guna menghilangkan fikiran kotor yang terintas di otaknya.


Lalu berjalan dan mendudukkan dirinya di atas sofa. Perlahan ia membuka laptopnya dan mulai mengerjakan pekerjaan yang tadi belum terselesaikan.


Jimin terus memperhatikannya. Memang ia tak menoleh. Tapi ia bisa melihat dari ekor matanya kalau sedari tadi jimin duduk dengan melipat kakinya dan memperhatikannya.


Terdengar kekehan darinya sebelum ia berjalan mendekat dan duduk tepat di sebelah Nicole sampai sampai tak ada jarak sedikit punpun diantara mereka.


Nicole berusaha untuk tetap tenang.


Ucap jimin sembari menarik dagu Nicole agar membalas tatapannya.


" Ti-tidak tuan.." ujarnya sembari memalingkan wajahnya dan bergeser.


Namun detik berikutnya, jimin juga bergeser mendekat, Nicole bergeser lagi, tapi lagi lagi, jimin juga ikut bergeser. sampai ketika Nicole ingin bergeser, Jimin menarik pinggangnya sehingga tak ada jarak sedikitpun.


Nicole yang kaget dengan pergerakan jimin yang tiba tiba, mendongakkan kepalanya dan menatap jimin tepat di manik matanya.



Nicole seolah terhipnotis dengan mata indah lelaki yang saat ini juga sedang menatapnya. Seakan enggan berpaling.



Perlahan jimin mendekatkan wajahnya, Sampai Nicole dapat merasakan hembusan nafas segarnya.Kini jarak mereka hanya sekitar 5 centi.



Tapi, ketika jimin mulai memiringkan kepalanya, seakan tersadar,Nicole mendorong pelan dada jimin.



" Maaf tuan, saya masih banyak pekerjaan. "



ucapnya lantas bergeser dan mulai menatap laptop di depannya. Jujur saja rasanya jantungnya seperti ingin lompat dari tempatnya.



Sial... apa yang baru saja ingin dia lakukan.



Jimin berdecak, kemudian beranjak menuju meja kerjanya dan kembali dengan membawa bertumpuk tumpuk berkas dan membantingnya di meja Nicole.



" Kerjakan dan jangan sampai kau pulang kalau belum selesai. "



Ucapnya dingin namun penuh penekanan.



" Baik tuan"


jawab Nicole tak berani menatap matanya.


Jimin pun berbalik dan pergi meninggalkan ruangannya.