
Arina sangat senang, karena ia mendapatkan pekerjaan. Dengan begitu, dirinya bisa mengambil beasiswa itu, dan melanjutkan sekolahnya.
Setelah Arina pamit dari warteg mewah milik Zahra, ia kembali berjalan untuk mencari kosan yang letaknya tak jauh dari tempat dirinya bekerja.
Setelah lama mencari, akhirnya ia menemukan sebuah kamar kos yang tidak terlalu besar, tapi cukup untuk ia tinggali sendiri. Kosan ini memang nampak seperti rumah susun, tapi bedanya hanya sampai lantai dua. Di dalam kamar kos yang Arina tempati memiliki fasilitas kamar mandi, sebuah lemari, dan sebuah kasur lantai yang tak terlalu tebal.
Arina menyusun barang-barangnya ke dalam lemari, setelah itu ia pergi keluar untuk mencari sapu, karena kamarnya saat ini sedikit kotor. Gadis itu turun ke lantai bawah untuk mencari sapu, tapi tiba-tiba, tanpa sengaja ia menabrak seorang wanita yang masih muda dan cantik, mungkin hanya berbeda beberapa tahun darinya.
"Ah, maaf, Kak," ujar Arina.
Wanita itu mengangguk sambil tersenyum. "Iya, Dik. Gak papa kok. Oh, iya, kamu anak kos baru, ya?" tanyanya.
"Iya, Kak."
"Kenalin, nama kakak, Tasya. Kamu bisa panggil kakak, Sya, atau Tata," ucap Tasya sambil mengulurkan tangannya untuk dijabat.
Arina menjabat tangan Tasya. "Saya Arina, Kak."
"Ohh, Arina. Kamu tinggal sendiri di sini? Keluargamu mana?" tanya Tasya.
"Emmm ... ayah udah meninggal, kalo ibu dan saudara-saudaraku ...."
Tasya mengerti kenapa Arina menggantungkan kata-katanya. Karena, saat ini dirinya juga mmegalami hal itu.
"Yaudah, kamar kamu di lantai atas, kan? Kita ke atas yuk," ajaknya.
Arina tersenyum, "iya, Kak."
Mereka berdua naik ke atas, dan kebetulan, kamar mereka sebelahan. Jadi, mereka berdua bisa leluasa mengobrol atau bahkan ingin curhat satu sama lain.
***
Dimalam harinya, Arina sedang berbaring sambil membuka ponselnya. Ia mulai menggali informasi tentang beasiswa yang ia dapatkan.
Arina senang sekali, ia mendapatkan informasi, bahwa jika ia bisa lebih berprestasi lagi, maka ia akan mendapatkan beasiswa kuliah di University Academic Talent, salah satu universitas yang paling bagus dan berkelas.
Saat sedang asik dengan ponselnya, tiba-tiba ada yang mengetuk pintu kosannya. Arina segera berdiri untuk membuka pintu itu. Dan tampaklah seorang wanita cantik di balik pintu.
"Hai, Kak Tata," sapa Arina.
"Hai juga, Rina. Maaf mengganggu kamu malam-malam begini. Kakak kesepian di dalam kamar, jadi mau main di sini sebentar, gak papa kan?" jelas Tasya.
"Tentu, Kak. Rina juga kesepian, hehe. Eh, iya, ayo masuk," ajak Arina.
Tasya tersenyum, lalu masuk ke dalam kamar Arina. Semuanya begitu sederhana, namun sangat bersih dan nyaman.
"Kamu lagi ngapain tadi?" tanya Tasya.
"Rina lagi nyari informasi tentang beasiswa SMA, Kak," jawab Arina.
"Wahh, kamu hebat. Beasiswa di SMA mana?"
"High School Academic Talent."
Tasya melototkan matanya, "serius sekolah itu? Itu sekolah terkenal, kamu kok bisa dapet beasiswa di sana?" tanya Tasya penasaran.
"Oh itu, ceritanya panjang, Kak, hehe."
"Kakak kerja? atau kuliah?" tanya Arina.
"Kakak kuliah. Ya, sambil kerja juga lah. Rencananya sih, semester depan akan wisuda," jawab Tasya yang tiba-tiba teringat akan keluarganya.
Saat melihat Tasya melamun, Arina seketika bingung. Namun, ia paham, Tasya pasti memiliki masalah yang masih membekas di hatinya, begitupun dirinya saat ini.
***
Masalah akan datang tanpa kita mengundangnya terlebih dahulu. Maka dari itu, tetaplah siaga dan waspada, karena masalah tak membutuhkan notifikasi sebelum ia menghampiri.
-Arina Alania