CEO Girl VS CEO Boy

CEO Girl VS CEO Boy
Antara sedih dan bahagia



Tak terasa, hari-hari begitu cepat berganti. Hari ini adalah hari dimana Arina akan melepas gelar pelajar sekolah menengah pertama. Senang? Tentu saja itu yang dirasakan seorang Arina. Tapi ia tak seberuntung teman-temannya yang lain, yang akan melanjutkan sekolahnya ke jenjang SMA. Arina masih ingat betul apa yang dikatakan oleh ibunya.


"Kamu tidak akan melanjutkan sekolah ke SMA. Tapi kamu akan langsung bekerja di rumah ini sebagai pembantu. Ya, walaupun kamu tidak akan saya gaji, tapi tenang, biaya makan kamu akan saya tanggung."


Sakit memang, tapi bukan Arina namanya jika ia tak tegar dan menjadi orang yang terus berjuang tanpa mengenal kata lelah.


Arina duduk di kursi taman yang ada di sekolah. Ia masih sakit dengan apa yang dikatakan oleh ibunya. Padahal, ia ingin sekali melanjutkan sekolah hingga sampai ke perguruan tinggi.


Tak terasa, Arina meneteskan air mata. Ia sudah berjanji pada ayahnya bahwa dirinya tak akan pernah menyerah menghadapi sesuatu walaupun itu menyakitkan.


Air mata Arina mengalir semakin deras, tak ada isak tangis yang terdengar, karena Arina tipe orang yang tak suka menangis karena ia tak ingin dirinya menjadi lemah.


Sebuah tangan terulur di depan Arina. Tangan itu memegang sebuah tisu. Dengan air mata yang masih berlinang, Arina menatap wajah tampan yang ada di depannya.


"Untukmu, dan jangan menangis lagi," ucap Rafa dengan nada lembut.


Arina mengambil tisu itu, dan perlahan menghapus air matanya. "Terima kasih," ucapnya lirih.


Rafa duduk di samping Arina, menatap gadis itu dengan dalam. "Memang terkadang penderitaan selalu menghampiri kita. Tapi, apa kamu tahu, Rina? Setelah kita lelah menanam pohon, pakaian kita dipenuhi tanah yang kotor, pelipis kita dibasahi keringat. Walaupun begitu, setelah beberapa saat dan menunggu waktu yang mungkin cukup lama, kita akan menikmati hasil dari pohon yang kita tanam. Begitu juga dengan hidup, kadang kita harus menderita dulu, barulah secara perlahan semuanya akan berubah dengan seiring berjalannya waktu dan berkat usaha yang dengan ikhlas kita jalani," tutur Rafa.


Arina menatap Rafa yang juga sedang menatapnya. Sejenak mereka saling menatap, berusaha menenangkan diri masing-masing dengan cara itu.


"Ayo kita ke lapangan, jangan kelamaan nangis di sini, nanti bisa-bisa taman ini banjir gara-gara kamu," gurau Rafa.


Arina terkekeh dengan ucapan Rafa, lalu menatap laki-laki itu sambil tersenyum. "Terimakasih, ya, Kak."


Arina tersenyum manis. "Untuk semuanya."


Rafa menggaruk tengkuknya yang tak gatal. Karena saat ini ia sangat gugup, apalagi melihat senyum Arina yang menurutnya sangat manis.


***


Saat ini semua siswa kelas 3 SMP sedang berkumpul di lapangan untuk menerima surat hasil kelulusan. Dan hasilnya sangat mengejutkan, 100℅ siswa lulus dengan nilai yang bagus.


Arina sangat senang, karena dirinya mendapatkan peringkat 1 dengan nilai yang paling bagus. Ia juga diberi tahu oleh pengurus sekolah bahwa dirinya mendapatkan beasiswa di sekolah swasta terbaik di kotanya. Jika Arina mengambil beasiswa itu, ia tak perlu membayar uang bulanan sekolah.


"Selamat, ya, Beb. Aku ikut seneng deh," ucap Linda.


"Makasih, Beb." Arina terlihat senang karena Linda selalu ada bersamanya, dan kini, saat semua orang sedang iri dirinya mendapatkan beasiswa, tapi Linda malah mengucapkan selamat padanya.


"Ohh, iya, Beb. Beasiswa itu mau kamu ambil? Menurut aku, ya, lebih baik kamu ambil. Jarang-jarang lohh kesempatan ini ada, apalagi, ya, denger-denger sekolah itu elit banget. Guru-guru di SMA itu lulusan terbaik semua, pokoknya best dehh," tutur Linda.


"Duhh, aku sih pengen ambil, Lin. Tapi kamu tahu, 'kan? Ibu gak bolehin aku melanjutkan sekolah," ucap Arina sendu.


"Ya ampun, kasian kamu, Beb. Padahal, kamu itu pinter loh, kan sayang kalo gak ngelanjutin sekolah," ucap Linda yang juga prihatin dengan kehidupan sahabatnya itu.


Tanpa mereka sadari, sedari tadi Rafa tidak sengaja menguping pembicaraan mereka.


"Kamu anak yang pintar, Rin. Aku yakin pasti akan ada jalan buat kamu," batin Rafa, sambil menatap sendu ke arah Arina.