CEO Girl VS CEO Boy

CEO Girl VS CEO Boy
Curhatan Tasya



Saat melihat Tasya melamun, Arina seketika bingung. Namun, ia paham, Tasya pasti memiliki masalah yang masih membekas di hatinya, begitupun dirinya saat ini.


"Wahh, kakak hebat. Aku pengen kayak kakak, hehe," ucap Arina terkekeh.


"Hm, kenapa tidak? Semua pasti bisa mendapatkan apa yang ia inginkan, asalkan terus berusaha dan berdoa," tutur Tasya.


"Kakak, sejak kapan tinggal di sini?" tanya Arina.


"Sudah lama sih. Saat kakak lulus SMA, kakak sudah tinggal di sini," jelas Tasya.


"Kenapa kakak tinggal di sini? Keluarga kakak kemana?" tanya Arina lagi. Mungkin ia terlalu lancang, tapi rasa penasarannya tak dapat ditahan.


"Apa aku curhat sama Arina aja, ya? Aku lelah memendam semua ini sendirian," ucap Tasya dalam hati.


"Emm, kakak di usir dari rumah. Saat itu, orang tua kakak, gak ngebolehin kakak pacaran, Rin. Tapi kakak, kan, pengen kayak temen-temen yang lain, punya pacar, sering keluar rumah, nongkrong bareng. Sedangkan kakak? Setiap hari disuruh belajar, belajar dan belajar. Bahkan, kakak dipaksa untuk mengikuti les privat agar tidak pergi bersama teman-teman. Kakak merasa terkekang. Dan, sampai suatu saat, kakak memutuskan untuk pacaran dengan laki-laki idola di sekolah, dia emang udah lama ngejar-ngejar kakak. Kami pacaran tanpa sepengetahuan orang tua kakak. Sampai suatu saat, pacar kakak itu, ngambil mahkota kakak yang telah kakak jaga selama ini. Alhasil, kakak dimarahi, bahkan baru kali itu, mama nampar kakak, dan papa ngusir kakak dari rumah. Kakak nyesel, kakak pengen kembali dan minta maaf, tapi kakak juga malu kalo harus kembali, karena kakak adalah aib keluarga, dan juga, kakak sekarang udah nyaman sama kehidupan kakak yang baru ini," tutur Tasya sambil meneteskan air matanya ketika mengingat masa lalu yang mengenaskan itu.


Arina ikut meneteskan air matanya. Ia kira, hanya dirinyalah wanita yang paling menderita. Tapi setelah mendengar cerita Tasya, ia sadar, semua orang memiliki kisah pahitnya masing-masing.


"Kak, sekarang kakak harus kembali, kakak minta maaf sama mereka. Orang tua kakak pasti sedih, mereka begitu, karena mereka gak mau kakak kenapa-napa. Kakak lihat, kan? orang tua kakak ngelarang kakak pacaran supaya gak terjadi hal itu. Tapi sekarang, kakak jangan merasa sendiri, aku sekarang adalah teman sekaligus adiknya kakak. Suatu saat, kakak harus kembali sama orang tua kakak dan minta maaf sama mereka, jangan menghindari masalah seperti ini, ya," ucap Arina menasihati Tasya.


Tasya langsung memeluk Arina. "Makasih, Rin. Kakak janji, setelah kakak tenang dan bisa melupakan semuanya, kakak akan kembali dan minta maaf sama mereka," ujar Tasya.


Arina membalas pelukan Tasya. "Iya, Kak. Sekarang kakak jangan sedih lagi, ya? Dan, kalo mau curhat, kakak bisa kok curhat sama Rina, pasti Rina dengerin, hehe."


"Iya, makasih, ya. Kamu juga, kalo mau curhat sama kakak, curhat aja kok," ucap Tasya sambil melepas pelukannya. Arina hanya mengangguk menanggapi apa yang Tasya katakan barusan.


Author ada puisi, nih. Maaf kalo kurang bagus, hehe.


Air mata


Tetesan demi tetesan kau jatuh


Menggambarkan hatiku yang terluka karena cinta yang rapuh


Terkadang, aku tak ingin kau jatuh


Karena aku tak mau dianggap lemah karena runtuh


Bayangan rasa pilu terus terngiang


Selalu berputar-putar menunjukkan kenangan


Ohh, air mata ....


Terimakasih karena telah menggambarkan isi hatiku


Membuatku tenang ketika kau membasahi pipi