CEO Girl VS CEO Boy

CEO Girl VS CEO Boy
Penderitaan Arina



Plak!


Sebuah tamparan keras mendarat di pipi mulus Arina. Arina hanya diam sambil menahan tangisnya.


"Awas, ya, kalo kamu berani tidur di ranjang!" bentak seorang laki-laki, yang tak lain adalah Faris, kakak sulung dari Arina.


Dengan rasa benci, sakit, dan marah, Arina mengangguk mengerti.


Faris keluar dari kamar ... bukan! ruangan yang Arina tempati sebagai kamar, lebih layak di sebut gudang. Tak lama setelah Faris meninggalkan Arina yang masih terduduk sambil memegang pipinya yang ia duga pasti memar, datanglah kedua saudari Arina.


"Ckck! Mangkanya, kalau dibilangin tuh didenger! Kena tampar, kan? Rasain," ejek Dahira, setelah meludah ke arah Arina.


Dahira adalah adik bungsu dari ke-empat saudara tersebut.


"Heh! Jangan lupa, cuci baju aku yang warna biru kemarin. Nanti malem aku mau pake buat pergi ke pesta," titah Metta. Metta adalah anak ketiga, dan merupakan yang paling cantik. Usia Arina dan Metta hanya berbeda satu tahun, begitupun dengan Dahira dan Arina, usia mereka hanya berbeda dua tahun. Sedangkan dengan kakaknya yang paling tua dan laki-laki sendiri, Arina terpaut empat tahun.


Saat ini Arina telah duduk di kelas sembilan atau kelas terakhir dari SMP. Tahun depan ia akan naik ke SMA, masa dimana ia akan merasakan cinta monyet yang dirasakan oleh semua remaja seumurannya.


Walaupun kini usia Arina masih 13 tahun, tapi ia selalu mendapatkan juara di kelasnya, bahkan ia diperbolehkan melompat kelas seperti sekarang ini. Berbeda dengan kedua saudarinya, Metta dan Dahira sering dimarahi oleh guru karena malas, dan mereka juga pernah diturunkan kelas oleh guru pembimbing. Usia Metta dan Dahira memang berbeda satu tahun, tapi mereka menginjak kelas yang sama karena Metta pernah turun kelas waktu itu.


***


Arina menghela napasnya, ia sangat lelah saat ini. Ditambah lagi, sekarang ia sedang mencuci baju orang-orang di rumahnya menggunakan tangan.


Arina mulai mencuci baju yang jumlahnya tak sedikit itu menggunakan tangan. Padahal, ada mesin cuci yang terpampang jelas di dekat pintu kamar mandi. Ingin rasanya Arina menggunakan mesin cuci itu, tapi apalah daya, ia pasti akan dipukul oleh kakak sulungnya jika ia berani menggunakan barang itu.


Kadang Arina berpikir kalau kakaknya sungguh tak adil pada dirinya. Kedua saudarinya diasuh bak putri raja dan tak pernah mengerjakan urusan rumah, sedangkan dirinya? setiap hari setelah pulang sekolah ia harus mengerjakan semuanya, jika tidak ia pasti akan dipukul. Kakaknya itu memang ringan tangan pada dirinya. Sedangkan ibunya Arina? Wanita paruh baya itu tentu mendukung putra sulungnya dan kedua putri kesayangannya.


Saat sedang membilas pakaian, tiba-tiba sebuah suara keras memanggil Arina yang terlihat sangat kelelahan. "Rina!" teriak Feli. Feli merupakan ibu kandung dari Arina.


"Iya, Bu." balas Arina sedikit berteriak.


Dengan cepat, Arina mencuci tangannya yang masih dipenuhi busa, lalu berjalan cepat ke arah dapur.


Arina sampai dengan napas yang terengah-engah. "Kenapa, Bu?" tanyanya.


Feli menatap Arina dengan wajah kesal. "Lihat ini! Kamu lihat, 'kan? kenapa gak ada makanan sama sekali?! Saya lapar, cepat kamu masak," betak Feli.


Dengan gerakan cepat, Arina masuk ke dapur, dan mulai memasak untuk Feli ibunya.


***


Mungkin, ini adalah takdir yang harus aku jalani. Takdir yang harus aku terima untuk saat ini. Tapi, aku juga manusia dan punya batas kesabaran, aku bukan hewan yang bisa disiksa seenaknya.


-Arina Alania