
Kini, Arina sedang menuju jalan pulang. Seperti biasa, ia selalu berjalan kaki, walaupun kini ia sangat lelah.
"Hufftt ... capek banget," gumamnya. Terkadang ia iri dengan kedua saudarinya yang setiap hari diantar-jemput naik motor. Sedangkan dirinya? pagi-pagi sekali ia harus pergi bahkan tanpa sarapan agar ia tidak telat.
Entah kenapa, Arina sangat merindukan ayahnya. Ayahnya lah yang selama ini memanjakannya, walaupun Arina tak meminta. Dulu, waktu ia kecil dan masih duduk di bangku SD, ayahnya selalu mengantarkan dirinya pergi kesekolah. Setelah Arina turun dari motor ayahnya, lalu mencium punggung tangan ayahnya itu, ayah pasti selalu memberinya pesan-pesan yang berharga baginya.
"Belajar yang rajin, ya, Nak."
"Semangat belajarnya. Suatu hari nanti, kamu pasti akan sukses dan punya rumah yang mewah."
"Nak, kesuksesan itu bukan cuma berasal dari usaha. Tapi juga berasal dari restu dan do'a orang tua. Jadi, kamu harus menghormati gurumu, karena dia adalah orang tuamu di sekolah."
"Kalau ada yang menyakitimu, biarkan saja, jangan dibalas. Biarlah waktu dan Tuhan yang membalasnya, ya."
Arina akan terus mengingat semua pesan-pesan yang ayahnya sampaikan. Ia sangat butuh sosok orang seperti ayahnya saat ini. Tapi sepertinya, hanya dirinya sendirilah yang bisa menyemangatinya.
Tin! Tin!
Suara klakson mobil membuyarkan lamunan Arina. Gadis itu melihat pemilik mobil tengah berjalan ke arahnya.
"Rina," sapa seorang laki-laki yang baru turun dari mobil.
Arina nampak terkejut, lalu menatap laki-laki yang sedang berlari ke arahnya. "Kak Rafa," gumamnya pelan.
Rafa menampakkan senyumnya. "Kamu mau pulang, Rina? Bareng aja, rumah saya ngelewatin rumah kamu, 'kan," ucap Rafa.
"Pulang bareng? Mimpi apa aku, sampe ada pangeran yang mau nganterin pake kuda putih," batin Arina.
"Emhhh, gak usah, Kak. Rina pulang sendiri aja," tolak Arina dengan halus. Kalau boleh jujur, ia sangat gugup saat ini.
"Yakin? Hari ini panas banget loh, nanti kalo kamu pingsan gimana?"
"Sejak kapan dia perhatian sama orang lain? Bukannya kak Rafa itu orangnya sangat serius," batin Arina.
"I ... iya, Kak. Rina bisa pulang sendiri kok," ucap Arina.
"Hmmm, baiklah. Hati-hati, ya." Arina mengangguk pelan.
***
Setelah 20 menit berjalan kaki, Arina pun sampai dirumah. Ia melepaskan sepatu dan kaus kaki yang ia pakai, lalu masuk ke dalam rumah.
"Assalamu'alaikum," ucapnya saat memasuki rumah.
Baru satu langkah ia masuk, tapi kedua saudari dan ibunya menatap dirinya dengan tajam.
"Kamu sengaja, ya? Pulangnya dilama-lamain biar kamu gak ngerjain urusan rumah? Iya?!" ucap Feli.
"Nggak kok, Bu. Tadi Rina mampir ke musholla dulu, mangkanya sampe sini lama," tutur Arina.
"Alahh, alasan aja. Jangan percaya, Bu, pasti dia mampir dulu dan kumpul sama temen-temennya," timpal Dahira.
Arina menggeleng, mengisyaratkan bahwa yang dikatakan Dahira itu salah.
"Hukum aja, Bu. Nih, ya, kalo ibu biarin, nanti yang ada anak kesayangan ayah ini malah ngelunjak," ucap Metta.
"Benar juga. Sebagai hukuman, kamu gak ada jatah makan siang hari ini. Dan satu lagi, urusan rumah tetep kamu kerjakan, awas kalo sampe sore nanti belum selesai," ucap Feli.
Arina mengangguk pelan sambil tersenyum meledek. "Oke ibuku tersayang," ledek Arina.
Feli, Metta dan Dahira terlihat kesal dengan respon Arina. Dengan santai, Arina melewati kumpulan kuntilanak yang sedang terlihat kesal padanya.