
Arina meneteskan air matanya. "Ternyata ibu bukan ibu yang baik," gumamnya pelan.
Arina lekas berlari ke kamarnya, lalu membereskan semua pakaiannya. Ia sudah memutuskan bahwa dirinya akan pergi dari rumah ini. Ia sudah tak tahan dengan sikap keluarganya yang selalu memperlakukan dengan berbeda dan selalu saja membuatnya menderita.
Arina telah selesai membereskan barang-barang yang menurutnya penting. Ia pun segera kabur lewat jendela dengan perlahan. Ia memperhatikan sekeliling, berharap tidak ada yang akan melihatnya. Setelah aman, Arina langsung berlari menuju halaman depan. Arina melihat teman ibunya yang tadi sedang berpamitan untuk pulang pada ibunya, dan tak lama kemudian, ibunya kembali masuk ke dalam rumah.
"Oke, Arina. Kau sudah lama menginginkan untuk pergi dari rumah penderitaan ini. Dan sekarang, kau harus hati-hati, jangan sampai ketahuan," gumam Arina.
Gadis itu segera berlari dengan sekuat tenaga. Ia tak mau rencananya gagal kali ini. Sebenarnya, ini bukan pertama kali Arina kabur dari rumah. Beberapa tahun lalu, Faris, kakaknya Arina, menampar Arina hanya karena sebuah piring pecah karena Arina. Saat itu, Faris tak henti-hentinya menyiksa Arina hingga gadis itu mengalami luka lebam di sekujur tubuhnya. Dan yang membuat Arina benci dengan keluarganya adalah, saat Faris memukulnya, saudari-saudari dan ibunya malah membela Kakak sulungnya itu.
***
Saat ini Arina telah berhasil kabur, dan perlahan mulai menjauh dari daerah tempat tinggalnya. Arina sungguh bingung ia akan kemana lagi setelah ini. Gadis itu menatap kosong ke arah depannya, dan tiba-tiba, ia melihat seorang wanita yang sedang berjalan menenteng kantong kresek yang sepertinya berat, sehingga wanita paruh baya itu kesusahan.
Tanpa pikir panjang, Arina langsung menghampiri wanita itu. "Permisi, Bu," sapa Arina.
"Iya, Nak?" ucap ibu paruh baya tersebut.
"Ibu sepertinya kesusahan membawa belanjaan itu. Apa boleh saya membantu ibu?" tanya Arina.
Wanita itu tersenyum, "iya, Nak. Ibu memang kesusahan membawa barang sebanyak ini. Kalau hal itu tidak merepotkan kamu, ibu mohon bantuannya, ya," tutur ibu-ibu itu.
"Rina gak ngerasa direpotin kok, Bu. Rina bantuin, ya," ucap Arina. Lalu, dengan segera ia mengambil sebagian kantong kresek yang dibawa oleh ibu tersebut.
Mereka berdua berjalan, hingga sampailah di sebuah warteg, tapi warteg yang menjual aneka seafood ini, terlihat sangat mewah. Tempatnya sangat bersih, dan juga unik.
"Ayo kita masuk, Nak," ajak wanita itu. Arina menganggukkan kepalanya.
Mereka menuju ke dapur yang ada di warteg tersebut. Ternyata, saat Arina masuk lebih dalam ke dalam warteg itu terlihat sangat indah dan besar. Arina meletakkan barang belanjaan itu di atas meja yang berada di dapur.
"Makasih, ya, Nak Rina. Nak Rina sudah mau bantu ibu membawa belanjaan ini," ucap wanita itu.
"Iya, Bu, sama-sama. Oh iya, Bu, apakah di sini membutuhkan karyawan? Kalau iya, Rina mau melamar kerja di sini," ucap Arina.
"Sepertinya anak ini seumuran dengan putraku, tapi kenapa dia mau bekerja?" tanya wanita itu dalam hati.
"Maaf, Nak. Kalau ibu boleh tau, umur kamu berapa, ya?" tanya wanita itu.
"Usia Rina baru tiga belas tahun, Bu. Dua bulan lagi akan empat belas," jawab Arina.
"Masih muda sekali. Terus, kenapa kamu mau bekerja?"
"Rina butuh biaya untuk masuk SMA, Bu."
"Orang tua kamu mana?"
"Ayah Rina udah meninggal. Kalau saudara dan ibu Rina ...." Ucapan Arina terhenti, ia masih sakit ketika mengingat masa lalunya.
Wanita itu mengerti Arina butuh waktu untuk menjelaskan semuanya. "Baiklah, Nak. Jika kamu memang butuh pekerjaan ini, ibu akan menerimamu. Tapi, ibu minta pekerjaan ini jangan sampai menganggu sekolahmu, ya. Kamu boleh datang bekerja di sini setelah kamu pulang sekolah. Dan gaji kamu, ibu akan memberikan gaji dua juta lima ratus perbulannya, apa kamu keberatan?" tutur wanita itu.
Arina tersenyum senang. Ia tak mungkin keberatan dengan apa yang dikatakan oleh wanita paruh baya di depannya ini. "Rina gak keberatan kok, Bu. Terimakasih, ya, Bu."
"Oh iya, kenalin, nama ibu Zahra. Kalau kamu mau, kamu bisa panggil ibu, mama saja, ya," ucap Zahra sambil tersenyum.
"Iya, Mama." Arina tersenyum kikuk. Sejujurnya, ia tak biasa dengan panggilan mama itu.