
Arina sangat senang berada di sekolah ketimbang di rumah. Karena, di sekolah ini, ia memiliki sahabat yang sangat baik pada dan perhatian padanya, tak seperti semua keluarganya.
Saat ini, Arina dan Linda tengah menyelesaikan catatan yang disuruh oleh guru. Padahal guru menyuruhnya untuk mengerjakan catatan itu setelah jam istirahat, tapi mereka tetap bersikeras untuk melakukanya, karena jika bisa sekarang kenapa harus nanti.
"Lin, aku ke toilet sebentar, ya?" ucap Arina.
Linda mengangguk dengan mata yang masih fokus untuk mencatat. Arina tersenyum melihat sahabatnya yang sangat rajin.
Arina berjalan keluar kelas, dan menuju ke WC. Saat hendak menuruni tangga, ia bertemu kedua saudarinya yang sedang menikmati bekal makan siang. Arina tak memperdulikannya, ia langsung melewati kedua saudarinya itu. Bukan Dahira dan Metta namanya jika mereka tak jahil. Dengan sengaja, mereka berdua menselonjorkan kaki mereka agar Arina tersandung. Dan benar saja, Arina tiba-tiba tersandung.
"Akhh ...," ringisnya saat hendak jatuh.
Arina memejamkan matanya, pasrah akan apapun yang terjadi padanya nanti. Merasakan tak ada pergerakan pada tubuhnya dan ia juga tak jatuh, Arina membuka matanya, dan terlihatlah sosok laki-laki yang diidolakan kaum hawa di sekolah ini.
"Kamu gak papa? Ada yang luka?" tanya laki-laki itu.
Arina menggeleng, ia masih mencerna apa yang barusan ia alami. Arina sadar posisinya sangat memalukan saat ini, ia terlihat seperti sedang dipeluk oleh Rafa. Rafa memang sangat populer di sekolahnya. Bukan hanya karena kekayaannya, tapi juga ia sangat tampan dan pintar. Karena itulah Rafa menjadi rebutan para kaum hawa.
Arina segera berdiri. Ia sangat malu, apalagi semua siswa sedang menatap ke arahnya saat ini. Bahkan ada di antara mereka yang terlihat heboh.
"Ya ampun, si Arina beruntung banget bisa dipeluk sama Rafa yang ganteng itu."
"Alahh, palingan cuma modus aja."
"Aku juga pengen dipeluk."
"Terimakasih, Kak Rafa. Arina permisi dulu," ucap Arina. Karena telinganya sudah panas mendengar ocehan para netizen yang seperti kehausan akan gosip.
Rafa menatap kepergian wanita yang baru saja ia tolong. Wajah cantik wanita itu terus memenuhi pikirannya.
Dion, sahabat Rafa, menepuk pelan pundak Rafa yang sedari tadi menatap punggung Arina yang mulai menjauh. "Kalo lo suka, tembak aja bro. Mana Rafa yang pemberani? Masa nembak cewek aja gak bisa," ledek Dion.
"Iya, Bro. Kalo tuh cewek diambil cowok lain, ntar lo nyesel lagi. Gue aja nih, rasanya pengen nembak tuh cewek sekarang," timpal Nino.
Rafa, Dion dan Nino, memang sudah bersahabat sejak SD, orang tua merekapun sangat dekat satu sama lain. Dion dan Nino sangat mengenal sahabatnya itu, Rafa adalah tipe orang yang sulit jatuh cinta. Tapi sekarang? Gadis sederhana dan cantik seperti Arina, telah merebut hati seorang Rafa.
"Paan sih lo, Nin. Main nembak anak orang aja, kalo dia mati masuk penjara lo." Dion dan Nino saling menatap, lalu senyum jahil nampak jelas tercetak di wajah mereka.
"Ekhmmm, orang jatuh cinta gini amat, ya? Kirain seorang Rafa akan jatuh cinta saat udah SMA, tapi sekarang? Seorang Arina mampu meruntuhkan tembok yang ada di hati Rafa dengan mudah," ledek Dion.
Rafa menatap tajam kedua sahabatnya. Dion dan Nino berusaha menahan tawanya saat melihat ekspresi Rafa.
Rafa yang terlihat kesal, langsung melangkahkan kakinya meninggalkan Dion dan Nino yang sedari tadi terus menggodanya.
"Fa, lo gak mau gue mintain nomor HPnya, ya?" teriak Nino, karena jaraknya dan juga Rafa sudah cukup jauh. Rafa tak merespon, ia terus melanjutkan langkahnya.
"Hahah ...." Tawa keduanya pecah seketika. Jarang-jarang mereka bisa menggoda seorang Rafa yang dikenal sangat serius.