
Setelah 10 menit Arina berada di dapur, kini ia telah menyajikan sepiring nasi goreng untuk ibunya.
Arina meletakkan piring yang berisi nasi goreng di atas meja makan. "Rina nyuci dulu, ya, Bu."
Setelah mengucapkan itu, Arina langsung pergi dari hadapan ibunya. Arina kembali melanjutkan mencuci baju. Keringat terus bercucuran membasahi pelipis dan di sekitaran lehernya.
"Alhamdulillah," ujarnya, karena ia sudah selesai mencuci baju, dan sekarang tinggal menjemur semua pakaian itu.
"Ayo, Rina. Kamu harus cepet selesain ini, abis ini kamu harus ngerjain tugas sekolah," gumamnya.
Dengan terburu-buru, Arina mulai menjemur pakaian yang masih setengah kering. Dahira dan Metta melihat saudarinya itu sedang menjemur, tiba-tiba memiliki ide untuk menjahili Arina.
Dahira dan Metta tersenyum sinis, lalu mereka pura-pura bermain kejar-kejaran dan dengan sengaja menendang keranjang yang berisi pakaian kering yang baru saja diangkat oleh Arina.
Dahira tersenyum sinis, didetik kemudian ia mengubah raut wajahnya. "Ya ampun, maaf, ya, Kak. Kami nggak sengaja jatuhin baju-baju itu. Emmm ... kelihatannya baju itu kotor deh, kakak harus cuci lagi," ucap Dahira.
"Iya, Kak. Sebaiknya kakak cuci lagi baju itu, nanti kalo ibu dan kak Faris tau, kakak bisa dimarahin loh," timpal Metta.
Arina hanya diam, ia sudah sangat hapal semua sikap keluarganya. Dan ia yakin sekali, Dahira dan Metta sengaja melakukan itu.
"Baiklah, kalian ingin bermain-main denganku rupanya. Tenang, akan-ku ladeni kalian," ucap Arina dalam hati.
"Ohh, tidak apa-apa adik-adikku yang cantik. Mencuci baju itu enak loh, bisa main air, dan basah-basahan sepuasnya. Apalagi kalau busa di air cuciannya banyak, kakak bisa merendam kaki kakak. Kalau orang yang sering mencuci baju, pasti tau rasanya gimana," ledek Arina.
"Sial! berani sekali wanita ini," kesal Metta dalam hati.
Dahira tersenyum sinis, sambil melipat tangannya di dada. "Ckck! Ternyata dia sudah melunjak," ucapnya dalam hati.
Dengan senyum penuh kepuasan, Arina kembali masuk dan membawa pakaian yang kotor karena ulah saudari-saudarinya. Ia sangat suka melihat kedua adiknya itu terpojok.
***
Arina telah rapi dengan seragam putih biru yang cukup lusuh. Tapi bukan Arina namanya jika ia tak cerdik, Arina merendam baju itu menggunakan pemutih hingga bajunya kembali bersih dan tak lusuh lagi.
Waktu telah menunjukkan pukul 06.00, Arina telah berangkat ke sekolah tanpa sarapan. Karena dari dulu ia memang tak pernah sarapan, ibunya melarang dirinya untuk sarapan sebelum berangkat. Berbeda dengan kedua saudarinya, mereka berdua selalu dipaksa untuk sarapan dan dibawakan bekal makan siang, bahkan diberi uang saku. Arina memang tak pernah diperlakukan dengan baik oleh keluarganya.
Arina berjalan kaki ke sekolah, karena itulah ia berangkat lebih pagi dari kedua saudarinya. Adik-adiknya itu diantar ke sekolah menggunakan motor gede milik kakaknya yaitu kak Faris.
Kini, Arina telah sampai di depan kelasnya. Terlihatlah sahabatnya sedang bermain ponsel dengan handset yang tertancap pada kedua lubang telinganya.
"Assalamu'alaikum, Sayang," sapa Arina.
"Waalaikumsalam. Ahh, sayang, aku kangen tau. Eh, iya, kamu udah ngerjain PR?" ucap Linda.
"Alhamdulillah belum."
"Hilihhh! kirain udah."
Arina menggaruk tengkuknya yang tak gatal. "Hehehe, bercanda, aku udah kok."
Tak lama kemudian, bel pun berbunyi. Selang beberapa menit, datanglah seorang guru yang susah siap untuk memulai pelajaran hari ini.
***
Aku suka kesendirian. Karena saat aku sendiri, aku bisa melakukan apapun yang aku mau, termasuk untuk menangis sejadi-jadinya dan meratapi nasib buruk yang harus aku jalani.
~Arina Alania