CEO Girl VS CEO Boy

CEO Girl VS CEO Boy
Kangen ayah 2



Hari ini, setelah Arina pulang sekolah, ia berencana ingin mengunjungi makam ayahnya. Sudah lama ia tak pergi ke sana karena setiap setelah pulang sekolah ia harus cepat pulang jika tak ingin dimarahi oleh ibunya. Karena hari ini hanya pengumuman kelulusan, jadi ia bisa pulang lebih awal dari biasanya.


Arina sedang berjalan menuju tempat pemakaman umum. Ada banyak orang yang sedang berjualan bunga, atau bahkan sedang mengunjungi kerabatnya yang sudah meninggal.


Kini, Arina telah berdiri di depan makan ayahnya yang dipenuhi rumput-rumput liar. Dengan segera, Arina mencabut rumput itu. Setelah makan itu bersih, Arina mengusap batu nisan ayahnya dengan rasa rindu yang memenuhi dadanya. Ia rindu, sangat-sangat rindu pada ayahnya.


Arina tersenyum menatap nisan itu. "Assalamu'alaikum, Ayah. Rina dateng, ayah baik-baik aja di sana, 'kan? Rina janji, Rina akan memenuhi keinginan ayah yang terakhir," ucapnya sendu.


"Rina, jika kamu merasa menderita dengan hidupmu, pergi saja. Pergi saja ke tempat dimana kamu merasa nyaman. Ayah tau, saudara dan ibumu itu tak suka denganmu karena kamu paling baik di antara saudaramu. Jika mereka sudah keterlaluan padamu, pergi saja, Nak. Kamu harus buktikan pada mereka, bahwa kamu akan sukses suatu saat."


Arina tersenyum ketika mengingat pesan terakhir yang ayahnya sampaikan. Semua pesan itu akan Arina ingat seumur hidupnya.


"Ayah, do'akan Rina, ya. Supaya Rina bisa melewati semua ini," ucap Arina.


***


Arina sedang dalam perjalanan untuk kembali ke rumah. Ia cukup cemas, karena sekarang sudah pukul 14.00. Ia sudah pasrah jika nanti di marahi oleh ibunya.


Dengan perlahan, Arina melangkahkan kakinya masuk ke dalam rumah, dan ternyata tak ada orang di rumahnya. Tentu saja Arina bingung akan hal itu.


Arina segera mengganti bajunya, lalu pergi ke halaman belakang untuk menyiram tanaman. Tapi tiba-tiba, langkahnya terhenti saat melihat ibunya berbicara dengan seorang ibu-ibu yang sepertinya berasal dari keluarga berada.


Arina penasaran apa yang dibicarakan oleh ibunya. Lantas, Arina sedikit menguping pembicaraan itu.


"Iya sih, Jeng. Sekarang saya lagi butuh pembantu. Oh iya, siapa tadi nama anak dari pembantunya jeng Feli?" tanya Nini.


"Arina, namanya Arina, Jeng."


"Ohh, kalau gitu, nanti saya transfer uang gaji untuk Arina, ya. Kalau kerja Arina bagus, saya akan tambahin uangnya. Arina ada nomor rekening, Jeng?"


"Gak ada, Jeng. Atau gini aja, jeng Nini transfer di saya aja gajinya. Nah, nanti uang itu akan saya kumpulin buat biaya sekolah Arina," tawar Feli.


"Oke, Jeng. Saya langsung transfer dia juta, ya." Nini langsung mentransfer uang dari telepon canggih yang ia miliki.


Feli tersenyum karena uang trasferan itu sudah masuk di rekeningnya. "Sudah masuk, Jeng."


"Iya, Jeng. Semoga Arina bisa melanjutkan sekolahnya, ya."


"Amin, Jeng."


Feli dan Nini kembali mengobrol. Sedangkan di sisi lain, Arina sangat syok dengan apa yang baru saja ia dengar.


Arina meneteskan air matanya. "Ternyata ibu bukan ibu yang baik," gumamnya pelan.


Arina lekas berlari ke kamarnya, lalu membereskan semua pakaiannya. Ia sudah memutuskan bahwa dirinya akan pergi dari rumah ini. Ia sudah tak tahan dengan sikap keluarganya yang selalu memperlakukan dengan berbeda.