Can She Be Happy?

Can She Be Happy?
Loving (part 2)



"Sekarang sudah sangat malam. Jika kau sudah selesai cepat lah pulang" ucap Seoyeon.


"Kau mengusir ku?" Tanya Junghwan.


"Aku ingin istirahat. Cepatlah pulang" ucap Seoyeon mendorong Junghwan untuk keluar dari rumah nya. Junghwan hanya terkekeh gemas melihat Seoyeon yang memaksa nya untuk pulang.


Setelah Seoyeon mendengar suara mobil Junghwan sudah menjauh ia tiba-tiba saja menangis.


Ya Seoyeon memang selalu seperti itu. Saat kedua orang tuanya tiada dulu dia masih adalah anak kecil yang polos dan tidak mengerti apapun. Ia tidak pernah menangis saat kedua orang tuanya tiada, akhirnya sekarang ia selalu menangis saat membahas tentang orang tuanya.


*****


Junghwan sudah mendapatkan seluruh informasi tentang Seoyeon. Ia sedih mendengar bahwa kedua orang tua Seoyeon sudah tiada.


Saat ini Junghwan baru saja selesai meeting dan sedang berada di ruangan nya.


"Aku merindukan Seoyeon" gumam Junghwan.


Yang benar saja. Ia baru saja bertemu dengan Seoyeon tadi malam dan mengantarkan nya pulang. Mustahil jika dia sudah rindu pada Seoyeon yang mungkin saja sama sekali tidak memikirkan nya.


Junghwan akhirnya memutuskan untuk pergi ke tempat Seoyeon bekerja.


*****


"Seoyeon ada pengunjung yang datang" ucap Donghae menyuruh Seoyeon pergi ke meja tempat Junghwan duduk.


Seoyeon hanya memutar bola matanya malas kemudian pergi menghampiri Junghwan yang duduk sambil tersenyum penuh arti. Pria ini memang tidak ada bosan nya membuat Seoyeon kesal.


"Apa yang ingin kau pesan?" Tanya Seoyeon dingin.


"Ayolah jangan terlalu dingin padaku. Kau bisa bersikap ramah pada orang lain tapi tidak dengan ku" ucap Junghwan.


"Terserah diriku. Sekarang katakan kau ingin memesan apa atau aku akan menendang mu keluar dari sini" ucap Seoyeon.


"Aku sebenarnya tidak akan memesan apapun" ucap Junghwan yang membuat Seoyeon bertanya-tanya.


"Lalu untuk apa kau di sini? Sudah, pergi sana!!" Ucap Seoyeon menarik Junghwan untuk keluar dari sana.


"Hei Seoyeon ada apa? Kenapa kau mengusir pelanggan kita?" Ucap Donghae.


"Aku benar-benar selalu di buat kesal olehnya. Sebaiknya kau jangan pernah membiarkan nya masuk ke kafe ini jika dia tidak memesan apapun" ucap Seoyeon.


"Seoyeon-ssi kenapa kau seperti itu pada kekasih mu sendiri eoh? Jika kalian memang ada masalah sebaiknya bicaralah baik-baik" ucap Donghae.


"Ah, tidak apa-apa. Aku sudah terbiasa dengan sikap kekasih ku ini. Seoyeon memang selalu marah-marah jika kami sedang bertengkar" ucap Junghwan.


"Apa? Ke-kekasih?" Ucap Seoyeon tidak percaya dengan apa yang baru saja ia dengar.


"Kau pasti terkejut aku mengetahui nya. Kenapa kau menyembunyikan rahasia besar dariku? Aku akan sangat mendukung mu jika kau sudah memiliki kekasih. Apalagi CEO tampan sepertinya" ucap Donghae.


"Tunggu kami tidak-" ucap Seoyeon yang terpotong oleh perkataan Donghae.


"Sudahlah tidak perlu menyembunyikan nya lagi. Aku sudah mengetahui semuanya. Tenang saja, aku tidak akan marah. Sekarang pergi lah dengan kekasih mu itu" ucap Donghae mendorong Seoyeon ke ruang ganti untuk mengganti pakaian nya.


"Tapi kau harus mendengar penjelasan ku dulu" ucap Seoyeon mencoba menjelaskan tapi tidak di kubris oleh Donghae.


*****


Saat ini Seoyeon sedang berada di mobil Junghwan dengan Junghwan tak henti-hentinya tersenyum penuh kemenangan karena berhasil meyakinkan pada semua orang bahwa Seoyeon adalah kekasih nya.


Tentu saja Seoyeon sangat kesal pada Junghwan. Bagaimana tidak? Mengenal nya saja baru semalam dan hari ini sudah diaku-akui sebagai kekasih nya.


"Kenapa kau mengatakan kebohongan seperti itu pada manajer Donghae? Sedangkan kita tidak memiliki hubungan apapun" ucap Seoyeon.


"Aku tidak berbohong" ucap Junghwan fokus menyetir dan menghentikan mobil nya saat lampu merah.


"Kita akan segera menjadi sepasang kekasih" ucap Junghwan.


"Ck jangan harap aku akan mencintai pria seperti mu" ucap Seoyeon memalingkan wajah nya ke luar jendela mobil.


"Jangan terlalu yakin Seoyeon-ssi. Aku bisa saja membuatmu jatuh cinta padaku" ucap Junghwan percaya diri dan kembali menjalankan mobil nya saat warna lampu sudah berubah menjadi hijau.


"Kita akan pergi kemana?" Tanya Seoyeon dengan tatapan sinis nya pada Junghwan.


"Pergi ke tempat yang akan kau sukai" ucap Junghwan.


Tidak lama kemudian Junghwan menghentikan mobil nya di suatu tempat, taman hiburan.


Junghwan membuka kan pintu untuk Seoyeon yang tatapan nya sudah berubah menjadi penuh pertanyaan dan kebingungan. Seoyeon masih bertanya-tanya kenapa Junghwan membawa nya kesini?


"Kenapa kau membawa ku kesini?" Tanya Seoyeon dingin.


"Kau masih saja dingin padaku. Apa perlu ku katakan pada semua orang bahwa kau adalah kekasih ku?" Ucap Junghwan.


"Kau benar-benar ingin membuatku meledakkan amarah ku padamu?!" Kesal Seoyeon.


"Kalau begitu ledakkan saja. Sebesar apa ledakan amarah mu itu? Apakah bahkan bisa menghancurkan dunia?" Bukan nya menghentikan candaan nya, Junghwan malah melanjutkan nya karena menurut nya membuat Seoyeon marah itu sangat menyenangkan.


Seoyeon yang mulai kesal pun menjauhi Junghwan dan duduk di salah satu kursi yang ada di taman itu.


Junghwan yang melihat Seoyeon mulai kesal itu langsung menghampiri Seoyeon dan duduk di sebelah nya.


"Kau sangat kesal? Maaf" ucap Junghwan.


Seoyeon sedikit terkejut dengan perkataan Junghwan. Ia sungguh tidak mengira bahwa kata maaf bisa keluar dari mulut pria sepertinya.


"Aku lapar. Ingin makan siang bersama?" Tanya Seoyeon mencoba mengalihkan pembicaraan yang di balas anggukkan oleh Junghwan.


"Aku tau restoran yang masakan nya enak di sekitar sini" ucap Junghwan menarik tangan Seoyeon ke suatu restoran.


Saat sampai di depan restoran, Seoyeon terdiam sejenak. Restoran ini sangat berbeda dengan yang ia pikirkan.


Seoyeon pikir Junghwan akan mengajak nya makan di restoran yang sangat mewah karena Junghwan seorang CEO. Ternyata dia mengajak Seoyeon ke restoran yang biasa saja bahkan bisa di bilang sangat sederhana di pinggir jalan.


Restoran yang kelihatannya sudah sangat tua. Bahkan tidak banyak orang yang datang ke sana.


"Apa yang kau tunggu? Ayo masuk" ucap Junghwan menarik tangan Seoyeon lagi untuk masuk.


"Aku bisa jalan sendiri, berhenti menarik tangan ku" ucap Seoyeon menarik tangan nya dari Junghwan.


"Kau sudah datang Junghwan? Sudah lama sekali kau tidak datang ke sini" ucap seorang wanita paruh baya yang datang menyambut Junghwan.


Sepertinya dia pemilik restoran ini.


"Maaf, aku sedikit sibuk dengan pekerjaan ku. Itu sebabnya aku jarang sekali datang ke sini" ucap Junghwan.


"Eoh? Siapa gadis cantik di samping mu itu?" Tanya wanita paruh baya itu.


"Ah, dia– arghh" Junghwan meringis kesakitan karena Seoyeon menginjak kaki nya.


"Aku Seoyeon dan hanya teman nya saja" ucap Seoyeon dengan senyum ramah nya.


Sebelum Junghwan mengatakan pada wanita paruh baya itu bahwa Seoyeon adalah kekasih nya, lebih baik Seoyeon memperkenalkan dirinya sendiri.


"Oh, begitu ya. Ayo duduk lah, aku akan menyiapkan makan siang untuk kalian" ucap wanita paruh baya tersebut kemudian pergi ke dapur.


"Aish, kaki ku sangat sakit. Kenapa kau menginjak kaki ku eoh?" ucap Junghwan duduk di sebelah Seoyeon sambil memegangi kaki nya yang masih sakit.


"Lalu jika aku tidak menginjak kaki mu maka kau akan mengatakan pada ahjumma¹ itu bahwa kita adalah sepasang kekasih, begitu maksudmu?" ucap Seoyeon sedangkan Junghwan hanya terkekeh kecil.