Can She Be Happy?

Can She Be Happy?
Loving (part 1)



Hidup dengan penuh kesepian.


Itulah yang dirasakan Park Seoyeon. Gadis yang tinggal sendirian di pinggir kota tanpa ada orang tua di sisinya.


Kedua orang tuanya tiada saat Seoyeon masih begitu kecil karena sebuah kecelakaan.


Walau begitu, senyum nya tidak pernah luntur.


Ia di besar kan oleh bibi nya namun beberapa minggu lalu bibi nya harus pergi ke luar negeri untuk mengurus bisnis nya. Jadi Seoyeon tinggal sendiri sekarang.


Setiap hari ia bekerja di sebuah kafe. Pendapatan nya memang sedikit tapi itu cukup untuk memenuhi kebutuhan keseharian nya.


"Eoh, kau sudah datang Seoyeon-ssi" ucap Donghae, manajer di kafe tempat Seoyeon bekerja.


"Ya, apa ada yang perlu ku bersihkan?" Tanya Seoyeon baru saja sampai.


"Tidak ada, kerjakan saja pekerjaan mu. Itu bisa di urus pelayan yang lain" ucap Donghae.


"Baik" ucap Seoyeon membungkuk kan badan dan Donghae berlalu pergi.


Seoyeon akan bertanya pada pengunjung kafe apa yang ingin mereka pesan dan kemudian mengantarkan makanan yang di pesan ke meja yang pengunjung tempati. Itulah pekerjaan nya.


Hingga terdapat seorang pria yang masuk ke kafe tersebut. Penampilan nya cukup mewah dengan jas yang ia kenakan. Pria itu pasti seorang pengusaha besar atau CEO. Seoyeon yang melihat ada pengunjung baru pun menghampiri nya.


"Apa yang ingin anda pesan?" Tanya Seoyeon sopan, tidak lupa dengan senyum ramah nya.


"Secangkir kopi tanpa gula" ucap pria tersebut.


"Hanya itu?" Tanya Seoyeon.


"Memang nya berapa banyak yang harus ku pesan" ucap pria itu.


"Aku hanya bertanya saja tuan" ucap Seoyeon sedikit kesal kemudian berlalu pergi.


..."Sudah di layani tidak tau berterima kasih. Dasar pengunjung yang menyebalkan"...


Ucap Seoyeon dalam hati dengan perasaan kesal dan berjalan ke dapur untuk memberitahu pesanan yang dipesan tadi.


"Seoyeon-ssi, antarkan ini" ucap pelayan lain memberikan secangkir kopi dari dapur.


"Kau saja yang mengantarkan pada nya" ucap Seoyeon


"Benarkah? Kau tidak ingin mengantar ini pada CEO tampan itu?" Tanya pelayan wanita itu pada Seoyeon. Sedangkan Seoyeon hanya memutar bola mata malas.


Tentu saja Seoyeon sangat kesal dengan pria tadi. Selama ia bekerja di kafe itu hanya pria tadi lah satu-satunya orang yang berani mengatakan itu pada Seoyeon.


"Kau saja yang mengantarkan nya. Aku sedang pusing" ucap Seoyeon


Sedangkan dari kejauhan, tanpa Seoyeon sadari pria tadi terus menatap Seoyeon tanpa mengalihkan pandangannya sedikit pun.


..."Kurasa dia tidak buruk juga"...


...Ucap pria tadi dalam hati....


Malam hari telah tiba tapi gadis itu masih bekerja di kafe.


"Seoyeon, kami pulang duluan ya" ucap teman-teman nya. Dan Seoyeon hanya mengangguk. Seoyeon memang seperti itu pada semua orang. Dia hanya akan berbicara jika memang perlu.


"Kau jangan lembur sampai terlalu larut" ucap teman nya.


"Iya" jawab Seoyeon singkat.


Akhirnya sudah pukul setengah sebelas malam dan Seoyeon pun pulang.


Hari yang sangat melelahkan.


Seandainya kedua orang tuanya tidak mengalami kecelakaan dulu, Seoyeon pasti tidak perlu bekerja sampai seperti ini.


Seoyeon benar-benar merindukan kedua orang tuanya.


"Hei, kenapa kau berdiri di tengah jalan? Apa kau ingin ku tabrak?" Ucap pria itu. Suara itu terdengar familiar dan Seoyeon melihat pria tersebut.


"Kau...." Ucap Seoyeon terhenti.


"Ah kau pelayan di kafe tadi kan?" Ucap pria itu mengenali Seoyeon.


"Kau pengunjung kafe yang menyebalkan tadi" ucap Seoyeon masih sedikit kesal dengan kejadian tadi pagi.


"Ngomong-ngomong sedang apa kau malam-malam begini?" Ucap pria itu.


"Aku baru selesai bekerja dan ingin pulang ke rumah ku" ucap Seoyeon.


"Kau bekerja sampai selarut ini?" Pria tersebut mengerut kan kening nya sambil menatap ku heran.


"Kau sendiri juga pasti baru saja selesai bekerja. Sudahlah, aku ingin segera sampai ke rumah. Aku sangat lelah hari ini" ucap Seoyeon ingin beranjak pergi dari sana.


Baru beberapa langkah Seoyeon berjalan, pria tadi langsung menahan tangan Seoyeon.


"Mau ku antar?" Tawar pria itu.


"Tidak, aku tidak yakin kau adalah orang yang baik" ucap Seoyeon ingin menolak tawaran pria itu.


"Aku bukanlah orang seperti yang kau pikirkan. Kau yakin tidak ingin ku antar? Akan lebih cepat jika ku antar daripada pulang berjalan kaki" Ucap pria itu.


Seoyeon berpikir sejenak dan karena merasa sangat lelah akhirnya ia mengangguk kecil menerima tawaran pria tersebut.


Di dalam mobil, suasana nya sangat hening. Hingga pria tadi mencoba memecahkan keheningan itu.


"Siapa namamu?" Tanya pria tadi. Sebenarnya dia sudah tau sejak awal karena tertarik pada Seoyeon jadi dia mencari informasi tentang Seoyeon.


"Park Seoyeon" jawab Seoyeon singkat dan pria tadi mengangguk.


"Aku Lee Junghwan. Ini kartu namaku. Telepon saja aku jika kau butuh sesuatu" ucap Junghwan.


"Aku tidak akan pernah menelepon mu" ucap Seoyeon mengalihkan pandangan nya ke luar jendela.


Dan setelah itu perjalanan kembali hening. Junghwan melirik Seoyeon sekilas kemudian kembali fokus menyetir.


Tidak lama kemudian mereka sudah sampai di rumah Seoyeon. Junghwan sebenarnya sedikit tidak percaya bahwa ini adalah rumah Seoyeon. Rumah yang sangat sederhana tapi terawat dengan baik.


..."Apa ini benar-benar rumahnya? sangat bersih walaupun sangat sederhana"...


Ucap Junghwan dalam hati sambil memperhatikan rumah Seoyeon.


"Kau mau mampir?" Tanya Seoyeon. Setidaknya dia harus membalas kebaikan Junghwan walau mungkin balasan nya ini kurang menarik.


"Tentu" jawab Junghwan dengan mata berbinar. Ia mulai tertarik untuk mengenal gadis itu lebih jauh lagi.


Seoyeon mempersilahkan Junghwan duduk di sofa ruang tamu dan dia membuat kan minuman.


"Kau ingin teh atau kopi?" Tanya Seoyeon.


"Teh saja" ucap Junghwan.


Teh yang di buatkan Seoyeon sudah tercium aroma nya padahal jarak dapur dan ruang tamu sedikit jauh. Tidak lama kemudian Seoyeon kembali dengan membawa secangkir teh yang ia buat.


"Kau tinggal di sini?" Tanya Junghwan kemudian menyeruput teh yang di buat Seoyeon.


"Ya, kau tidak percaya?" Tanya Seoyeon.


"Cukup mustahil jika kau tinggal di sini" ucap Junghwan.


"Ini adalah tempat yang paling ku sayangi. Banyak kenangan ku bersama dengan kedua orang tuaku" ucap Seoyeon sedikit mengenang kembali masa lalu nya.


Memori yang indah selalu ada di rumah itu dulu. Saat kedua orang tua Seoyeon masih hidup.


Memang hanya itu satu-satunya tempat yang dapat menghibur Seoyeon yang sedang kelelahan atau sedang sedih.