
Ivyanne sudah selesai membereskan Micah dan Mason. Malam ini, ia pastikan dua bocah itu aman, karena dirinya akan tidur di kamar yang sama dengan si kembar. Ia tidak ingin Zach atau siapa pun menyalahkannya lagi karena kesalahan yang disengaja.
Seperti Ivana yang dengan sengaja memindahkan dua bocah itu ke taman, lalu Tatiana.
Tampaknya Tatiana terlalu mencintai Zach hingga takut kalau Ivyanne akan merebut hati pria itu. Atau itu bisa jadi hanya sebuah obsesi.
Baru saja Ivyanne hendak memejamkan mata, ia teringat kalau ponselnya tertinggal di kamarnya. Ivyanne membutuhkan benda itu untuk jadi alarmnya sebagai antisipasi.
Mungkin nantinya agak berisik bagi Micah dan Mason, tetapi ia akan mengakalinya nanti. Yang terpenting sekarang adalah mengambil benda itu dan menyiapkan di dekatnya.
Baru saja Ivyanne tiba di kamarnya, ia sudah dikejutkan dengan kemunculan Ivana yang secara tiba-tiba menampakkan wujud dan berbaring di atas ranjangnya.
“Astaga! Apa yang kau lakukan di kamarku, Ivana? Pergilah!” usir Ivyanne sembari mencari benda pipih miliknya.
“Ayolah, Ivy, jangan jahat padaku. Aku hanya datang untuk mengunjungi dua putraku. Dan ... memeriksa keadaanmu setelah serigala genit itu membuat masalah pagi tadi.”
“Bagaimana kau bisa tahu?”
Ivana mengedikkan bahu, kemudian bangkit dan berjalan ke arah Ivyanne yang masih sibuk mencari benda miliknya.
“Aku tahu apa saja, Ivy. Bahkan tentangmu.” Ia memandangi gadis di hadapannya dengan saksama. “Kau tahu, Ivy? Sepertinya kau punya kesamaan denganku. Nama kita hampir sama, lalu ... hm, tinggi badanku jauh melebihi dirimu—“
“Jangan body shaming! Katakan apa maumu?” potong Ivyanne, tak ingin mendengar omong kosong Ivana karena ia sangat lelah dan ingin segera berbaring.
Karena kehebohan pagi tadi, Ivyanne tidak jadi pergi ke kampus malah justru membereskan kekacauan yang ditimbulkan oleh Tatiana. Dan besok ia harus berangkat pagi sekali agar sebelum siang ia sudah tiba kembali di mansion Zach untuk melakukan pekerjaannya mengasuh Micah dan Mason.
“Ivy, benarkah kau tidak tertarik pada suamiku?” tanya Ivana penuh selidik.
Wanita itu sama sekali tidak cemburu, ia justru ingin tahu seberapa ketertarikan Ivyanne terhadap seorang pria. Seperti apa tipe gadis itu, juga fantasinya terhadap pria secara keseluruhan. Terlebih secara se*sual.
“Tidak. Kau sudah memperdayaku hingga terjerumus dalam percintaan kalian. Sudah cukup, Ivana!”
“Maafkan aku, Ivy. Aku terpaksa melakukan ini karena kami tidak bisa melakukannya jika tanpa tubuh inang. Dan aku sudah menceritakan segalanya karena aku percaya padamu.” Ivana terus mendekat pada gadis yang tengah sibuk sendiri mencari sesuatu.
“Ia sangat tampan, Ivy. Coba lihatlah dengan jelas! Kau yakin tidak ingin mencoba untuk ....”
Ivyanne berbalik hingga dirinya berhadapan dengan makhluk transparan di hadapannya. Menilik penampilan dan fisik Ivana yang masih begitu cantik, Ivyanne penasaran apa yang membuat wanita itu pergi meninggalkan Zach.
Apakah memang wanita itu adalah seorang hantu, ataukah ada yang melatar belakangi status kehidupannya saat ini?
“Aku tidak tertarik! Entah apa pun tujuanmu menjadikanku sebagai inangmu, aku tidak akan peduli. Yang pasti, aku tidak rela jika kau gunakan tubuhku untuk bisa bercinta dengan suamimu itu!”
Ivyanne keluar dari ruangannya dan kembali menuju kamar si kembar. Namun, Ivana masih mengikuti langkahnya hingga pintu kamar dibanting keras oleh Ivyanne.
Ivyanne masih mendengar perkataan terakhir dari Ivana saat itu dan tiap kalimat Ivana sukses mengganggu pikirannya.
***
“Kau mau ke mana, Ivy?” tanya Zach yang muncul tiba-tiba dan membuat Ivyanne nyaris terjingkat karena terkejut.
“Mengapa kalian suami-istri sangat mirip sayu sama lain? Suka mengagetkanku dengan kemunculan yang tiba-tiba.”
“Kau bertemu Ivana lagi?” tanya Zach yang kemudian bangkit dari duduknya. Ivyanne hanya mengangguk, membenarkan tas selempang yang tergantung di pundaknya. “Apa katanya?”
“Dia tidak berkata apa-apa dan aku tidak peduli. Kalian sudah mempermainkanku!”
Zach menunjuk wajahnya sendiri, tak percaya gadis yang merupakan pengasuh putranya dengan berani menjatuhkan kesalahan padanya.
“Mengapa aku? Aku bahkan tidak tahu kalau kau yang—mari kuantar kau ke kampus. Di hutan pinus dekat kampusmu sering didatangi sekawanan liar yang sangat meresahkan.”
“Ivy, kumohon, jangan membantah! Aku akan mengantar dan menunggu hingga kau selesai. Ayo, kita berangkat sekarang. Aku sudah meminta beberapa pelayan untuk mengawasi Micah dan Mason. Dan Tatiana, agar ia tidak membuat masalah lagi.”
Ivyanne mengangguk, kemudian tak bisa lakukan apa pun selain patuh dan ikut saja apa yang diminta oleh sang majikan. Asalkan bukan melayani hasratnya, Ivyanne tak masalah.
***
“Zach ....”
Tanpa perlu bertanya-tanya, Zach tahu betul siapa yang tengah memanggilnya dengan intonasi begitu mendayu.
Ia tak sabar bertemu sang istri, meski yakin tak akan bisa menyentuhnya, ia tetap bahagia. Namun, malam ini, bukan untuk bercinta, melainkan meminta penjelasan atas apa yang terjadi antara dirinya, Ivana, dan Ivyanne.
Zach bergegas masuk ke ruang pribadi Ivana, menemukan sang istri dengan gaun malam berbeda. Kali ini lebih cantrik lagi. Jangankan merobeknya, Zach mungkin tak akan menyentuh Ivana sama sekali.
“Kemarilah, sayang. Aku merindukanmu.” Ivana mendekat pada pria yang sudah berdiri tegak di ruangan itu—hanya mematung. Maka tak sabar, Ivana menghampirinya. “Ada apa, sayang?”
Ivana raih tengkuk Zach dan mengecup bibir pria itu dengan penuh damba. Ia ingin melepaskan hasratnya malam ini. Rindu dan tak sabar menanti momen di mana Zach akan mencumbuinya hingga meraih pelepasan berulang kali.
Tidak, tidak!
Sekali lagi, bukan itu tujuan Zach.
Pria itu menjauhkan wajahnya perlahan. Menatap sepasang bola mata hazel nan cantik milik sang istri, ia tak ingin menunda lagi. Apa yang terjadi selama beberapa waktu belakangan tak bisa lagi ia tolerir.
“Jelaskan padaku satu hal. Atau mungkin beberapa hal yang tidak kumengerti akhir-akhir ini.” Zach bertutur tegas. Ivana tak bisa mengelak, bahkan tak mau.
Ia menghela napas yang terdengar berat. Seberat itu memang beban mereka yang terpisah alam. Hanya mampu melepas hasrat dan rindu dengan menggunakan Ivyanne sebagai media. Itu sungguh kejam. Namun, Ivana terpaksa melakukan itu.
“Apa yang ingin kau tahu, Zach? Seharusnya kau yang lebih tahu tentang hal mistis dan takhayul,” jawabnya, tak lepaskan tatapannya pada bola mata gelap milik Zach.
“Mengapa Ivy? Tidakkah kau bisa melakukannya denganku tanpanya?”
Ivana menggeleng. Jelas tidak. Bahkan kali ini menyentuh pun tak akan lama. Hanya beberapa menit dan setelahnya, mereka tak akan lagi bisa bertemu.
“Tanyakanlah pada Ange, ia pasti akan menjelaskannya. Tak ada cara lain Zach, aku sudah mencobanya.”
Bahu Zach terkulai kala mendengar penjelasan Ivana. Ini sungguh tak masuk akal. Jauh lebih gila dibanding kehidupannya sebagai makhluk non-human.
“Aku mencintaimu, Zach. Aku ingin kembali bersamamu dan anak-anak kita. Aku sangat merindukan kalian.”
Zach masih tak bisa percaya. Ini kegilaan yang tak akan pernah bisa ia terima dengan nalarnya. Ivana memang selalu punya ide tak masuk akal, tetapi Zach tak pernah bisa menolaknya selama ini.
Lantas bagaimana dengan sekarang?
“Zach ... menikahlah dengan Ivyanne. Cintai dia.” Ucapan Ivana kali ini membuat Zach terenyak. Tak terima. Itu yang ia rasakan.
“Kau sudah gila, Ivana.”
“Memang. Aku gila dan terobsesi untuk kembali. Apa pun akan kulakukan agar aku bisa kembali berkumpul dengan kalian dan inilah satu-satunya cara.”
“Menikahinya? Lalu kau akan kembali menjadi manusia?”
Ivana menggeleng.
“Setidaknya aku bisa memakai tubuhnya untuk menikmati sentuhanmu dan memeluk putra-putraku, Zach.” Ivana terdiam sejenak. “Kumohon ... hanya ini harapanku padamu, Zach. Kumohon menikahlah dengan Ivyanne. Aku akan bicara juga dengannya. Dan setelah itu, kita akan bisa bersama.”