
“Jadi kau tidak berhasil mendapatkan gadis itu?” tanya seorang pria yang tampak berusia lima puluhan, pada pria lain yang berusia setengah dari usianya.
Pria muda itu menggeleng, agak takut, seolah pria di hadapannya yang kini tengah menatap ke luar jendela akan menghajarnya atas kegagalan misi yang dibebankan padanya.
Sebenarnya memang iya. Karena kini pria paruh baya itu telah berada tepat di hadapan pria muda itu dengan tangan mencengkeram batang tenggoroknya.
Pria muda itu tercekat, tetapi tak bisa berbuat apa-apa. Secara kekuatan, ia tentu saja kalah jauh dibanding sang tuan. Memang, ia hanyalah seorang emban, yang mendapatkan kehidupan karena belas kasih pria tua itu.
Jika bukan karena Alucard—pria paruh baya dengan tampilan ala duke pada abad pertengahan—maka ia mungkin sudah tak ada di dunia ini.
“Kau telah mengecewakanku berulang kali, Black. Aku tidak tahu apa yang harus kulakukan terhadapmu. Hanya membawa gadis tak berdaya saja kau tidak becus!” geramnya tanpa melepaskan cengkeraman dengan kuku panjang yang sudah menancap di permukaan kulit pria muda yang ia panggil Black.
“Maafkan aku, Alucard. Ia bukan gadis biasa. Bahkan manusia serigala itu tak berdaya melawannya.”
“Yeah, katakanlah begitu. Tapi justru karena ia bukan manusia biasa, aku memintamu membawanya kemari. Darahnya akan menjadi sumber kekuatan bagiku, Black. Apakah kau tahu itu, bodoh?!”
Napas Black tersendat, ia bisa saja mati untuk kedua kalinya kalau Alucard tak juga lepaskan jemari yang mencengkeram itu dari lehernya. Dan lagi, masih ada hari esok jika ia diberi kesempatan.
“Aku akan mencoba lagi, Alucard. Aku janji!”
Kalimat itulah yang pada akhirnya berhasil membuat kemarahan Alucard sedikit mereda. Ia kemudian melepaskan pria muda itu dari cengkeramannya dan membiarkannya menghirup udara dengan bebas, meski mereka tak membutuhkan udara sama sekali.
Mereka tak akan mati kecuali dimusnahkan. Dan tidak semudah itu. Apalagi Alucard, pimpinan mereka yang tak hanya abadi, tetapi juga memiliki kekuatan yang tidak bisa diremehkan.
Jika hanya menghadapi Zach, bukanlah hal sulit baginya. Namun, selama Zach berada di dekat penyihir kecil itu, tak akan mungkin untuk menumbangkannya.
Alucard berbalik, menatap Black dengan tatapan tajam menghunus.
“Lanjutkan misimu. Ini adalah kesempatan terakhir bagimu, jika kau tidak melakukan dengan baik, maka ucapkan selamat tinggal pada keluarga dan teman dekatmu. Pergilah!”
***
Ivyanne tidak tahu apa yang telah ia lakukan, karena begitu saja menerima lamaran Zach yang tentu saja itu atas pengaruh istri hantunya, Ivana. Ini sungguh keputusan besar, karena dengan Ivyanne menerima dan melakukan apa yang diinginkan Ivana, sama saja ia bersedia menjadi media bagi suami istri itu untuk bisa bersama.
Mengapa dunia begitu kejam dan cinta teramat menyakitkan?
Mereka yang saling mencintai justru terpisah oleh keadaan dan dirinya yang tidak cinta kini menjadi korban.
Lalu, membayangkan bagaimana jadinya nanti saat ia telah menjadi istri Zach, tentu saja membuat Ivyanne bergidik. Itu sama artinya ia akan menjadi istri seorang siluman.
Ivyanne berjalan mondar-mandir memikirkan kemungkinan apa saja yang akan terjadi selama dirinya menjadi istri Zach dan itu semua tak bisa ia terima dengan nalarnya yang hanya setipis tissue.
Setelah mendengar cerita Zach dan Ivana bahwa ia bisa melayang dengan tampilan mengerikan, lalu mengeluarkan kekuatan seperti penyihir, kini ia dihadapkan pada permasalahan yang lebih kompleks.
Ivyanne terjingkat dan nyaris mengeluarkan kekuatan sihir lainnya saat ia sadari Ivana sudah berada di ruangan tempat dirinya berada saat ini.
Ivana yang semula tiduran di atas ranjang Ivyanne, lantas bangkit dan menghampiri Ivyanne.
“Dengar, Ivy. Aku bisa saja mengatakan alasan mengapa aku memilihmu. Namun, aku yakin kau tidak akan siap untuk itu. Karena ada banyak hal yang juga menjadi pertanyaanku selama ini, mengapa takdir seolah mempermainkan Zach dan aku? Ia sudah mencintai dengan tulus, seperti kutukan yang diucapkan oleh Ivory, tetapi mengapa?”
Ivory? Mendengar nama itu Ivyanne seperti tertegun untuk sesaat. Ia tak asing dengan nama Ivory yang ia sendiri tak pernah tahu apa dan siapa karena ia sudah sebatang kara sejak lama.
Hanya sang nenek yang mengasuhnya hingga kemudian ia meninggal setahun yang lalu dan tak ada cerita apa pun yang pernah ia dengar mengenai Ivory, tetapi terasa begitu lekat seolah nama itu merupakan bagian dari dirinya.
Dan ... kata mereka—Zach dan Ivana—Ivyanne sempat menyebut bahwa Zach pantas mati. Apa yang terjadi sebenarnya?
“Aku merasa tak asing dengan nama itu. Siapa dia?” tanya Ivyanne, penuh rasa ingin tahu. Ivana menyunggingkan senyum sesaat sebelum kemudian ia menceritakan segalanya pada Ivyanne.
Dan gadis cerdas itu langsung mengerti mengapa Ivana memilihnya sebagai media.
“Ivana, tidakkah kau merasa cemburu jika suamimu melakukannya denganku?” tanya gadis itu kemudian.
Ivana menggeleng.
“Aku pernah merasa demikian. Beberapa waktu sebelum memilihmu. Aku tidak rela. Namun, ketika pertama kali aku menjadikanmu sebagai media—maafkan aku sebelumnya, saat itu aku merasa kaulah yang sesuai untuk ini.”
Ivana kemudian meraih jemari tangan Ivyanne lantas menggenggamnya dengan lembut sebentar, Ivyanne bisa rasakan itu. Namun, dalam hitungan detik, Ivana tak lagi mampu menyentuhnya. Ia kembali berubah transparan.
“inilah sebabnya mengapa aku membutuhkanmu. Aku sudah mencoba semua wanita, tak ada satu pun yang sesuai. Kumohon Ivy ....”
“Tapi aku tidak mencintainya. Bagaimana dengan kehidupanku? Apakah aku boleh melakukan itu dengan pria lain?”
Ivana membisu kala mendengar pertanyaan yang teramat krusial terlontar dari mulut Ivyanne.
“Kau tahu, kan? Serigala sangat posesif. Mungkin ia juga tidak punya perasaan padaku, tetapi sekali ia menandai, maka itu akan menjadi miliknya selamanya. Itu yang pernah kubaca.” Ivyanne terhenti sejenak, memandangi wajah pucat Ivana yang masih tak pudarkan kecantikan wanita itu. “Bagaimana dengan hidupku setelah menikah degannya, Ivana?”
Ivana menghela napas berat. Ivyanne benar, bagaimana pun gadis itu pasti menginginkan hal lain, menginginkan kehidupan pribadinya. Dan Ivyanne sering berkata kalau Zach terlalu tua untuknya. Ivana tak pernah berpikir sejauh itu.
“Ivana. Tolong jawab pertanyaanku.”
Ivana menggeleng. Ia juga tidak tahu bagaimana dengan kehidupan Ivyanne setelah menjadi istri Zach. Ia hanya tahu bahwa dirinya dan Zach akan bisa selalu bersama. Ia tak sempat pikirkan bagaimana Ivyanne, bagaimana Tatiana ....
“Aku tidak tahu, Ivy. Maaf. Aku hanya menurutkan egoku dan aku tahu ini tidak benar. Atau mungkin kita lupakan saja. Biar kucari tahu caranya sendiri tanpa melibatkanmu.”
Ivana hendak pergi, tetapi dengan cepat Ivyanne menghalangi tubuh yang melayang itu.
“Tunggu, Ivana! Aku setuju. Aku setuju untuk menikah dengan tuan Levy. Tapi lakukan dengan cara yang benar. Tatiana ... selesaikan dulu masalah kalian dengannya. Aku tidak mau disebut sebagai perempuan penggoda karena setahuku tuan Levy telah berikrar padanya.”