
Permintaan Ivana merupakan hal mustahil bagi Zach. Meski selama beberapa kali ia memberikan perhatian dan kebaikan pada Ivyanne, itu semata-mata hanya sebagai cara untuk menjaga gadis itu. Juga sebagai bentuk permintaan maaf, tentunya, atas apa yang telah terjadi antara mereka.
Bagaimana pun, Zach bersalah karena tidak mengingat kenyataan bahwa Ivana sudah meninggal. Dan memang, ia telah begitu bodoh karena tidak menyadari keanehan yang terjadi dalam hidupnya.
Setelah satu tahun Ivana tak pernah menampakkan diri, semua berubah sejak kehadiran Ivyanne. Seharusnya sejak awal ia menanyakan banyak hal pada istrinya itu.
“Tuan Levy, aku hari ini akan pulang lebih sore, apakah bisa?” ucap Ivyanne, yang berhasil membuyarkan lamunannya selama beberapa saat.
Zach menoleh ke arah sumber suara dan menemukan gadis itu telah mengenakan pakaian rapi dan tampak sedikit berbeda. Ivyanne memulas make up di wajah cantiknya itu dan membawa tas selempang yang ukurannya lebih kecil dibanding tas yang biasa ia kenakan ke kampus.
“Kau mau ke mana? Kampus?” tanya Zach, penuh selidik, seolah dirinya adalah ayah dari Ivyanne, dan memang mereka terlihat demikian. Entah karena dirinya yang tampak jauh lebih tua atau Ivyanne yang memang memiliki wajah baby face.
Secara usia, memang terpaut jauh. Ivyanne berusia lima tahun lebih muda dibanding Ivana yang saat ini berusia dua puluh enam tahun, sementara Zach sudah tiba di usia tiga puluh tujuh dan masih menjadi serigala yang kesepian karena mantra kutukan Ivory dua belas tahun silam.
“Uhm, tidak. Aku ada janji dengan kawan.”
“Laki-laki?”
“Apakah ini interogasi? Apakah tidak boleh andaikan kawanku itu lelaki?” Tak menjawab pertanyaan Zach, Ivyanne justru balik bertanya.
Ia tak mengerti sejak kapan Zach menjadi orang yang sikapnya sangat aneh. Ivyanne mengenal Zach baru beberapa hari dan baginya Zach adalah pria aneh yang dingin dan datar.
Ivyanne bahkan sempat merasa takut pada pria itu saat pertama kali menginjakkan kaki di rumah ini.
Zach menggeleng perlahan.
“Ah, maaf. Tidak seperti itu. Maksudku hanya agar kau berhati-hati. Karena kau adalah ....” Zach tak tahu cara melanjutkan kalimatnya. Ia baru menyadari kalau dirinya bersikap terlalu berlebihan.
Ide Ivana memang membuatnya kesal dan tak bisa terpejam semalaman. Namun, jika ia melakukan seperti apa yang diminta oleh Ivana, ia bisa bersatu kembali dengan istrinya itu.
Meski itu terdengar kejam—karena menggunakan Ivyanne hanya demi keinginan mereka sendiri, tetapi hanya itu cara yang bisa mereka lakukan.
Begitu yang Ivana katakan.
“Aku apa?” todong Ivyanne, kemudian menanti jawaban, tetapi tak kunjung diucapkan oleh pria itu. “Jika tidak ada lagi yang ingin kau katakan, aku akan pergi. Dan mengenai Micah dan Mason ... aku tidak bisa meminta tolong pada beberapa pelayan karena mereka sangat kapok mengurus si kembar.”
Ivyanne tak mampu menahan senyumnya mengingat bagaimana tingkah si kembar yang selalu sukses membuat para pelayan tunggang langgang, begitu pun Zach yang akhirnya tergelak ringan sembari menyembunyikan wajahnya dari gadis di hadapannya.
“I know ... mereka memang biang onar. Maaf kalau selama beberapa waktu menjadi pengasuhnya kau sangat kerepotan. Aku akan menaikkan gajimu.”
“Oh, tidak perlu, Tuan Levy. Aku baik-baik saja dengan gaji yang sekarang. Itu lebih dari cukup.” Mereka terdiam untuk beberapa saat sebelum akhirnya Ivyanne mengingatkan Zach bahwa dirinya sebentar lagi akan pergi. “Jadi, apakah aku boleh pergi sekarang?”
Namun, sungguh, rasanya konyol sekali memperkerjakan Ivyanne untuk menjadi pengasuh putranya, lalu menikah dengan gadis itu.
Lalu bagaimana dengan ikrarnya terhadap Tatiana? Mengapa ia tidak memikirkan itu? Dan Ivana ... bukankah ia sudah tahu tentang itu? Mengapa ia justru meminta Zach menikahi Ivyanne yang artinya melanggar ikrarnya sendiri?
***
Ivyanne menanti seseorang yang katanya merupakan kawannya di kampus. Seorang pria yang cukup menawan hatinya setelah sekian lama. Ia bahagia karena pada akhirnya pria itu mendekati dan mengajaknya berkencan untuk pertama kali.
Namun, cukup lama Ivyanne menanti, pria itu tak kunjung tiba hingga ia bosan dan hampir memutuskan untuk meninggalkan restoran yang akan menjadi tempat pertemuan mereka.
Mungkin pria itu tak yakin untuk menjalin hubungan dengannya. Atau meski sekadar pertemuan kasual, ia tidak menginginkan ini.
Namun, saat kakinya nyaris tiba di ambang pintu, pria itu akhirnya muncul.
“Ivy ... kau mau ke mana?” tanya pria itu yang kemudian meraih tangan Ivyanne untuk kembali masuk ke restoran dan duduk bersamanya. “maaf aku terlambat dan tidak mengabari. Ponselku mati. Ini!” Pria itu menunjukkan benda pipih di tangannya ke hadapan gadis itu.
Ivyanne tersenyum, lalu mengangguk mengerti. Ia hanya tidak sabaran menanti, bukan karena pria itu tidak benar-benar menginginkan pertemuan ini.
“Kupikir kau tidak benar-benar yakin dengan kencan ini, Drake,” jawabnya.
Pria itu terkekeh.
“Maafkan aku, Ivy. Mana mungkin aku tidak menginginkannya. Aku bahkan ingin hal lebih, andai diperbolehkan.”
Ivyanne tidak terlalu memahami perkataan pria itu. Namun, jika apa yang dimaksud oleh pria itu sama seperti yang ada dalam benak Ivyanne, maka gadis itu tak akan menolak.
“L-lebih?” tanya Ivyanne, yang tak mendapat jawaban dari pria bernama Drake itu, melainkan dengan bahasa tubuhnya.
Drake mendekatkan wajahnya pada Ivyanne yang tak beranjak atau menolak usaha pria itu untuk mengikis jarak antara mereka kecuali hanya mengerjap sesekali karena jantungnya nyaris mencelus saat ini.
Ivyanne tahu apa yang diinginkan oleh pria itu dan ia mungkin tak akan menolak.
“Breathe, Ivyanne,” lirih Drake seiring dengan bibirnya yang terasa dingin mendarat pada bibir Ivyanne.
Ivyanne tahu pasti, seperti inilah yang ia inginkan, meski ini terlalu indah untuk disebut sebuah kenyataan, tetapi ia menikmatinya—Drake merespon perasaan cintanya yang diam-diam itu dalam waktu sehari. Semuanya seolah berjalan dengan cara yang ajaib.
Sayangnya, kesenangan mereka itu tak bertahan lama karena kehadiran orang lain yang tampak tak suka dengan keintiman antara Ivyanne dan Drake.
Ia tak hanya mengawasi, melainkan mendekat ke arah dua sejoli itu.