
Zach mondar-mandir di depan kamar Micah dan Mason. Ia tahu, di dalam sana, Ivyanne sedang menidurkan dua bocah serigala yang selama seharian sudah membuat onar dan menguras tenaga Ivyanne.
Tak hanya gadis itu, Zach pun dibuat kalang kabut, seolah mereka sudah bersekongkol dengan Ivana untuk membuat Zach terus berada dekat dengan Ivyanne.
Sayangnya, gadis itu tampaknya tidak tertarik pada pria yang rentang usianya terlalu jauh dengannya. Drake adalah pria yang menurutnya sesuai dan cocok untuk menjadi pendamping.
“Dengarkan aku! Kalian tidak boleh lagi bertingkah seperti tadi! Aku sungguh lelah mencari kalian ke sana kemari. Apalagi saat kalian mengikat tali sepatuku dan sepatu ayah kalian, itu tidak sopan!” omel Ivyanne pada dua bocah yang hanya mengerjap dan tertawa-tawa karena belum mengerti perkataan Ivyanne.
Atau bahkan mungkin mereka sebenarnya mengerti, hanya saja sikap polos mereka berhasil menipu gadis seperti Ivyanne.
Dan Ivyanne yang teringat kejadian siang itu, hatinya menjadi tak karuan. Ini sungguh di luar dugaan.
Ia memang tidak tertarik pada Zach, terlebih pria itu terus dibayangi masa lalu dan istri hantunya itu. Tidak akan bahagia jika Ivyanne mengikuti keinginan Ivana yang tak masuk akal. Dan tampaknya, pria serigala itu mulai punya pikiran yang sama dengan sang istri.
Pemikiran gila yang hanya ada di otak orang-orang yang sudah hilang akal. Anggap saja Zach tengah mengalaminya.
Demi bisa menghabiskan waktu berdua, ia rela menuruti permintaan gila, menikahi perempuan lain yang nantinya akan menjadi inang bagi sang istri yang transparan.
Luar biasa!
Ivyanne tahu kalau Zach sejak tadi berada di luat. Namun, ia tak ingin keluar dari kamar si kembar kecuali dua bayi itu sudah tidur. Itu jelas ada dalam pikiran Ivyanne. Dan entah bagaimana mulanya, bayi yang sejak tadi bahkan tak tampak mengantuk itu kini sudah demikian lelap di dalam. Ranjang box mereka.
“Aku tidak percaya kalian bisa tertidur secepat ini. Ayo bangun! Kau tidak bisa membohongiku, Micah! Mason, bangun!”
Ivyanne berulang kali mencolek pipi masing-masing bayi itu, tetapi tak ada respon sama sekali yang artinya, keduanya memang sudah berkelana ke alam mimpi.
“Baiklah, kubiarkan kalian membuat onar di alam mimpi. Sleep tight, buddies!”
Ivyanne kemudian membuka pintu dan menemukan Zach yang tengah berdiri di hadapannya setelah sejak tadi mondar-mandir tak karuan.
“Uhm, Ivy—“
“Tuan Levy? Apa yang Anda lakukan di sini?” tanya Ivyanne penuh selidik. Zach membuka mulut, kemudian mengatupkannya kembali. Ia tak tahu dari mana memulai semua hal yang semula sudah ia tata dengan rapi di kepalanya.
Hanya tinggal mengungkapkannya saja terasa begitu sulit.
“Bisakah kita bicara?” tanya pria itu yang mendapat anggukan dari Ivyanne.
“Apakah ini mengenai pernikahan itu?”
“Ke ruanganku dulu.” Zach berjalan di depan Ivyanne. Langkahnya ia buat perlahan dan sesekali menoleh ke belakang, memastikan gadis itu benar-benar mengikuti hingga tiba di ruangannya.
“Jangan katakan kalau wanita transparan itu ada di dalam.”
“Ia istriku, Ivy. Dan dia punya nama. Namanya Ivana.”
“Persetan dengan itu! Aku tidak suka kalian menyeretku ke dalam kehidupan percintaan dan se*sual kalian. Aku bukan wanita penghibur!”
Zach memberi isyarat dengan tangannya agar Ivyanne masuk ke ruangannya. Gadis itu hanya memandang Zach dengan tatapan ragu.
“Aku tidak akan menodaimu.”
“Aku sudah ternoda, by the way. Jadi aku tidak takut akan itu. Aku hanya tidak suka kalau—“
“Masuklah, Ivy. Kita hanya akan bicara. Aku janji.”
Ivyanne menatap Zach penuh tanya, tetapi pada akhirnya ia patuh dan melangkahkan kaki masuk ke ruangan pria itu dan langsung bertemu dengan wanita yang sudah ia tahu pasti menjadi dalang akan kehidupan Ivyanne yang tak karuan di tempat ini.
***
Ivana bangkit dan mendekat pada Ivyanne yang berdiri di sudut ruangan, memberi jarak antara dirinya dan Ivana, terlebih Zach yang hanya duduk di tempatnya.
“Ivy, ini hanya untuk sementara sampai aku menemukan cara untuk kembali.”
“Jasadmu sudah dikubur, Ivana! Bagaimana mungkin kau bisa kembali? Apakah kau sudah gila?!”
Ivyanne menoleh pada Ivana lalau Zach, secara bergantian. Ia lalu mendesah cukup keras karena kesal berurusan dengan makhluk seperti mereka.
“Aku tidak tahu kesialan apa yang tengah merundungku, hingga harus berurusan dengan orang-orang seperti kalian.” Ia lalu menoleh pada Zach. “Tak bisakah kau ikhlaskan saja wanita ini agar ia bisa mati dengan tenang? Kau lihat, karena kau masih terus memikirkannya, ia jadi seperti ini!”
“Itu bukan karena Zach, Ivy.” Ivana menghela napas kemudian mulai menjelaskan secara perlahan agar gadis itu mengerti.
“Aku adalah jodoh Zach.”
“Jika kau sudah mati, maka jodoh itu terhenti. Begitu aturannya, Ivana.”
“Dengarkan dulu! Kupikir juga begitu. Namun, ketika selama beberapa waktu aku tidak juga pergi, aku menemui Ange dan mendapat jawaban cukup mengejutkan. Bahkan sampai kini, aku masih jodoh Zach. Dab kurasa ini terjadi karena kutukan yang ada padanya belum selesai.”
Ivyanne memutar bola matanya. Tak pernah percaya dengan hal gaib atau takhayul seperti itu. Namun, bertemu dengan Zach yang ternyata adalah seorang manusia serigala, membuatnya cukup terkejut dan bahkan tak percaya.
“Terserah apa pun itu, tak ada hubungannya denganku. Permisi. Aku harus beristirahat karena besok aku harus berangkat kuliah.”
“Tunggu, Ivy!” Ivana mencengkeram pergelangan tangan Ivyanne dan menatap dalam bola mata hazelnya. “Jika memang tidak ada hubungannya, maka katakan padaku dari mana kau dapatkan kekuatan besar yang nyaris membunuh Zach? Bahkan kau berucap kalau Zach sudah seharusnya mati.”
Ivyanne tertegun kala mendapat pertanyaan semacam itu. Ia bahkan tak bisa membunuh seekor semut sekalipun, tetapi bagaimana mungkin ia nyaris melenyapkan nyawa Zach?
“Kau tidak tahu, kan? Itu karena kau memang terpilih untuk menjadi sarana bagiku agar bisa kembali. Hanya kau, Ivy. Aku sudah membuktikannya.”
“Bagaimana kau bisa yakin? Aku bahkan tak tahu apa maksudmu mengenai kekuatan. Aku tidak punya kekuatan apa pun!”
“Kau punya, tapi itu tak lagi penting. Kumohon menikahlah dengan Zach. Aku janji ini hanya untuk sementara, Ivy. Setelah itu, aku pasti akan dapatkan tubuhku sendiri. Begitu yang kudengar.”
Ivyanne tampak berpikir dan hampir setuju dengan permintaan Ivana yang memang tak masuk akal tetapi entah mengapa ada hal yang mendorongnya untuk percaya.
Baru saja Ivyanne hendak menjawab, pintu ruangan terbuka dan seraut wajah tegang tengah menoleh ke arah tiga orang yang berada di sana.
“Sh*t! Kau Ivana? Ini tidak mungkin!”
"Apa yang kau lakukan di sini, Tatiana?" sergah Zach, merasa tak suka wanita itu masuk bahkan tanpa mengetuk pintu.
"Zach ... jangan percaya pada apa pun, bahkan gadis pengasuh ini. Wanita ini ...." Tatiana menuding ke arah Ivana. "D-dia ini iblis yang dipekerjakan oleh gadis penyihir ini, Zach! Dia bukan istrimu. Ivana sudah meninggal!"
Wanita itu kemudian mendekat ke arah Zach yang sejak tadi berdiri melipat kedua tangan di dadanya.
"Zach, sayang ... kau sidah berikrar akan menikahiku dan menjadikanku jodohmu. Kau tidak akan membatalkan itu, bukan?"
Zach mengarajkan atensinya pada Ivana yang tidak memberi sanggahan, lalu pada Ivyanne—yang di leher serta pergelangan tangan gadis itu telah tertoreh tanda darinya, saat pertama kali ia meniduri Ivyanne karena pengaruh Ivana.
Jika dipikir secara nalar, maka Ivyanne kini telah menjadi miliknya, dan hal itu tak bisa dibantah.
"Tatiana, mulai sekarang aku akan membatalkan ikrarku untuk menikahimu, dengan tujuan untuk menjaga keselamatanmu. Karena kutukan yang ada padaku ini tak akan hilang dan mungkin justru akan menjadikanmu korban selanjutnya." Zach menoleh lagi pada Ivyanne dan Ivana.
"Aku setuju untuk menikahi Ivy seperti permintaanmu, sayang. Kini bergantung padanya," ucap Zach pada Ivana, lalu memutar tubuh dan mengunci tatapan pada gadis yang sejak tadi sudah membulatkan mata mendengarkan perbincangan yang tidak ia mengerti.
"Apakah kau mau menikah denganku, Ivy?"