
Ivyanne sudah siap dengan rencana hari ini. Setelah terbangun dalam keadaan aman—yang artinya ia masih berada di ranjangnya, seorang diri dengan pintu masih terkunci—ia mulai bersemangat untuk menjalani hari ini.
Meski masih teringat bagaimana Zach mendekapnya begitu erat hingga Ivyanne bahkan tak berani bernapas kala itu, Ivyanne tak boleh terpengaruh.
Bagaimana pun Zach adalah majikannya dan tidak seharusnya ia terlalu terbawa perasaan dan menjadikan apa yang dilakukan pria itu sebagai hal yang membuatnya bersikap tidak wajar terhadap Zach.
Itu sebabnya ia segera menepis pikiran tentang pria itu seketika dan bangkit untuk melakukan pekerjaannya.
Ia hari ini berencana untuk pergi ke kampus dan membayar separuh dari biaya kuliahnya. Zach sudah memberikan gaji di muka yang pasti bisa untuk melunasinya, tetapi ia hanya ingin berjaga-jaga.
Siapa tahu, istri hantu sang majikan lagi-lagi berulah dan itu artinya Ivyanne harus bersiap untuk angkat kaki dari rumah majikan serigalanya itu.
Pastinya ia tak akan membeberkan rahasia mengenai tuannya. Bagaimana pun Zach sudah berbaik hati dengan memberikan beberapa jumlah yang ia butuhkan. Maka ia harus menjaga integritas majikannya itu.
Sudah dengan senyum merekah hendak menyambut si kembar di ranjang box mereka, bola mata Ivyanne nyaris mencelus kala menemukan ranjang lagi-lagi kosong.
Ke mana lagi para bayi itu? Apakah mungkin ....
Ivyanne tergopoh mencari ke taman, siapa tahu Ivana kembali mengajak mereka bermain di pagi buta, seperti malam tadi di mana Ivana menemani mereka hingga tertidur. Namun, nihil.
Ivyanne tak ingin terlalu membuat suara gaduh karena cemas kalau Zach mengetahui ini, bisa saja pria itu memecatnya.
“Kalian benar-benar perlu diberi pelajaran, dasar bayi serigala!” gumam Ivyanne, sembari terus melangkah mengitari mansion tempatnya tinggal.
Ia nyaris menyerah dan memutuskan untuk mencari mereka lagi di dalam rumah, dan mendengar kegaduhan yang berasal dari dapur. Ivyanne bergegas menuju ke sana dengan pikiran yang tak karuan.
Bagaimana tidak? Setelah beberapa hari bekerja di sana, Ivyanne tahu kalau Zach adalah manusia serigala yang artinya, putranya pun adalah bayi serigala yang tingkahnya memang luar biasa. Maka tidak heran kalau Ivyanne jadi sangat berhati-hati dengan kedua bayi itu.
Sayangnya, ketika tiba di ruangan tempat terjadinya kegaduhan, yang ia temukan bukan Micah dan Mason yang mengacaukan semuanya, melainkan Tatiana.
Tatapan mata Ivyanne tertuju pada dua bocah yang dimasukkan ke dalam wastafel bersama tumpukan piring kotor dan air keran yang mengucur mengguyur mereka.
Ruangan itu lebih mirip kapal karam dibandung dapur mansion Zach Levy yang mewah dan futuristik.
“Apa yang kau lakukan di sini, Nona?” tanya Ivyanne, kemudian mendekat dan hendak menggendong kedua bayi itu, tetapi Tatiana langsung berdiri menghalangi.
“Ini bukan urusanmu, pengasuh! Aku akan buktikan bahwa Zach tidak membutuhkanmu untuk mengasuh mereka berdua. Aku bisa melakukannya jauh lebih baik dibanding dirimu.”
Mendengar kalimat sesumbar yang baru saja diucapkan oleh Tatiana, Ivyanne hanya mengurut keningnya yang mulai terasa berdenyut.
Karena emosi yang sudah mencapai ubun-ubun, sekaligus karena memang ia masih lelah tetapi harus membereskan kekacauan sebegitu banyaknya.
“Apakah kau lihat apa yang terjadi sekarang? Kau justru mengacaukan segalanya, Nona.”
“Apa? Kau berani bicara tidak sopan padaku? Kau lihat, Micah dan Mason sangat senang bermain air denganku—“
Bukan seperti itu yang tampak di mata Ivyanne.
Ia menilik pakaian berharga fantastis yang membungkus tubuh kurva bak biola Spanyol itu sudah tak lagi rupa pakaian. Basah kuyup ditambah tatanan rambut Tatiana yang sudah awut-awutan membuat Ivyanne tidak tega tetapi juga kesal.
“Ya, penampilanmu menggambarkan segalanya. Kalian tampaknya sangat bersenang-senang.” Ivyanne mengedikkan bahu. “Baiklah, kalau begitu akan kutinggalkan kalian bertiga. Tapi, jangan lupa untuk membereskan ini semua sebelum Tuan Levy keluar dari ruangannya. Karena jika tidak, aku yakin ia pasti akan berubah menjadi monster dan memakan kalian.”
Ivyanne kemudian berbalik.
“Atau mungkin aku yang akan dimakan,” gumamnya. Dan belum sempat pergi, Tatiana sudah bergegas menghampirinya.
“Oh, kukira kau menikmati peranmu sebagai calon ibu mereka. Jadi ... bagaimana?”
Tatiana mendengkus, menyampirkan handuk di pundak Ivyanne.
“Kau yang membereskan mereka! Lakukan sebelum Zach tiba di sini!” titahnya, kemudian mengayun langkah hendak meninggalkan Ivyanne dan bocah-bocah yang asyik bermain air.
Namun, Tatiana terhenti ketika tubuhnya menabrak sosok tegap yang ternyata sudah berdiri di sana sejak tadi.
“Uhm, Z-Zach? Apa yang kau lakukan di sini?” tanya Tatiana, tergagap. “A-aku baru saja memandikan Micah dan Mason.”
Ia mengambil kembali handuk yang ada di pundak Ivyanne.
“Lihatlah, pengasuh anakmu bangun siang sekali. Jadi aku yang mengambil alih kedua bayi menggemaskan ini.” Tatiana berusaha membela diri di hadapan Zach yang sejak tadi tahu apa saja yang terjadi di ruangan itu.
Setelah menatap Tatiana, Zach arahkan tatapannya pada Ivyanne yang sama sekali tidak mengucapkan kalimat sanggahan.
“Tidak adakah yang ingin kau katakan, Ivy? Siapa tahu kau mau membela diri atas tuduhan yang dialamatkan padamu,” todong Zach.
Namun, Ivyanne menggeleng.
“Tanpa perlu melakukan itu, seharusnya anda sudah tahu apa saja yang terjadi dan apa bedanya dengan hasil kerjaku kemarin.” Ivyanne membalas pertanyaan dan tatapan Zach dengan intonasi dan raut datar serta tenang.
Setelah memastikan tidak ada jawaban atau sanggahan dari Tatiana, ia mengangguk lalu beranjak dari tempat itu demi membereskan dua bayi yang mungkin sudah puas bermain air sejak pagi.
Zach mengikuti kepergian Ivyanne dengan ekor matanya dan melemparkan tatapan pada Tatiana setelahnya.
“Ke ruanganku, sekarang!” titahnya pada wanita yang merupakan sahabatnya sejak kecil itu.
Tatiana memutar bola mata lalu mengekor langkah Zach menuju ke ruang kerja pria itu di mansion utama. Ia memilih tempat tepat di samping Zach agar bisa menjelaskan dengan baik masalah pagi ini. Atau lebih tepatnya, ia lakukan itu agar bisa merayu Zach dengan sentuhan tanda cinta darinya.
Namun, siapa pun bisa jamin kalau Zach tak akan tergoda dengan sentuhan wanita mana pun kecuali Ivana.
“Bisa kau jelaskan, mengapa menuduh Ivy sembarangan?” tembak pria itu setelah mereka berdua sudah duduk dengan nyaman.
Zach tidak melakukan itu demi beramah-tamah dengan Tatiana yang merupakan calon istrinya, melainkan memastikan bahwa masalah ini hanya kesalah pahaman. Atau mungkin kesengajaan Tatiana dengan maksud tertentu.
Wanita itu tak segera menjawab melainkan menunjukkan wajah memberengut. Ia tidak suka jika Zach lebih memercayai orang lain dibanding dirinya.
“Kau tidak percaya padaku dan lebih mempercayainya?”
“Bukan itu poinnya, Tatiana.”
“Lalu?” Tatiana mengangkat dagunya, tak terima dengan cara Zach yang seolah membela Ivyanne yang bagi Tatiana terlihat seperti sebuah perhatian yang terselubung. “Kau mulai jatuh cinta pada gadis itu, Zach?”
Mendengar tuduhan Tatiana, Zach mendengkus.
“Jangan memutar balikkan pembicaraan, Tatiana. Aku tidak membahas masalah jatuh cinta atau apa pun. Ini masalah Micah dan Mason yang berendam terlalu lama. Pahami itu!”
Tatiana bangkit dari tempatnya, kemudian mengentakkan kaki dengan tatapan yang tidak beralih dari Zach.
“Aku hanya ingin lebih dekat dengan mereka jadi kau tidak memerlukan pengasuh lagi. Apa itu salah? Namun, jika memang kau tidak suka itu, terserah! Aku tidak akan berhenti sampai kau mengusir perempuan itu dari sini.” Tatiana menjeda kalimatnya. Dadanya sesak dan ia nyaris mencakar Ivyanne tadi.
“Ia sudah merebut tempat yang seharusnya menjadi milikku di ranjangmu—dengan bercinta denganmu, maka tidak menutup kemungkinan ia akan merebut tempatku di hatimu dan aku tidak ingin semua itu terjadi! Kau dengar itu, Zach?!”