
Zach melajukan mobil dengan kecepatan penuh. Membuat raut wajah Ivyanne memucat karena ia tak terbiasa dengan cara mengemudi Zach yang ugal-ugalan.
Beberapa menit lalu jantung Ivyanne, bahkan mungkin nyawanya, nyaris lepas dari raganya dikarenakan dirinya dikepung oleh empat atau lima pemuda bergigi taring dan bermata merah. Ivyanne tak tahu-menahu tentang makhluk itu. Maka tentu saja ia ketakutan.
Kini bisa saja nyawanya benar-benar lepas dari raga jika Zach terus mengemudikan kendaraannya dengan kecepatan di luar batas.
Zach masih belum bicara sejak tadi. Apa yang ia lihat sebelumnya tak bisa ia percayai.
Ivyanne yang polos di matanya, beberapa menit lalu nyaris membunuh sekelompok vampire yang hendak menggilirnya demi mendapatkan darah segar gadis cantik itu. Dan dengan sekali kibasan tangan, kelima pemuda itu terpental jauh hingga mereka lari tunggang langgang.
“T-tuan Levy, bisakah Anda memelankan laju mobilnya?” tanya Ivyanne yang wajahnya mulai berubah sepucat kertas. Zach masih belum merespon. Di kepalanya, bayangan itu masih terus berputar hingga perasaannya carut marut.
Ia seolah melihat Ivory dalam diri Ivyanne, tetapi mungkinkah?
“Tuan Levy!”
“Apa itu tadi, huh? Siapa kau sebenarnya Ivy?!” desak Zach yang mulai tak tahan lagi dengan kenyataan yang ia lihat entah berapa kali.
“Apa maksud Anda?”
“Jangan berpura-pura! Kau tiba-tiba bisa ada di kamar Ivana bersamaku, dan pagi tadi ... matamu berubah warna, lalu tadi—“
“Itu bukan apa-apa! Aku tidak tahu apa yang kau bicarakan! Hentikan mobilnya, Tuan Levy!” pinta gadis itu, tetapi Zach tetap melajukannya seperti biasa dan tidak berniat untuk menurunkan kecepatan.
Ia ingin menguji dan membuktikan bahwa yang baru sjaa dilihatnya bukanlah mimpi atau khayalan. Apalagi kesalahan.
“Tuan Levy, hentikan mobilnya!!!”
Gadis itu tak sabar. Dan benar saja, tepat setelah ia memekikkan perintah untuk menghentikan mobil, kendaraan yang mereka tumpangi mengerem mendadak hingga membuatnya terbalik tak karuan.
BRAKK!!
BRAKK!!
Mereka mungkin bisa saja mati saat itu juga. Namun, sekali lagi Ivyanne menunjukkan keajaibannya.
Mereka berdua telah berada di luar mobil dalam keadaan berpelukan, terhempas ke tanah dengan cukup keras. Zach yang menyadari ada kekuatan yang melontarkan tubuh mereka, dengan segera menarik Ivyanne ke dalam dekapannya dengan maksud agar gadis itu tidak terluka saat tubuh mereka mendarat di tanah.
Dan secara tiba-tiba, Zach berubah menjadi seekor malamut alaskan berukuran cukup besar yang mampu menyelubungi tubuh Ivyanne layaknya kubah pelindung hingga gadis itu tak rasakan sakit saat tubuh mereka bergulung-gulung terjatuh ke semak dan menabrak batang pohon besar.
Zach bangkit saat yakin mereka sudah berada di tempat yang aman, membuat gadis itu terbelalak tak percaya, melihat majikannya bisa berubah menjadi sebentuk hewan yang baginya memiliki ukuran tak lazim.
“HAH? Siapa kau?!” Ivyanne terjengkang karena saking terkejutnya melihat seekor malamut alaskan yang menjulang di hadapannya. “Jangan dekati aku!”
Ivyanne mengambil segenggam tanah dan melemparkan ke wajah Zach.
“Ivy, hentikan! Ini aku!” Pria itu kini sudah terduduk di tanah sembari melindungi wajahnya yang dilempari tanah bercampur bebatuan kerikil oleh gadis di hadapannya.
Ivyanne harus memastikan bahwa itu benar-benar Zach, majikannya. Namun, bagaimana caranya jika posisi Zach memegangi tangan Ivyanne dari belakang tubuhnya? Saat itu juga, di benak Ivyanne seolah berkelebatan bayang-bayang pergumulan mereka beberapa malam ini.
Ia tak mungkin bermimpi. Pria asing yang mencumbuinya setiap malam adalah Zach. Meski Ivyanne belum tahu pasti bagaimana cara mereka bisa melakukan itu, tetapi ia yakin seratus persen.
Bahkan aroma tubuh Zach masih ia ingat dengan jelas. Begitu pun Zach yang tertegun kala hidungnya menghidu bau khas milik Ivyanne. Nyaris menyerupai milik istrinya, tetapi ia sebagai makhluk dengan penciuman yang tajam, tak mungkin tidak bisa menemukan perbedaannya.
Ivyanne memberontak hingga berhasil lepas dari dekapan Zach. Lalu berbalik dan mulai melangkah mundur, menjauhi pria yang masih mematung di hadapannya.
“K-kau—Tuan Levy? Apa yang terjadi? Tadi aku melihat anjing besar sekali! Dan lalu kau—“
“Ivy, itu serigala, bukan anjing.” Zach memotong perkataan Ivyanne, tak terima gadis itu menyebutnya anjing. Meski memang bentuk perubahan Zach adalah malamut alaskan yang diketahui banyak orang merupakan hewan piaraan.
“Terserah, apa pun itu. Yang pasti kau ....” Ivyanne bangkit dari posisinya kemudian bergegas pergi meninggalkan Zach yang masih termangu.
Namun, dengan segera Zach menyusul gadis itu.
Aku tidak mau berurusan dengan siluman!” Ivyanne mempercepat langkahnya yang dengan mudah disusul oleh pria bertubuh tegap itu. Dan seolah dalam sekali kedipan, Zach sudah berada di hadapannya.
“Kau tidak boleh pergi begitu saja! Ingat, kau masih punya hutang padaku.”
“Hutang? Yang benar saja, Tuan Levy! Aku tak pernah berhutang apa pun dan aku tidak mau berurusan dengan makhluk gaib sepertimu. Juga istrimu.”
“Apa?” Zach menarik Ivyanne agar menghentikan langkah dan menghadap padanya. “Apa maksudmu dengan istriku? Apa yang kau ketahui tentangnya?”
***
Ivyanne telah selesai menidurkan Micah dan Mason saat dirinya keluar dari kamar si kembar dan bertemu dengan Tatiana di ambang pintu. Wanita itu memerhatikan Ivyanne dari ujung kaki hingga kepala dengan tatapan meremehkan.
“Aku tidak tahu apa yang dilihat Zach darimu hingga ia rela tidur denganmu.” Wanita itu menggumam, tak peduli perasaan Ivyanne karena memang itu tujuannya—untuk merendahkan gadis yang baginya telah merebut Zach.
Ivyanne tidak menggubris perkataan Tatiana, melainkan segera mengayun langkah pergi dari hadapan wanita itu. Namun, tangannya mencekal lengan Ivyanne hingga berhasil menghentikan langkah gadis itu.
“Kuperingatkan padamu, jangan pernah berani mendekati Zach, karena dia adalah calon suamiku. Apa kau dengar itu?”
Gadis itu menoleh sebentar pada wanita angkuh yang telah berani menyentuh kulitnya. Ivyanne tidak suka ada yang menyentuhnya dengan pongah seperti apa yang dilakukan oleh Tatiana.
Ia lalu berbalik, menatap sepasang manik yang menatap tajam ke arah Ivyanne seolah berusaha untuk mengintimidasinya.
“Aku tidak pernah mendekati calon suamimu, Nona siapa pun kau. Tanyakan padanya apa yang ia lakukan sampai semua itu terjadi. Karena aku bahkan sama sekali tidak keluar dari kamar setelah pukul delapan. Aku kelelahan dan tidak lagi punya waktu serta tenaga untuk melayani hasratnya. Jadi ... tanyakan padanya, siapa yang ia cumbui setiap malam dan menjadikanku kambing hitamnya.”
“Apa maksudmu?” tanya Tatiana, seolah tak terima dengan tuduhan yang dialamatkan oleh Ivyanne terhadap kekasihnya.
“Mengapa bertanya padaku? Tanyakan pada Tuan Levy, Nona. Dan jika terbukti benar, yang setiap malam tidur dengannya adalah aku, maka aku rela untuk melepaskan pekerjaan ini—yang mana sudah akan kulepaskan sejak tadi, tetapi kekasihmu itu yang mencariku dan memaksaku untuk kembali.”