Between The Leongs

Between The Leongs
Secret



Penampakan Sabrina dengan luka memar yang tertinggal membekas di pipinya terbaring lemah di atas brankar menjadi momok bagi siapa saja yang melihatnya. Terlebih orang-orang terdekat Sabrina. Mauricio tak kuasa menahan tangisnya begitu dia tiba, setelah sempat kelabakan mencari informasi mengenai kontak Lucas karena Lucaslah yang membawa Sabrina pergi semalam.


Dia merasa bersalah sebesar-besarnya atas apa yang Sabrina harus lalui. Padahal dia adalah orang pertama yang menyaksikan kebrutalan itu terjadi, tapi, tubuhnya malah terpaku akibat terlalu syok sulit mencerna sisi lain dari kenyataan kehidupan Sabrina. Pengorbanan Sabrina selama ini yang dia ketahui bahkan ternyata belum keseluruhannya. Dia tidak menyangka Sabrina selama ini ternyata masih menutupi warna asli Amber.


Sebesar itu kasih sayang Sabrina terhadap Ibunya, meskipun yang Amber berikan kepadanya sepanjang hidup tidak lebih selain luka dan trauma. Sayangnya, Eva dan Willy belum bisa menjenguk Sabrina secara langsung. Menggunakan segala upaya agar Ibu mereka tidak keluar rumah dan menciptakan masalah besar yang bisa terdeteksi dengan mudah oleh paparazzi. Giliran mereka mengorbankan diri demi ketenangan semua orang.


"Cio.. Haus," Suara serak Sabrina yang terbangun memanggilnya.


Mauricio mengatur nafas, mencoba menata hatinya yang hancur. Dia tidak boleh begini di depan Sabrina. Mengusap pipinya yang basah penuh air mata. Di ambilnya gelas berisi air mineral dari nakas samping brankar, lalu membantu Sabrina minum.


Tanpa Mauricio sadari, Sabrina sudah menyaksikan dirinya yang menangisi Sabrina sejak tadi. Begitu pula dengan semalam, dia paham Mauricio bukannya tidak mau membantu memisahkan. Kalau Sabrina mau, Sabrina juga bisa menjaga dirinya sendiri tanpa bantuan orang lain. Tapi dia tidak melakukannya, karena Amber adalah Ibunya. Kenapa? Walau Amber menutup dirinya dari semua orang, Sabrina bisa merasakan kekosongan dalam jiwa Amber. Ada beban tersendiri yang Amber enggan bagi kepada siapapun. Dan tidak semua orang bisa melihat dari sisi pandang ini. Begitu pula dengan Mauricio, Sabrina sudah memprediksi dia akan bereaksi begitu ketika mengetahui semuanya, maka dari itu Sabrina sebelumnya memilih menyimpan dari Mauricio daripada nanti Ibunya menerima satu kebencian lain lagi.


"I'm sorry that you have to see everything, kamu pasti kaget banget ya semalam?"


"Kenapa kamu yang minta maaf? Aku yang minta maaf Sabrina, kamu harus ngelalui itu semua. Sahabat macam apa aku sebenarnya sampai tidak pernah tahu hal yang terjadi di hidupmu?" Pertahanan Mauricio runtuh, tangisnya kembali pecah. Sabrina yang tak enak hati berhambur memeluknya. "Kamu tidak bertanggung jawab untuk apa yang aku lalui Cio. Lagipula, ini keputusanku untuk tidak membagi cerita. Bukannya aku tidak menghargaimu sebagai sahabat yang sudah lama menemaniku. Ketahuilah, aku juga punya alasanku tersendiri."


Mengurai pelukan, mata sembab Mauricio menatap putus asa Sabrina. "Aku mau membantu, apa tidak ada yang bisa ku lakukan untukmu?"


Sabrina menepuk-nepuk pundak Mauricio. Ketulusan yang dipancarkan Mauricio baginya lebih dari cukup. Setidaknya persahabatan yang terjalin di antara mereka mutlak terbukti bukanlah kesemuan belaka. "Kamu sudah melakukannya dengan selalu ada untukku. Kamu sahabat terbaikku, Cio." Sabrina berharap kata-katanya mampu diterima baik Mauricio, menghibur kesedihannya.


Sampai situasi menjadi jauh lebih kondusif untuk Mauricio membuka pikirannya. Berhenti berlarut-larut pada satu masalah yang tampaknya enggan di besar-besarkan Sabrina. Mauricio memanggil perawat guna memeriksa kondisi terkini Sabrina, sekalian menanyakan jadwal sarapan pasien. Tidak lama seorang perawat yang kebetulan tengah berkeliling mengantar sarapan datang, dan tidak lupa memeriksa Sabrina.


"Tadinya aku sempat mau mengajak Eri kesini," Sambil menata nampan berisi sarapan ke atas meja makan kecil khusus yang bersatu dengan brankar, Mauricio mengubah topik yang berpotensi memancing konflik batin. "Thank god, aku tidak melakukannya."


Semalam sehabis membantu memulangkan Amber, Mauricio secepat kilat mengumpulkan informasi demi mendapatkan kontak Lucas. Di tengah-tengah kekalutan, dia mendapati dirinya menghentikan mobil di parkiran komplek apartemen Sabrina. Agaknya alam bawah sadarnya bergerak mencari sesuatu yang tersisa dari sahabat yang gagal dia jaga, yaitu puterinya Asteria. Dia ingin memastikan kalau Asteria baik-baik saja, dan keaamanannya terjaga.


Langkahnya yang sedikit lagi tiba semakin pelan dan berhenti mendengar isakan tertahan, dia merasa tidak pantas untuk melanjutkan langkah dan melihat langsung penampakan Mauricio yang notabennya seorang lelaki dewasa, sedang menangis. Pasti Mauricio akan malu kalau dia melihat, diapun memutuskan berdiri di tempat terakhirya. Memberikan privasi, tapi di saat bersamaan dia tetap bisa memantau keamanan Asteria.


Mengesampingkan fakta bahwa Mauricio sahabat karib orangtua Asteria, dia tetap harus waspada. Terlebih, baik Sabrina ataupun Navis posisinya sedang tidak ada.


"Jadi, apa yang menahanmu membawa Asteria?"


Memori semalam bergulir dalam benak Mauricio, "Lucas."


Sabrina memasang ekspresi kebingungan, dia tidak mengerti maksud sahabatnya. Mauricio yang menyadari, menjelaskan. "Saat aku berhasil menghubunginya, dan menanyakan keberadaanmu. Lucas menanyakan juga ada dimana diriku. Aku memberitahunya tanpa merasa perlu berbohong. Tapi seperti telah mengetahui rencanaku, dia memintaku agar jangan sampai berita keadaanmu diperdengarkan ke Asteria. Apalagi membawanya menemuimu. Dia mengkhawatirkan efeknya pada Asteria dan dia bilang itu akan semakin menyulitkanmu."


Tidak ada kata yang keluar dari mulut Sabrina, dia tidak tahu harus menanggapi apa. Fakta Lucas yang menyelamatkannya dari amukan Amber saja sudah sulit dia cerna, keadaan benar-benar terasa aneh sekarang setelah Sabrina mengetahui sisi lain Lucas. Padahal dia bekerja sama dengan Ibu Sabrina, bukankah dia seharusnya merasa puas dan melihat dari kejauhan saja mengetahui sejauh apa kesenjangan hubungan mereka sebagai Ibu dan anak? Kenapa dia bersusah payah menolong Sabrina, yang mana itu sama saja dia mempertaruhkan keberlangsungan kerja samanya dengan Amber? Di lihat dari sisi manapun keputusannya semalam tidak menguntungkan dia sama sekali.


"Aku rasa kita pernah bertemu dia jauh sebelum ini. Begitu melihatnya menyelamatkanmu, aku merasa seperti deja vu." Mauricio mengetuk-ngetukkan jari telunjuknya ke dagu, berusaha mengingat-ingat lagi.


"Mana mungkin. Perasaanmu saja kali." Sabrina menepis omongan Mauricio. Mana mungkin mereka pernah bertemu Lucas, kalau iya dia pasti langsung mengenali pria itu. Yah, kecuali pria itu hanya sekedar pernah melewatinya di jalanan. Tapi maksud Mauricio pernah bertemu itukan, orang yang setidaknya pernah mereka lihat berkali-kali atau berinteraksi setidaknya sekali pada mereka.


Mauricio sebenarnya mau membantah kalau tidak ingat kondisi Sabrina dan situasi mereka sekarang. Lebih baik dia menelan argumen, dan diam sebelum menemukan kepingan memori yang masih menjadi sebuah tanda tanya besar di kepalanya. Dia akan membuktikan kecurigaannya nanti. "Oh, iya. Aku belum mengabari Navis. Apa kamu mau memberitahunya?"


Bukannya menjawab, Sabrina melontarkan pertanyaan lain. "Apa Gayoung juga mengetahui kekacauan semalam?"


Mauricio menggeleng.


"Kalau begitu tidak usah." Cicit Sabrina. "Aku akan sembuh besok. Aku tidak apa-apa dan tidak pernah berada di rumah sakit, Cio." Sabrina berkata penuh arti. Mauricio yang mengerti, berat hati membeo. "Kau tidak pernah berada di rumah sakit, Bri."