
Sorotan lampu flash berturut-turut senada bergonta-gantinya pose yang menjadi objek pemotretan di sebuah studio. Seluruh staff tidak tertolong untuk tidak menonton proses tersebut walau bukan pertama kalinya bagi mereka bekerja sama, tetap saja mereka terbius oleh cara kerja model nomor satu yang berjalan sangat mulus tanpa memerlukan jeda sedikitpun. Tubuhnya terus bergerak, tanpa perlu mendapat arahan fotografer diselanya.
"That's all. Wrap it up guys!" Tepat di menit ke sepuluh sesi akhir, fotografer memutuskan foto yang dia ambil sudah cukup memenuhi semua kebutuhan majalah.
Para staff bertepuk tangan, bahkan bersorak mengagumi model yang secara tidak langsung menyingkat rata-rata waktu kerja normal mereka.
"It's always been an amazing time to work with you. Thanks for the experiences, Sabrina. We're more than excited for another project with you in the future." Ucap si fotografer mewakili perasaan para staff.
Sabrina tersenyum hangat, "Along with all of you guys as well. Thank you for having me and for your hard work."
Menghampiri monitor staff yang bertugas memilah hasil fotonya, Sabrina meminta diperlihatkan, fokus menilai dirinya sendiri dan memastikan kestabilan keterampilannya dalam berpose. Beberapa staff yang berada di dekatnya tidak segan memuji, dengan mengatakan seluruhnya terlihat sempurna hingga mereka kesulitan menentukan pilihan yang harus dirilis. Menyayangkan adanya batasan jumlah foto, padahal semua hasil pemotretan Sabrina layak masuk dalam majalah dan semua platform internet perusahaan mereka.
Tim wardrobe cekatan membantu Sabrina berganti pakaian ketika dia masuk ke ruang ganti. Tubuhnya seketika terasa seringan kapas, berkat beratnya properti gaun-gaun ekstravaganza sepanjang pemotretan tadi. Mauricio menyiapkan kopi vietnam kesukaannya untuk kali ketiganya hari ini, selagi rambut dan makeupnya di tata ulang bergaya natural kasual. Classic caesar salad ala Amber menjadi menu andalan makan siang Sabrina.
Mauricio berdecak muak membayangkan isinya. Baru sebulan dia bekerja menjadi asisten Sabrina, tapi dia sudah hafal diluar kepala berapa banyak spesifik isi tiap komponen salad itu berkat konsistensi Amber. Yang pastinya tidak mungkin cukup mengganjal perut, apalagi memenuhi gizi dan nutrisi Sabrina.
"Fresh fish and chips, your favorite." Mauricio membukakan langsung bungkusan pesanan onlinenya yang baru sampai.
Sabrina sumringah, "Woah, Cio. Kamu masih kenal aku baik ternyata. Haruskah aku terharu?"
"Ya! Kamu bercanda? Lebih baik kamu melakukannya." Mauricio memelototi Sabrina, menahan dirinya supaya tidak keceplosan mengucapkan hal lebih privasi di tengah orang-orang yang bisa saja membuat rumor baru, atau kemungkinan terparahnya dijadikan higlight akun gosip.
"Hahaha, baiklah. Terima kasih, asistenku!" Sabrina menekan kata terakhir yang dia ucapkan sengaja, dia senang membuat kesal Mauricio.
Mauricio tidak menanggapinya. Memerhatikan Sabrina yang melahap makanan favoritnya, dia tahu tidak seharusnya bersyukur di atas penderitaan Eva yang menjadi fokus utama Amber belakangan, sehingga setidaknya Mauricio bisa leluasa membantu Sabrina merasakan kebebasan yang selayaknya dia dapat walau bersifat sementara.
Navis datang menjemput Sabrina, menunggunya di lobi perusahaan memakai kaos konyol yang menyakiti pemandangan bagi Mauricio si anti romantis. Dia bingung kenapa Navis mau memakainya, dan kenapa juga Sabrina terlalu mengide menghadiahkan Navis barang tidak jelas. Memberi waktu pada pasangan kasmaran menyebalkan yang Mauricio yakin tidak diperlukan, sebab mereka selalu menghabiskan waktu bersama selain jam kerja. Mauricio memastikan pintu keluar utama aman dari kerumunan para paparazzi.
Ada beberapa yang terlihat menunggu. Lumayan mudah dihindari seandainya memang tidak ada lagi tambahan yang tengah bersembunyi.
"Pintu keluar di parkiran basement penuh." Lapor salah seorang bodyguard yang sengaja Mauricio tugaskan disana untuk mengelabui jalur Sabrina pulang, melalui sambungan telepon.
Lega taktiknya berhasil, Mauricio mengajak Sabrina dan Navis keluar dari gedung saat itu juga. Kedua lelaki sepakat membentuk formasi melindungi Sabrina, memposisikannya di tengah. Sedangkan Navis berada di depan, lalu Mauricio dipaling belakang.
Paparazzi yang tersisa bekerja keras mendapatkan hasil potret berisikan wajah Sabrina agar dapat terjual mahal. Tak tanggung-tanggung, mereka melontarkan beberapa pertanyaan provokatif menyangkut sang buah hati, berharap Sabrina paling tidak mengangkat kepalanya yang tertutup tudung hoodie kebesaran. Usaha mereka gagal total, Sabrina tidak berniat membiarkan mereka mendapatkannya sama sekali hingga akhir.
"Jangan lupa hadiri birthday dinner Asteria nanti," Sabrina mengingatkan Mauricio akan acara yang diselenggarakannya.
"Iya, aku tahu. Mana mungkin aku melewatinya, aku sudah berjanji pada Asteria. Dinner kalian bebas nenek sihirkan?"
Sabrina membola matanya mendengar pertanyaan Mauricio. "Nenek sihir itu Ibuku, Cio kalau kamu lupa. Tapi, yah. Dia tidak pernah hadir setiap ku undang tiap tahun, tahun ini pasti juga. Tenang saja."
* * *
Sabrina menonton penuh seksama, menikmati keakraban keluarga Navis, kedua saudara Sabrina, dan Mauricio pada Asteria. Satu luka Sabrina lainnya yang bukan tanggung jawab mereka terobati tanpa disadari.
"Kakak.." Menjauh dari kerumunan, Eva dan Willy menyapa Sabrina, memeluknya bergantian.
Cukup lama sejak terakhir berjumpa. Apalagi keduanya melewati agenda liburan bersama sebelumnya, karena kesibukan pribadi. Willy sibuk mempersiapkan launching toko busana pertama brandnya sendiri, Eva sibuk melarikan diri ke Eropa. Jujur, Sabrina sangat mengkhawatirkan keadaan Eva. Tapi, selama itu Eva mematikan ponselnya. Setelah pulang, jadwalnya yang tertunda membludak dan dia berada dibawah pengawasan penuh Ibu mereka. Ada banyak pertanyaan mendesak dalam benak Sabrina. Ketiadaan kekasih Eva disisinya tanpa alasan kurang lebih mengarahkan Sabrina memahami garis besar permasalahan yang mungkin sedang Eva lalui.
Membaca kekhawatiran Sabrina, Eva mengantisipasi. "I'm fine, Saby. I'll tell you later what happened, but, not tonight okay? It's Asteria's day."
Sabrina menghela nafas, mengangguk menyetujui bujukan Eva. Menyimak, Willy menunggu gilirannya untuk angkat bicara. "Pegawai paruh waktu tokoku, sudah dua kali tidak sengaja memergoki Ibu bertemu seorang lelaki muda di cafe teh tempat kerjanya yang lain. Bukankah ini terasa agak janggal? Kalau tentang pekerjaan kita, biasanya Ibu hanya mengurus melalui surel kan?"
"Kamu yakin pegawaimu tidak salah menyangka saja?" Skeptis Eva, pasalnya Ibu mereka bukan orang yang suka berbaur dengan lelaki kecuali keluarga. Namun permasalahannya, diantara keluarga mereka, satu-satunya lelaki muda ialah Willy. Semua keponakan Amber rata berjenis kelamin perempuan.
Willy awalnya juga tidak percaya, namun menurutnya pegawainya tidak sekadar membual. Dia menelusuri galeri ponselnya guna mencari bukti foto yang diberikan pegawainya. Dengan menggebu-gebu dia menunjukkan kepada Eva dan Sabrina, meminta validasi.
Menganalisa sebentar, baik Eva ataupun Sabrina mengonfirmasi bahwa orang yang ada di foto benar Ibu mereka, Amber. Walau fotonya tidak terlalu jelas karena sepertinya diambil dari jauh, mereka mengenali sosok Amber. Sementara sosok yang dicurigai membelakangi kamera, sehingga mereka tidak mampu mengenali.
"Unfortunately, dia tidak sempat mengambil bukti lain yang memperlihatkan wajah laki-laki itu karena dia hampir ketahuan."
"Jangan bilang Ibu menyukai lelaki muda? Memikirkannya saja terasa mengerikan." Eva menggeleng, berusaha mengenyahkan asumsi yang dia buat sendiri.
Willy bergidik, "Ya! Kakak gila?" Suaranya tertahan, enggan mengundang perhatian tamu lain. "Lebih masuk akal jika Ibu selama ini memiliki anak lain yang dia rahasiakan."
Belum sempat membahas lebih dalam, para pramusaji masuk mengantar hidangan pembuka. Ketiganya menunda pembahasan tersebut, menempati kursi masing-masing. Mereka bersepakat akan meluangkan waktu khusus di sela jadwal kerja sekalian membahas permasalahan Eva.
Sabrina mengernyitkan alisnya, begitu matanya menangkap hidangan yang baru saja disajikan ke hadapannya berbeda dari set yang seingatnya dia minta Navis pesankan. "Sayang, kamu pesan set lain?"
Navis menggeleng kebingungan di sisinya. "Maaf, sepertinya ada kesalahan. Saya memesan set yang lain." Ucapnya pada Pramusaji yang tersisa.
"Maaf tuan, tapi tadi kami menerima permintaan perubahan menu oleh seorang nyonya yang mengaku sebagai penanggung jawab reservasi atas nama Asteria. Dan pesanannya telah dibayarkan."
Semua orang yang mendengar turut kebingungan. Tidak ada tamu perempuan yang merasa melakukan itu, termasuk Sabrina. Di tengah keanehan yang terjadi, suara ketukan teratur heels menapaki lantai ruangan yang terlapisi karpet merah mendekat. Semua pandangan teralih, diikuti keterkejutan akan pemandangan tidak terduga di hadapan mereka.
Dalam hati, mereka semua kini serentak menetapkan tersangka dibalik insiden kecil barusan.
"Oma datang?" Hanya suara polos Asteria yang sanggup menyapa kehadiran Amber.
Jantung Sabrina terpacu kian tidak teratur dalam sekejap. Wajahnya memerah menahan amarah. Hatinya hancur berkeping-keping. Bukan karena kehadiran Amber, melainkan keputusan Amber mengikut sertakan sosok yang datang bersamanya. Seumur hidup, Sabrina baru kali ini merasa seputus-asa dan seterkhianati ini oleh kelakuan Ibunya.
Amber tersenyum puas di atas ketidak berdayaan Sabrina. "Beri salam sayang sama tamu khusus yang Oma bawa."