
"I feel so bad, i can't make it to Willy's grand opening with you." Ungkap Navis yang hanya bisa memerhatikan Sabrina dari pantulan cermin, karena dia sedang di kelilingi hairstylist dan makeup artist.
Dengan matanya yang tertutup, Sabrina mengulurkan tangannya mengisyaratkan Navis agar meraihnya. Saat merasakan Navis menggenggam tangannya, Sabrina balas menenggelamkan jari-jarinya yang seketika berubah mungil jika disandingkan bersama jari-jari Navis ke sela-selanya. Dia mengerti kekhawatiran Navis akan kehadiran Amber juga pada acara ini, Navis tidak tenang karena secara tidak langsung harus merelakan Sabrina pergi menghadapi Amber. Dia tidak ingin Sabrina tersakiti lagi.
Tapi disisi lain dia sendiri harus pergi ke bandara dalam waktu yang sama, seperti waktu dimulainya acara pembukaan butik Willy karena dia ada jadwal pemotretan untuk sebuah brand ternama, sebagai brand ambassador yang tidak bisa dia tunda lebih lama lagi. Mereka sudah sangat berbaik hati membiarkannya melewatkan hari dimana jadwal sebenarnya tanpa memberi sangsi apapun, yang mana kala itu dia pilih untuk habiskan berada disisi tunangannya yang kesehatan mentalnya tengah tidak baik-baik saja.
"It's okay. Ada Cio yang menemani aku. Walaupun Willy akan sibuk, Eva bahkan Gayoung juga ada disana. Kamu jangan terlalu khawatir, dan jangan lupa istirahat yang cukup sebelum pemotretan."
Navis mencium punggung tangan Sabrina, lalu membawa tangan Sabrina ke pipinya. "Kamu mau aku nyusul kamu ke New York selesai dari grand opening Willy?" Tanya Sabrina, mengusulkan ide.
Tapi Navis menggeleng, "Nanti kamu kelelahan. Biar aku saja yang ambil jadwal penerbangan paling awal setelah pemotretan."
Para hairstylist dan makeup artist yang melihat keromantisan mereka berusaha profesional tidak menginterupsi diantara percakapan pasangan manis yang sedang bercengkerama seakan tidak ada siapapun selain mereka berdua, meskipun sedikit tersinggung sekaligus membuat iri kehidupan lajang yang ikut terjebak. Apalagi mereka bukanlah pekerja yang biasa menangani Sabrina, jadi mereka tidak mau dinilai tidak sopan saat meninggalkan komentar sekalipun itu bermaksud memuji pasangan model papan atas ini yang termasuk menjadi pasangan paling disorot seantero dunia entertainment.
Semua rumor yang pernah mereka dengar diluar sana yang mengatakan adanya keretakan dalam hubungan mereka, serta mengatakan kemungkinan terbesar keduanya sudah berakhir menguap tidak tersisa. Mereka bingung bagaimana bisa ada rumor yang meleset sejauh itu dari kenyataan.
Selesai Sabrina dirias, mereka menyempatkan diri menyinggahi kamar Asteria untuk mengecek keadaan puteri kecil mereka. Asteria baru selesai menyikat gigi dan berganti memakai piyama ditemani baby sitter yang sesekali Sabrina panggil ketika dia dan Navis punya jadwal yang sama. Sabrina memang sengaja tidak pernah mempekerjakan baby sitter khusus menjaga Asteria penuh waktu. Sejak pertama kali memutuskan ingin memiliki anak, dia bertekad akan berkontribusi langsung dalam membesarkan anaknya tidak perduli sesibuk apapun dia. Sebisa mungkin dia menghindari campur tangan orang lain, kecuali memang di keadaan mendesak.
Sementara baby sitternya diminta meninggalkan mereka bertiga saja sebentar, Asteria berlari ke arah Navis minta di gendong. Navispun menggendongnya. "Mama is looking so pretty, right honey?"
"Iya, Pa. Mama cantik sekali." Puji Asteria, matanya berbinar-binar melihat kecantikan Ibunya.
"Haha, terima kasih. Asteria juga cantik sekali."
"Iya dong, kan Asteria anak Mama!"
Menurunkan Asteria di ranjang, Navis dan Sabrina lalu ikut naik, mengapit Asteria di tengah-tengah. Di tangan Sabrina terdapat sebuah buku dongeng yang menceritakan tentang seorang puteri berambut panjang yang terjebak di dalam menara, kesukaan Asteria. "Malam ini Asteria mau dibacain cerita sama Mama, atau Papa?"
"Papa bilang, Papa pulangnya dua hari lagi. Jadi Papa saja yang bacain, besok malam baru Mama."
Buku dongeng berpindah ke tangan Navis. Tanggung jawab membaca buku diserahkan pada Navis sepenuhnya, seperti yang puteri mereka inginkan.
* * *
Kilatan flashlight beruntun menyambut kedatangan Sabrina di depan butik kepemilikan adiknya yang dinamai Hierarchy, berlokasi di kawasan elit disepanjang jalannya mata hanya akan menemukan butik-butik ternama. Sabrina melenggang elegan sambil sesekali melambai, tanpa harus repot memikirkan berpose. Toh, ini acara milik adiknya, dia tidak perlu sungkan. Tidak ketinggalan Mauricio yang mengintilinya dari belakang.
"Kakak!" Eva dan Gayoung, adik Navis serentak menyapanya begitu melihat kehadirannya. Mereka tadinya menyicipi beberapa hidangan bite size di standnya langsung dekat pintu masuk.
Keadaan sekitar benar-benar ramai, Willy mengundang banyak sekali tamu di grand opening butik pertamanya. Dan yang pasti mereka semua merupakan tamu-tamu kehormatan yang tidak bisa disepelekan. Mulai dari rekan sesama model, artis, hingga designer brand berkelas dan banyak lagi yang berkecimpung di seputar dunia perfashionan. Sabrina cekatan memberi sinyal agar Eva dan Gayoung yang sudah berancang-ancang mau berlari ke arahnya menjaga sikap mereka. Eva yang menangkap, menyikut lengan Gayoung. Di sekeliling mereka satu-persatu tamu mulai berhenti bercengkrama, berpaling menyadari orang yang paling mereka tunggu akhirnya hadir.
Yang tadinya semua membentuk lingkaran masing-masing membelakangi satu sama kelompok lain, kini melongok ke satu arah mengekspos wajah mereka, memudahkan Sabrina mengenali semuanya lebih baik. Tidak terkecuali Ibunya, Amber dan Willy yang ada di paling depan barisan para kelompok borjuis. Willy melangkah pasti kepadanya, senyum kemenangan terbit di bibirnya seumpama permainan mencari harta karun, semua orang berharap mereka yang beruntung mendapatkannya, tapi Willy yang mendapat lebih dulu dan berhak atasnya. Pesona Sabrina memang seberpengaruh itu.
Yang Sabrina tidak habis pikir, dia menemukan Lucas ternyata juga ada disana. Dia hampir menyangka kalau-kalau pikirannya yang masih kusut berhalusinasi, tapi sayangnya Eva mengonfirmasi penampakan Lucas adalah kenyataan. Apa gunanya seorang CEO perusahaan otomotif datang ke acara fashion? Apa yang Amber rencanakan sebenarnya? Mengingat Willy tidak mungkin mengundang sendiri Lucas.
"Sis, finally. Would you do me a favor, please?" Setengah berbisik Willy memeluk Sabrina. "Everyone has been waiting on you, tolong temani aku sapa mereka ya Kak?"
Sebagai seorang Kakak, Sabrina tentunya tidak menolak permintaan Willy. Dari satu kelompok, ke kelompok lainnya mendapat kesempatan sama untuk menyapa dan mengajak Sabrina bertukar pikiran sejenak tanpa melupakan Willy sebagai tuan rumah sesungguhnya dengan tetap melibatkan dia dalam tiap aspek topiknya.
Kemudian, inti acarapun diselenggarakan. Willy berpidato, secara singkat menjelaskan perjalanan kerja kerasnya demi membangun usaha ini sendiri, makna di balik pemilihan nama brandnya, harapan dia kedepannya untuk brand ini, ucapan terima kasih, dan terakhir Willy melakukan pemotongan pita peresmian. Semuanya berjalan lancar. Seluruh orang lanjut bercengkerama setelah peresmian.
Sabrina, Mauricio, adik-adiknya dan adik Navis rata berpencar. Menghabiskan waktu, membuka diri mereka dengan kelompok pilihan mereka.
"Omong-omong, cincin berlian yang Nona Sabrina pakai terlihat sangat serasi." Sabrina mengangkat tangannya, memperlihatkan cincin yang tersemat di jari manisnya yang menuai pujian. Seulas senyum terukir di bibir Sabrina, terbayang Navis.
Teman-teman model lainnya membeo.
"Ya, benar. Sangat indah, kalau tidak keberatan apa kamu mau memberitahu tokonya?"
"Come on, Zena. Even if you wear the same ring, it wouldn't be the same as Sabrina pull this look." Sarkas perempuan keturunan timur tengah, yang Sabrina kenal bernama Aaliyah kepada perempuan sebelumnya. Sabrina hampir mengira ada ketegangan pribadi di antara keduanya, maklum saja dia sangat jarang meluangkan waktu untuk mengenal lebih dalam model-model lain selama ini, selain karena jam terbang kerjanya yang padat dan berorientasi pada keluarga, Sabrina akui dia sulit membuka diri karena permasalahan hidupnya. Seandainya yang lain tidak tertawa dan menjelaskan mereka justru sahabat dekat.
"Mana bisa begitu, Nona Sabrina jangan dengarkan Zena."
"Menyerahlah, Zena."
Zena yang di ganggu teman-temannya tambah merengut. Sabrina tidak tega melihatnya dijahili memantapkan hati menjelaskan yang sebenarnya, "Sejujurnya saya sendiri tidak tahu cincinnya berasal dari toko mana. Cincin ini kebetulan pemberian Navis."
"Is this a wedding ring?" Zena menebak.
Sabrina mengangguk ragu, "Maybe? Saya tidak tahu apakah cincin ini yang akan kami pakaikan ulang di altar nanti, Navis masih menyembunyikan sebagian besar persiapan pernikahan."
Rahang mereka semua nyaris terjatuh, mendengar Sabrina yang baru saja secara tidak langsung menyiratkan dia akan segera menikah. Sabrina Hirai, role model banyak orang, terutama kaum hawa yang tertarik memulai karir menjadi model, mereka merasa antara terharu dan sedikit tidak rela mengetahui informasi ini. Mereka baru mau mengucapkan selamat atas kabar bahagia tersebut, saat Sabrina di tarik begitu saja dari hadapan mereka oleh Ibunya.
Amber melepas kasar cengkeramannya setelah memastikan dia membawa Sabrina ke tempat yang aman dari kerumunan. "Apa maksud perkataanmu tadi?!"
"Yang mana? Tentang cincin ini?" Sabrina menunjuk cincinnya.
"Cincin pernikahan? Apa maksudmu?!"
"Navis melamar lagi dan mengatakan dia mau menikahiku secara sah."
"Lalu kau menerimanya?!"
"Tentu saja. Aku juga berpikir kali ini kami benar-benar siap, Bu. Kami berniat memberitahu Ibu dan anggota keluarga--"
Wajah Sabrina terlempar ke sisi kiri, bagian pipi kanannya berdenyut kuat. Telinganya berdenging sesaat, serta rambutnya yang tergerai rapih jatuh menutupi setengah wajahnya. Hanya deru nafas memburu Amber yang dia dengar begitu pendengarannya memulih.
"Are you out of your mind?!" Amber menjambak asal rambut Sabrina, memaksanya menatap langsung Amber.
"Memangnya kau pikir kau siapa memutuskan hal itu?! Dasar anak sialan!" Satu tamparan kembali jatuh di pipi kanan Sabrina.
"Semakin hari semakin berani saja kau melangkahiku! Tampaknya kau sudah termakan sepenuhnya oleh bualan laki-laki sialan itu ya?" Amber menoyor kepala anak tertuanya itu, tertawa sinis. "Dasar perempuan bodoh murahan! Aku membesarkanmu susah payah, mendidikmu menjadi perempuan terhormat, dan karena satu laki-laki sekarang kau mau mencampakkan semuanya dan memberikan tubuhmu untuk diperbudak begitu saja!?"
"Sudah ku bilang kan, aku mengizinkanmu mendekatinya bukan mengizinkanmu menikahinya!"
Sabrina memegangi tangan Amber yang menarik rambutnya terlalu kencang. Dia meringis kesakitan, "Ibu, sakit.."
Amber menggeleng, "Aku harus mengajarimu dari awal, ya, belum terlambat." Gumamnya pada diri sendiri. "Ah, sial! Kau membuang banyak waktuku saja!" Geramnya, mendorong Sabrina kuat. Tubuh Sabrina yang melemah tergeletak di lantai.
Mauricio menatap tidak percaya apa yang dia lihat dengan mata kepalanya barusan. Dia sudah mendapat firasat buruk sejak mengikuti Amber dan Sabrina, setelah tidak sengaja melihat Sabrina di tarik menjauhi kerumunan. Dia tahu hubungan mereka tidak baik. Selama bertahun-tahun Sabrina menyembunyikan pertemanan mereka dengan alasan dia ingin setidaknya memiliki seorang teman tanpa sepengetahuan Amber, agar pertemanan mereka lebih bebas. Dia mengira Amber mungkin jenis Ibu yang terlalu over protektif, observatif, dan kuno. Bukannya seorang monster seperti ini.
"Apa yang kau lakukan? Kenapa kau diam saja?" Sebuah protes berlalu di telinga Mauricio, dia terhuyung setelah bahunya di senggol cukup kencang. Mauricio hanya bisa memerhatikan sosok itu yang berlari ke arah keributan.
"Anak kurang ajar!" Teriak Amber kesal, tunjangan yang hendak ia tujukan ke Sabrina di tahan.
"Cukup, Nyonya." Lucas menatap Amber tajam.
"Ini bukan urusanmu! Pergi!" Amber memukul-mukul pundak Lucas yang segera menggendong Sabrina, menghalangi Amber memberikan pelajaran lebih lanjut kepadanya.
"Ibu!"
Di detik terakhir, kedua adik Sabrina muncul. Lucas yang menahan emosi mati-matian, memberikan ultimatum.
"Cepat urus Ibu kalian, sebelum aku membalas perbuatannya persis seperti yang dilakukannya kepada Sabrina."
Aura lelaki itu berubah gelap, dan menyeramkan. Mauricio yang tidak disuruhpun tubuhnya otomatis bergerak membantu Willy dan Eva menahan Amber yang masih mengamuk. Di tengah kekalutan, entah kenapa, Mauricio justru merasa dirinya mengalami deja vu. Dia percaya Lucas bukanlah sosok yang terlalu asing di kehidupan dia, atau Sabrina.