Between The Leongs

Between The Leongs
One Step Forward, Two Steps Back



Menurut pendapat kebanyakan orang pencapaian tertinggi dalam hidup ialah meraih kesuksesan mutlak. Secara harfiah, bergelimangan harta, berkuasa, dan diakui dalam pandangan seluruh kalangan sebagai sosok yang tidak mudah di gapai. Menjadi bagian dari golongan kapitalis lebih terperincinya. Siapa yang tidak mendambakan privilegenya terlebih di masa penuh kesadaran seperti sekarang?


Hal tersebut pula yang membawa Lucas sampai di titik tersebut hari ini. Meskipun terlahir dari garis keturunan konglomerat ternama, Lucas bukan siapa-siapa selain kebetulan menyandang nama belakang Leong setidaknya hingga empat tahun belakangan.


"Baik, kepada Tuan Lucas Leong atau kuasa hukumnya selaku penggugat dipersilahkan menyampaikan keterangannya dan poin-poin apa saja yang sekiranya ingin disepakati."


"Terima kasih.." Samuel mendadak harus menahan suaranya keluar lebih banyak, karena disisinya Lucas mengangkat tangan memberinya isyarat.


Lucas berdeham, "Saya akan menyampaikan bagian saya sendiri. Sehubung ini bukan persidangan, saya pikir tidak ada salahnya saya berbicara lebih santai benar mediator?"


"Iya, tidak apa-apa. Kedua pihak diperbolehkan melakukannya, selama sama-sama merasa nyaman. Bagaimana Nyonya Sabrina?"


"Saya tidak keberatan, selagi pihak penggugat masih berlaku sesuai tata krama." Ucap Sabrina penuh ketenangan, tatapannya terkesan dingin ketika berpapasan manik mata Lucas.


"She doesn't remember me, isn't she?" Lucas bergumam dalam hati, pandangannya tidak dapat teralih dari Sabrina yang duduk anggun di hadapannya.


"Boleh saya bertanya beberapa hal mengenai anak saya?"


"Bukannya anda sudah mencari tahu semuanya? Dan, jangan terlalu cepat mengklaim anak saya sebagai anak anda. Saya punya hak penuh untuk menuntut balik anda, kalaupun kenyataannya anda terkait. Anda tahu kan kontrak apa yang sudah anda tanda tangani, jika anda memang orangnya?" Tutur Sabrina to the point, dia muak pada kelakuan Lucas yang berusaha terlalu keras mendekatkan diri.


Naif sekali kalau dia berpikir Sabrina tidak mengetahui cara para kaum konglomerat bergerak. Orang awam sekalipun jelas tahu hal paling mendasar ini.


"Saya tahu anda akan berlaku begini. Dan sudah mempersiapkan semuanya supaya tidak kalah atas apapun yang anda tuntutkan kedepannya, Nyonya Sabrina."


Gestur tubuh santai, serta nada bicara yang tidak mencerminkan sedikitpun rasa gentar Lucas sungguh mengusik nalar Sabrina. Dengan emosi tertahan Sabrina mengepal tangannya di bawah meja, "Iya, sebaiknya begitu. Karena saya pastikan lawan anda ini bukan orang yang mudah dikalahkan dan bukan pula orang yang menyukai kekalahan."


Perasaan Lucas mulai gusar. Sabrina tampaknya tidak menangkap niat Lucas yang ingin membahas perihal buah hati mereka secara baik-baik.


"Saya salah, saya akui. Tapi, saya tidak bisa berhenti memikirkan mengenai keberadaan anak saya dan ingin ikut andil dalam kehidupannya sebelum semuanya terlambat. Saya sudah melewati banyak perkembangannya."


Sabrina mendengus, "Secara hukum, material, terutama batin, anak saya tidak pernah kekurangan apapun. Dia dibesarkan oleh sosok figur Ayah terbaik, dia baik-baik saja dan tumbuh menjadi anak yang periang. Meskipun anda nanti terbukti sebagai ayah biologisnya, anda tidak akan lebih dari sekadar orang asing. Jadi saya rasa tidak ada yang perlu anda khawatirkan, tidak ada yang terlambat hadir dalam hidup anak saya. Karena anda memang tidak pernah jadi bagian dalam keluarga kami."


Bibir Lucas terkatup, rapat.


Setiap perkataan Sabrina tidak ada yang meleset dari kebenaran. Lucas tahu, satu-satunya kesalahan yang ada hanyalah keberadaan perasaan sepihak miliknya. Oleh sebab tersebut dia telah berusaha mempersiapkan dirinya selama bertahun-tahun.


Walau begitu, hatinya ternyata tetap belum siap dan terasa sakit ketika mendengar semuanya keluar dari mulut Sabrina.


"The best thing you could do is stay as far as you can from her, if you really think that she is your biological daughter. That's it." Tutup Sabrina tegas.


Punggungnya perlahan semakin jauh dari radar Lucas.


"Apa yang kamu lakukan?!" Seruan suara wanita paruh baya yang tidak dihiraukan Sabrina menjadi pengalih perhatian Lucas.


Pembawaan diri elegan nan arogan yang khas. Benar. Lucas ingat dia siapa meski perawakannya berada cukup jauh untuk dapat dikenali.


Alasan Lucas tersadar, menjadi pengecut yang memilih menyimpan perasaannya pada seseorang karena rasa rendah diri merupakan sebuah kebodohan besar.


Kaki Lucas bergerak dengan sendirinya menuju sosok yang sepanjang umur Sabrina anggap sebagai mimpi buruk dalam hidupnya.


...* * *...


Amber mengangguk pelan setelah menyesap teh chamomile pilihannya. Menyetujui pendapat dikepalanya yang menyatakan bahwa dirinya memang tidak pernah membuat kesalahan dalam memilih.


"Saya tidak akan mendengar ucapan terima kasih bukan dari seorang CEO Leong Group?" Singgung Amber sengaja.


Dia cukup penasaran sejauh apa Lucas telah berubah, selain statusnya yang melejit jauh dibanding terakhir mereka bertemu.


"Tentu saja. Saya tidak mungkin berterima kasih pada orang sekejam anda Nyonya Hirai. Tapi, saya juga tidak bisa menampik kenyataan bahwa tanpa pertemuan kita di masa lalu, saya tidak akan menjadi diri saya yang ada sekarang."


Bibir Amber tersungging sebelah, "Lihat, siapa yang berkata kejam. Lalu bagaimana dengan anda sendiri Tuan Leong? Bukankah anda berencana menghancurkan karir anak saya yang telah saya jaga dan besarkan namanya susah payah, sekaligus keluarga harmonisnya?"


Lucas bergeming, dalam hati menguatkan dirinya agar lebih fokus pada tujuan utama dia mengubah total kehidupannya. Tidak boleh termakan rasa bersalah, ini semua hanya sebagian dari proses. Yang penting dia tahu dia tidak pernah berniat buruk terhadap orang lain. Dan Lucas harap Sabrina nantinya dapat memahami maksud Lucas.


"Bukannya anda yang paling tahu, bahwa semua yang saya bangun bertahun-tahun demi menyokong popularitas Sabrina kelak?"


"Lalu menggunakan Asteria sebagai pion? Anda tahu itu sia-siakan? Ckck.. Anda cukup mengecewakan ekspektasi saya, Tuan Leong."


"Mengenai Asteria murni atas kemauan saya sebagai Ayah kandungnya. Saya tidak sepicik anda Nyonya Hirai."


"Picik?" Alis Amber mengernyit.


Diam-diam dia sudah selesai memindai, membaca dan menilai keseluruhan bahasa tubuh Lucas selayaknya halaman buku yang terbuka lebar.


"Tuan Leong, anda melukai perasaan saya. Sungguh. Apa ini tujuan anda mengajak saya minum teh bersama? Jika demikian, sebaiknya kita selesaikan pertemuannya sampai disini." Lanjutnya, dia berekspresi tidak nyaman yang kentara dibuat-buat. Secara terselubung mempermainkan Lucas, mendesaknya menjelaskan apa maksud sejujurnya meminta waktu luang Amber.


Lucas tersenyum tipis. "Anda sangat tidak sabaran Nyonya Hirai. Padahal saya masih ingin sedikit berbasa-basi. Baiklah, mari kita bahas kesepakatan yang anda nantikan."


"Beberapa saat sebelumnya anda menghina saya. Sekarang, anda ingin membuat kesepakatan?"


"Saya hanya berusaha menjadi orang yang jujur, Nyonya. Sekalipun anda musuh bagi Sabrina, bahkan putri saya. Saya masih memerlukan anda untuk mendekati mereka lebih dulu demi menyelamatkan mereka sekaligus." Terang Lucas tanpa menyembunyikan sama sekali isi hatinya.


Intensitas di sekeliling mereka meningkat. Baik Lucas atau Amber tidak ada yang mau mengalah memutus kontak mata. Amber nyaris berdecak kagum dibuat Lucas atas perubahannya.


"Menarik. Saya suka kepribadian baru anda, Tuan Leong."


Mulai darisini dewi fortuna sepertinya mulai berpihak pada Lucas.