
Peristiwa yang terjadi di acara makan malam ulang tahun Asteria membekas bagi semua orang yang hadir. Beberapa mungkin mendapatkan kesan baik, tapi sebagian besar masih harus mencerna momennya dan bertabah. Terutama Sabrina. Meski merasa dicurangi, ditusuk dari belakang oleh Ibunya sendiri, dia justru merasa lebih bersalah jika dia memendam amarah dan berharap hari itu tidak pernah terjadi padahal Asteria sangat bahagia. Setidaknya Lucas maupun Amber tidak membuat kericuhan, dan menyampaikan hal-hal yang berpotensi mengguncang nalar Asteria.
"Kakak, awas!" Pekikkan Eva nyaris memekakkan telinga Sabrina. Pisau yang tadinya Sabrina pakai memotong buah direbutnya paksa, sambil mengomel.
Sabrina masih setengah tersadar dari lamunannya, sementara Navis yang tadinya menemani Asteria menggambar di ruang keluarga datang ke dapur karena mendengar keributan. "Ada apa? kenapa ribut-ribut?"
Eva menunjuk Sabrina, "Kakak melamun tadi saat memotong buah, kalau saja aku tidak datang jarinya pasti sudah terluka kena pisau."
Navis menghela nafas, menghampiri Sabrina yang kini memahami apa yang baru saja terjadi. "Maaf, aku tidak sadar. Aku kepikiran sesuatu sekilas. Aku akan selesain dengan baik." Sabrina megusap wajahnya gusar.
"Bri, jangan paksain diri kamu. Take a rest if you need it." Menggenggam pelan-pelan bahu Sabrina, Navis berlaku seolah tubuh Sabrina sesuatu yang sangat rapuh dan perlu dijaga sehati-hati mungkin.
"Let me finish it, first. I promise i won't get distracted again." Bujuk Sabrina. Tapi, Navis tidak mengindahkan permintaannya. "Bawa Sabrina ke ruang keluarga, Eva. Atau ke kamar sekalian supaya bisa istirahat lebih nyaman, biar aku yang mengambil alih disini."
Eva setuju, dan menarik Kakaknya menjauh. Sabrina mau tidak mau mengikuti. Dia kalah jumlah kalaupun kukuh mempertahankan posisinya di dapur. Eva ingin sekali membawanya ke kamar langsung, apa daya Asteria malah menyapa ketika melihat mereka.
"I want to stay with Asteria," Tanpa menunggu reaksi Eva, Sabrina beralih sepenuhnya pada Asteria. Mengambil tempat dia duduk dekat puterinya di sofa.
"What do you think about my drawing, Mama, Auntie?" Asteria menunjukkan gambarannya berupa seorang lelaki bersetelan jas yang berpegangan tangan dengan gadis kecil. Sabrina menelan perasaannya sendiri, kemudian mencoba tersenyum seceria mungkin. "Woah, so good. Good job, honey."
"Yeah, you are so talented. That looks pretty." Eva memuji keponakannya sepenuh hati, gambaran Asteria memang bagus dan jauh diatas anak seusianya. Saat bersamaan merasa prihatin juga terhadap Sabrina karena siapapun yang melihatnya pasti tahu siapa orang pada gambaran tersebut.
"Om Lucas pasti suka gambaran Asteria juga kan nanti?"
"Iya, sayang. Pasti suka dong, gambaran Asteria kan yang terbaik." Sabrina meyakini puterinya, hingga keraguan Asteria terhapus berkat Sabrina.
Kehadiran Navis yang membawa sepiring buah-buahan potong, membantu banyak disituasi penuh krisis Sabrina. Asteria sibuk memakan buahnya, dan membicarakan topik selain Lucas dengan Navis sebagai lawan bicaranya. Eva menarik kakinya ke sofa, lalu memeluk kakinya sendiri sambil menumpukan sisi kiri wajah diatas dengkul. Matanya menatap lurus Sabrina.
"Bagaimana caranya menjadi sekuat Kakak?"
Membalas tatapannya, Sabrina hanya tersenyum. "Aku bisa kuat juga kan karena ada kamu, Willy, Navis, Asteria dan semua yang selalu ada buatku. Tanpa kalian semua mustahil aku bisa seperti ini."
"Aku jadi malu, baru putus cinta biasa saja langsung melarikan diri. Hehe." Eva menyengir, berbarengan tangannya menggaruk tengkuk. Dia sudah tuntas menceritakan semua permasalahan yang menyebabkan dia pergi tiba-tiba keluar negeri tanpa mengabari siapa-siapa ke Willy dan Sabrina beberapa jam lalu. Hanya saja Willy tidak bisa berlama-lama menghabiskan waktunya bersama kedua saudarinya, dia masih memiliki tanggung jawab atas pekerjaannya yang tidak bisa dilewati.
"Putus cinta juga bukan masalah sepele kok. Jangan membandingkan diri kamu sama orang lain, setiap orang punya batas masing-masing. If it hurt, then it hurt. Periodt."
"Eh, Auntie Eva lagi period ya Ma? Aduh, kasihan banget Auntie kesakitan. Papa tolong ambilin ice cream di freezer deh buat Auntie, kalau Eri kan belum sampai." Asteria tiba-tiba nimbrung, setelah mendengar tanpa sengaja sedikit obrolan Ibu dan Tantenya, yang membuatnya salah mengira maksud obrolannya.
Keseriusan situasi memudar, keduanya justru akhirnya tertawa lepas. Di tambah melihat Navis sebenernya sempat berusaha menjelaskan kesalahpahaman Asteria, berujung kalah dan pasrah dipaksa Asteria mengambilkan ice cream untuk Eva yang dia percaya tengah menahan kram perut.
* * *
"Promise me you will behave well, and be a good girl to Kakek and Nenek?" Sabrina menyodorkan kelingkingnya di hadapan Asteria. Yang mana bersambut balasan tautan kelingkingnya. "Pinky promise, Mama."
Dahi Asteria dikecup penuh kasih sayang, lalu Sabrina mundur memberikan ruang agar Navis bisa memasangkan seatbelt Asteria sekaligus memberikan ucapan perpisahan.
Asteria dijemput orangtua Navis, dan akan menginap di rumah mereka selama beberapa hari atas keputusan bersama.
"Terima kasih banyak Bu, Ayah, atas perhatiannya." Ucap Sabrina, pada kedua orangtua Navis yang berada di dalam mobil.
Rosalia meraih tangan Sabrina yang berdiri disisi mobil melalui jendela yang terbuka lebar, "Jangan khawatir, kamu fokus tenangin diri ya."
Sabrina mengangguk.
"Have fun, and enjoy your date." Goda Pilyoung dari balik kemudi membuat Sabrina terkekeh.
"Asteria, kiss bye Mama, Papa dulu sayang."
Menuruti kata-kata Rosalia, Asteria melayangkan cium jarak jauhnya untuk Sabrina dan Navis.
"Bye, sayang. I love you.."
"Love you, Eri. Have fun!"
"Bye-bye, I love you too Mama, Papa!"
Keduanya tidak beranjak pergi hingga mobil milik orangtua Navis benar-benar hilang dari pandangan. Navis setia memeluk pinggang Sabrina sepanjang menuju unit apartemen mereka, bahkan tidak sungkan meninggalkan kecupan-kecupan ringan di pucuk kepala Sabrina. Selama berada dalam lift, Sabrina balas memeluk, dan menyandarkan kepalanya manja dalam dekapan Navis.
"Wanna do a movie night?" Tawar Navis saat mereka sampai. Sabrina tidak menemukan alasan kenapa dia harus menolak tawaran yang terdengar cukup menyenangkan itu, jadi dia menerimanya.
Navis yang menduga Sabrina akan menolaknya mengingat Sabrina sedang berada pada fase mood tidak terbaca, senang bukan main, dan mempersiapkan segalanya secara mendetail. Mulai dari cemilan dan minuman, merubah setelan sofa jadi kasur, menyusun bantal-bantal dan selimut sesuai posisi nyaman Sabrina. Sementara Sabrina hanya perlu memilih tontonan yang dia inginkan.
Sayangnya mereka tidak menyelesaikan film hingga akhir. Sabrina agaknya terlalu percaya diri saat memutuskan pilihannya menonton genre zombie. Dia menyerah di pertengahan film, dan terlanjur kehilangan semangat untuk menonton film lain, serta nafsu makannya. Navis tidak kehilangan akal, mengajak Sabrina menghabiskan sisa malam mereka melakukan aktifitas memanjakan diri.
Mandi bersama di bath up, memakai skincare bersama di wastafel double yang ada di kamar mandi mereka, dan tahap terakhir saling memakaikan masker sambil mendengarkan meditasi. Semuanya dilakukan bersama, berduaan lebih tepatnya. Nampaknya usaha-usaha Navis membangun kenyamanan di sekeliling Sabrina, tidak terbuang percuma, Sabrina terlihat lebih stabil dan air mukanya berubah lebih damai.
"Thank you," Gumam Sabrina, matanya tidak lepas memandangi Navis yang membersihkan masker di wajah Sabrina.
"Hm?"
"Thank you, for everything you've done tonight. I really appreciate it."
"Then would you please pay your bill, pretty?"
"How can i pay for your hard work mister Seo?"
"I only accept a cuddle for the payment though. Wait a minute.." Navis Menepuk kedua tangannya, dan pencahayaan utama kamar mereka mati. Yang tersisa hanya ada cahaya lampu tidur, di nakas samping ranjang.
Dia kemudian merebahkan diri, merentangkan lebar tangannya. Sabrina yang paham segera merapat, melingkarkan tangannya di pinggang Navis. Membiarkan Navis mengungkungnya pada dekapan hangat yang paling dia sukai.
"Bri,"
"Ya?"
"I need to tell you something."
"What? That you love me?"
"Itu pasti, sayang. Tapi ada yang lain juga."
Sabrina mengernyitkan dahinya, Navis tiba-tiba bangun dan menariknya untuk ikut duduk. Dia mengambil sesuatu dari balik bantal, tapi Sabrina tidak bisa melihat jelas. Pertama karena ukurannya kecil tenggelam di genggaman Navis, kedua cahaya kamarnya terlalu redup.
"Aku tahu mungkin keadaan hidup kita sekarang tidak begitu mendukung. You're also not in the best feeling. But, as i always said, aku mau ambil bagian dalam hidup kamu. Saat kamu bahagia, saat kamu sedih. Aku mau kita melalui semuanya bersama sebagai suami-istri. Walau aku tahu kita sudah memutuskan saling menganggap hubungan kita sebagai rumah tangga sesungguhnya, tapi, kali ini aku serius mau kita melanjutkan semuanya secara sah. Di akui di mata tuhan, di mata hukum negara." Perlahan Navis menyodorkan tangannya, memperlihatkan kotak berisi cincin berhias berlian. "I already asked you before, but, Sabrina Hirai, will you marry me this time for real?"
Air mata yang bergerumul dibalik pelupuk mata Sabrina tumpah. Dia menangis terharu. "Yes. I will, Navis."
Navis menggantikan cincin tunangan mereka, dengan cincin yang baru sebagai pertanda kesiapan mereka memulai awal baru.