Between The Leongs

Between The Leongs
Birthday Present



Angin sepoi berhembus masuk melalui celah jendela yang tidak tertutup sempurna mengibas pelan gorden disisinya, sehingga menimbulkan suara gesekan antara pengait dan besi penyangga. Meski begitu, Lucas tampak tidak terganggu sama sekali. Buktinya dia masih tertidur lelap di atas ranjang. Sesekali dengkuran halus terdengar darinya.


Setiap akhir pekan memang biasanya dia akan memilih tidur lebih lama, mengingat kesibukannya sepanjang minggu sebagai CEO menyita banyak tenaga juga waktu, sehingga tak jarang dia kekurangan waktu tidur.


Di tengah ketenangan, seorang pelayan mengetuk pintu kamar Lucas. "Tuan Lucas, Nona Meredith sudah datang."


Tidak menerima balasan apapun, pelayan itu berlalu. Menemui tamu Lucas yang telah menunggu di ruang makan. Perempuan blasteran, berambut blonde menyala tersebut tengah berbincang serius ternyata dengan kepala koki.


"Porsi steaknya jangan terlalu besar, dan asparagusnya diganti buncis saja tanpa dibumbui garam. Lalu kuenya, pastikan suhunya tidak terlalu dingin saat dihidangkan nanti."


"Baik, Nona."


Meredith mengangguk, mempersilahkan kepala koki mulai mempersiapkan makanan.


"Bagaimana dengan Tuan Lucas?"


"Tuan Lucas masih tertidur Nona."


"Yasudah, biar saya saja yang langsung menghampirinya. Saya membeli bunga baru tadi tertinggal di mobil, tolong ambil dan gantikan semua bunga di vas."


Pelayan tersebut menerima kunci mobil yang Meredith berikan, badannya membungkuk ketika Meredith melewatinya.


Sesuai perkataannya, dia menghampiri sendiri kamar Lucas. Tanpa mengetuk membuka pintunya lebar-lebar, mendapati bosnya masih terbaring sepenuhnya tertutupi selimut. Meredith berdecak, ditariknya selimut itu sampai sebatas bahu, mengekspos wajah Lucas oleh paparan sinar matahari yang sudah cukup terik.


Lucas mengerang. "Tutup jendelanya,"


Alih-alih mengikuti perintah, Meredith melakukan kebalikannya. "Cepat bangun, Tuan. Bukannya Tuan harus bersiap-siap dan membeli kado?"


"Kado apanya? Jangan mengada-ada. Keluarlah Meredith, saya mau tidur sampai siang."


"Tuan pasti belum membaca surel yang dikirim nyonya Amber ya?"


"Hah? Surel apa?"


"Dia mengundang tuan ke makan malam ulang tahun puteri anda."


"Puteri?"


"Iya, tuan. Puteri anda, nona Asteria."


Kedua pasang netra Lucas spontan terbuka lebar. Menyibak selimutnya, Lucas bangkit terburu-terburu melarikan dirinya ke kamar mandi. Sebagai asisten pribadi yang sudah bertahun-tahun bekerja untuk CEO perusahaan Leong Group yang mengenalnya jauh sebelum dia menjabat, Meredith baru mengetahui sisi lain Lucas satu ini. Sisi polos penuh antusias, yang disaat bersamaan riskan kerapuhan. Dan itu terungkap sejak dia memutuskan menggugat seorang model terkenal bernama Sabrina Hirai atas hak asuh anak yang diyakini Lucas sebagai anaknya secara terang-terangan, terbuka pada media.


Menyebabkan pro-kontra, serta pergolakan dari dalam struktural perusahaan. Apalagi Lucas belum lama menempati posisi CEO, yang sebenarnya masih diperebutkan banyak pihak. Tidak lain, merupakan paman-pamannya yang merasa lebih berhak mengelola perusahaan utama Leong Group. Ajaibnya, harga saham tidak terganggu sama sekali terkait keputusan Lucas. Jadi mereka tidak bisa menjadikan hal tersebut sebagai alasan pertimbangan menyopot kedudukan Lucas. Di tambah kinerja Lucas yang tidak pernah lengah, meski Meredith percaya dia pasti menyimpan banyak beban pikiran.


Ya, setidaknya Lucas menunjukkan bahwa dia bukan menjadi CEO tanpa sebab. Serta keputusan tuan besar Leong, selaku owner Leong Group sekaligus kakek Lucas tidak salah menunjuk orang yang akan menanggung jawabkan keberlangsungan perusahaan ke depannya.


"Meredith, apa yang anda lakukan? Tidak ada waktu lagi untuk makan. Saya harus pergi sekarang juga. Dimana pusat perbelanjaan terbaik untuk mencari kado?" Lucas tergesa menghampiri Meredith yang menunggunya di ruang makan bersama steak kesukaan Lucas buatan kepala koki.


"Tapi, Tuan Besar meminta saya memastikan agar anda tidak melewati jadwal makan. Beliau bahkan menitipkan kue untuk hidangan penutup anda, dan ucapan selamat ulang tahun."


Lucas tidak tergugah sedikitpun. Dia lupa Meredith baru bekerja untuknya, dan belum belum terlalu memahami alur kehidupan Lucas sepenuhnya. "Tidak perlu diperdulikan semua formalitas itu, saya sudah lama memutuskan tidak merayakan ulang tahun, Kakek juga tahu. Saya akan merayakan ulang tahun puteri saya saja hari ini."


* * *


Mobil limosin salah satu dari sederetan koleksi mobil Tian Leong yang kini diberikan kepada cucunya, Lucas berhenti di depan pintu masuk hotel tujuannya, tepatnya tempat penurunan tamu. Mobil yang sengaja dia pilih sebab dia sedang malas berkendara sendiri, dan menurutnya mobil ini mobil yang paling cocok ketika disetiri orang lain. Seorang valet parking membukakan pintu untuk Lucas.


Lucas turun, sambil merapihkan jasnya. Tepat di belakangnya Amber menyusul, kebetulan mereka sampai bersamaan.


"Sebuah kado?" komentar Amber melihat Lucas menenteng paper bag. "Saya pikir anda tipe yang akan membeli banyak kado mahal tanpa berpikir panjang, tapi ternyata saya salah menilai ya.."


Berdeham pelan, Lucas berusaha bersikap santai walau dia merasa seperti hampir ketahuan. Amber tidak sepenuhnya salah. Lucas memang pada awalnya membeli beberapa barang mahal, antara bingung memilih dan merasa Asteria berhak mendapatkan lebih banyak. Kalau saja Meredith tidak mengingatkannya Asteria baru berumur enam, sehingga tidak mungkin mengerti serta menjadikan harga mahal sebagai patokan kado yang dia sukai.


Akhirnya Meredith mengusulkan agar Lucas memikirkan satu barang yang kira-kira seorang gadis kecil akan terima dengan senang hati. "Anda sendiri tidak menyiapkan apa-apa, Nyonya Hirai."


"Siapa bilang? Justru saya membawa kado terbaik." Amber berkata percaya diri. Matanya menatap penuh arti ke arah Lucas. "Ayo, masih ada hal yang harus dilakukan sebelum bertemu Asteria."


Lucas manut, menuruti perintah Amber. Dia menahan diri supaya tidak bertanya banyak, apalagi saat Amber menukar set menu makan malam di acara Asteria. Lucas sadar lebih sedikit yang dia ketahui, maka lebih mudah pula dia menjaga kestabilan emosi terhadap Amber. Ketahuilah bahwa berdampingan seperti sekarang saja sudah terlalu sulit bagi Lucas. Yang dia lakukan hanya melunasi semua pembayaran, berdasarkan kemauannya sendiri tanpa permintaan siapapun.


Mereka menunggu di area umum fine dining selama beberapa saat, entah bertujuan apa. Amber bahkan sempat memesan segelas champagne dan cheese platter. Mereka tidak berinteraksi selama itu, hingga waktu yang Lucas tunggu-tunggu datang. Amber memimpin langkah, melenggang memasuki ruang vvip fine dining yang direservasi atas nama Asteria. Ada lebih banyak tamu dari bayangan Lucas di dalamnya, seluruh pasang mata mereka tertuju pada Amber dan Lucas begitu menyadari kedatangan keduanya.


Namun mata Lucas tanpa sengaja terpaut di satu arah yang membuat langkahnya seketika memberat. Tubuh Lucas seakan perlahan mematung.


"Oma datang?" Suara polos Asteria teredam di tengah kekalutan pikiran Lucas.


Lucas tidak mungkin salah mengenali sosoknya setelah menghabiskan tiap malam mengenang melalui album peninggalan satu-satunya milik Ayahnya. Wanita paruh baya yang duduk di antara para tamu itu benar-benar orang yang telah lama dia rindukan. Walau waktu telah membawa pergi masa mudanya, wanita berkulit gelap itu masih terlihat sama di mata Lucas. Dia, sosok yang dulu kerap ia panggil dengan sebutan Ibu.


Hati Lucas terguncang, hampir saja air mata lolos dari matanya. Keadaan ini sangat membingungkan. Kenyataan bahwa Ibu kandungnya ada disini, memberi jalan mulus bagi otaknya menyambung puzzle kemungkinan realita kehidupan yang harus di hadapinya.


"Beri salam sayang sama tamu khusus yang Oma bawa." Amber menepuk pelan pundak Lucas, menariknya kembali ke kesadaran seutuhnya. Dia memberi gestur agar Lucas mengikutinya mendekati Asteria.


Demi mencapai dimana Asteria berada, Lucas melewati para tamu satu-persatu termasuk Rosalia yang membelakanginya. Sabrina tidak luput dari tatapan lirih Lucas, dia tampak sedang mengatur emosinya sendiri di bantu tunangannya yang setia menggenggam tangannya. Sudut pandang Lucas berubah drastis sekarang mengenai tunangan Sabrina.


Mengesampingkan kekacauan isi kepalanya, Lucas mengangkat bibirnya tatkala dia berhadapan langsung Asteria. Untuk pertama kalinya, sejak Asteria terlahir di dunia. "Halo, Asteria. Selamat ulang tahun ya, cantik."


Asteria menerima paper bag yang disodorkan Lucas. Mengintip ke dalamnya, lalu memekik senang. "Wah, sayap peri! Terima kasih banyak, Om!" Tangan kecilnya merogoh isi paper bag, dan memakai kado pemberian Lucas saat itu juga. "Mama, Papa lihat! Eri cantik ya pakai sayap?"


Meski keberatan oleh kehadiran Lucas. Sabrina dan Navis menanggapi Asteria setenang yang mereka bisa, terutama Sabrina. Mereka tidak mau menghancurkan momen bahagia Asteria. Seluruh tamu turut membangun suasana yang tadinya agak redup, memuji Asteria.


"Eri cantikkan Om pakai sayap peri?" Tanpa Lucas duga, Asteria bertanya kepadanya juga.


"Iya, cantik banget." Lucas mengacung dua ibu jarinya, senyumnya mengembang lebih alami.


"Oh, iya. Tapi Om namanya siapa ya? Nanti Eri mau kirimin surat ke Om, kaya sama Om Cio. Soalnya Om baik kaya Om Cio."


Lucas terperanjat. Ralat, Lucas rasa tidak seorangpun terluput menunjukkan reaksi yang sama. Lucas mengode meminta izin ke Amber, satu-satunya orang yang kelihatan paling bahagia di tengah keramaian. Amber melafalkan kata ya tanpa bersuara, kepalanya terangguk halus.


"Nama Om, Lucas."


"Okay, Om Lucas. Asteria pokoknya bakal ingat terus sama Om, dan kirimin Om surat."


Untuk pertama kalinya setelah sekian lama, Lucas bisa merasakan kembali keistimewaan hari ulang tahunnya. Dan pertemuan ini seolah menjadi kado yang dipersiapkan tuhan khusus untuk Lucas.