
"Nenek, Kakek!" Girang Asteria kontan melepaskan genggamannya dari Sabrina dan Navis saat melihat kedua orangtua Navis yang telah tiba lebih dulu di tempat sewa perlengkapan snowboarding. Diikuti nasihat yang tidak bosan-bosan Sabrina lontarkan tiap kali Asteria melakukan suatu hal mengkhawatirkan.
"Eri.. hati-hati sayang,"
Navis mengelus pundak tunangannya, memberi pengertian bahwa Asteria akan baik-baik saja.
"Ibu, Ayah.." Sapa Sabrina ramah.
Mereka berdua bergantian memeluk Rosalia dan Pilyoung seraya bertukar kabar. Kedua orangtua Navis tampak sangat sehat, dan bugar walau baru menempuh penerbangan panjang semalam. Padahal umur keduanya sudah bukan masa tahap prima.
"Yang lain ada dimana?" Sabrina bertanya karena tidak melihat saudara-saudara Navis disana.
"Kiyoung, Jinyoung belum lama pergi ke chairlift. Ibu sudah menyuruh mereka untuk tinggal sebentar menunggu kalian, tapi Jinyoung terlalu antusias dan merengek terus. Jadi, Kiyoung menurutinya. Mungkin sudah naik saat kalian melewati chairlift tadi." Jelas Rosalia. Di sisinya Pilyoung menggendong Asteria, mendengarkan Asteria yang mengoceh panjang lebar mengenai hari-hari menyenangkannya selama mereka tidak bertemu.
Minyoung, Gayoung, Eva, dan Willy sementara tidak bisa mengikuti liburan keluarga sehubungan urusan masing-masing.
"Kalau begitu, kita juga bersiap. Sebelum matahari terbenam." Usul Navis yang disetujui semua.
Berhubung daerah snowboarding yang dipilih lumayan jauh, Navis tidak mau repot memenuhi bagasi mobil dengan peralatan snowboarding pribadi. Dia sengaja memesan khusus paket fasilitas lengkap yang ditawarkan resort pilihannya, pun ia menginginkan selama beberapa hari berlibur dilewati oleh kebahagiaan dan ketenangan untuk mereka semua. Terutama, untuk Sabrina.
Sabrina telah melewati banyak kesulitan belakangan. Dan Navis merasa bersalah, setidaknya dia mencoba menciptakan jeda sejenak bagi Sabrina menenangkan pikiran serta hatinya, dibantu keberadaan keluarganya yang sudah menganggap Sabrina bagian dari mereka secara tidak langsung menyokong Sabrina secara emosional. Selagi Navis mempersiapkan hal lain guna menyenangkan Sabrina.
Salah seorang staff sedang memasangkan peralatan snowboarboarding Asteria, ketika dia memegangi perut dan memasang wajah memelas. "Mama, Eri mulai bisa merasakannya!"
Dua pasang pasangan beda usia yang duduk disisi Aesteria kontan tertuju pada sang bintang utama, antara bingung dan khawatir.
"Ada apa, sayang? Apa yang Eri rasain? Sakit perutnya?" Sabrina membombardir Asteria banyak pertanyaan. Asteria menggeleng lemah, Asteria lalu berkata, "Rasa lapar setelah bermain salju. Eri harus makan banyak daging nanti, Ma. Eri takut berubah jadi monster kalau kelaparan."
Mengundang tawa dari semua orang yang ada, termasuk staff yang tersisa bersama mereka.
"Tenang Eri. Ada Kakek, Eri boleh makan sebanyak apapun Eri mau, kakek yang bayar." Timpal Pilyoung dengan sisa tawanya.
Sabrina berlakon menghela nafas lega, "Ya ampun, terima kasih Kakek. Mama selamat dari kebangkrutan hari ini berkat Kakek. Eri lebih mengerikan saat berhadapan daging ketimbang saat kelaparan."
Semuanya menikmati gurauan Sabrina.
Asteria memang sangat menyukai daging. Sejak memakan daging pertamanya di usia dua tahun, Sabrina yang jarang menyetok daging dalam kulkas disebabkan oleh diet ketat tuntutan Ibunya demi menjaga tubuh ideal sebagai seorang model ternama mulai memasukkan daging sebagai bahan wajib yang masuk ke list belanja bulanannya.
Baru beberapa minggu ini saja Asteria belum memakan daging, atas kemauannya sendiri mau mencoba pola makan vegan. Ketika ditanya mengapa, dia mengaku penasaran. Sebagai orangtua yang baik, Sabrina hanya memastikan menu makanan Asteria selalu berisi gizi seimbang.
* * *
"Wah, sauna disini lebih besar daripada di apartemen kita ya Ma. Bisa pesan makanan, dan minum juga." Kagum Asteria yang baru pertama kali mendatangi sauna di tempat umum.
Rosalia dan Sabrina bertukar tawa kecil. Teringat reaksi Asteria yang sama persis seperti Sabrina ketika Rosalia pertama kali membawanya ke sauna umum juga. Mengingat Amber seorang penganut materialisme, Sabrina dan saudara-saudaranya dibesarkan bak terlahir sebagai keluarga kerajaan. Mana mungkin mereka diperkenalkan tempat seperti ini, kalau bukan karena orang lain yang memberitahu.
"Eri suka, sayang?" Rosalia bertanya sambil memasangkan handuk yang sudah dia bentuk menyerupai topi dengan dua gulungan di masing-masing sisinya ke kepala Asteria.
"Iya, Nenek. Eri suka!"
"Mau coba pesan es tajinnya?"
Mata Asteria membesar, penuh antusias. Dibawah persetujuan Sabrina, dia akhirnya memesan minuman untuk mereka bertiga. Menyisakan Rosalia dan Sabrina saja dalam ruangan sauna.
"Bagaimana perasaan kamu sekarang? Sudah lebih baik?" Rosalia angkat bicara.
Mengerti arah pembicaraan Rosalia, Sabrina mengukir senyum dibibirnya. "Jauh lebih baik, Bu."
Rosalia mengelus pundaknya lembut. Meski Sabrina mengaku sudah lebih baik, dia bisa turut merasakan kekhawatiran yang Sabrina rasakan sebagai seorang Ibu.
"Maaf ya Bu, ke depannya nama Navis akan terus ikut terseret karena masalah Sabrina. Pasti Ibu dan yang lainnya juga kesulitan."
"Jangan minta maaf. Ini bukan kesalahan kamu. Nggak ada yang salah dari memperjuangkan kebahagiaan hidup Asteria. Siapa yang perduli orang lain katakan. Kita semua ada untuk kamu, jadi jangan ragu untuk minta bantuan Ibu atau Ayah ya, nak."
Air mata haru menetes di pipi Sabrina. Kata-kata Rosalia ini adalah yang paling Sabrina ingin dengarkan sedari pertemuannya bersama Lucas. Bahwa dia telah melakukan hal yang benar. Serta dukungan sosok seorang Ibu yang sayangnya tidak bisa dia dapatkan pada Ibu kandungnya.
Alih-alih mendukung, Amber justru marah besar begitu melihat Sabrina keluar dari ruangan makan vvip dimana mereka harusnya bermediasi, menyadari Sabrina telah mengatakan hal diluar kendalinya. Padahal dia sudah menyuruh Sabrina untuk tidak menyatakan apapun selama dia belum masuk, mendampingi Sabrina. Kebetulan dia harus mengatur ulang jadwal pemotretan adik bungsu Sabrina yang mendadak berlibur ke luar negeri tanpa memberi tahu Amber lebih dulu.
Rosalia menyeka pipi basah Sabrina, dan membawanya ke dalam dekapan penuh kasih.
"Kamu selalu bilang ingin jadi Ibu yang baik seperti Ibu kan? Tapi, Sabrina, kamu figur Ibu terbaik yang pernah Ibu temui. Ibu cuma mau kamu tahu itu." Jujur Rosalia. Pendapatnya berbekal pengalaman hidupnya sendiri.
Menurut Rosalia, Sabrina termasuk ke dalam kategori perempuan yang sudah ditakdirkan sebagai seorang Ibu. Dia terlahir untuk menjadi Ibu, tanpa perlu mempelajari tata caranya. Tanpa perlu memerdulikan riwayat masa kecilnya bagaimana, secara natural dia hanya akan melakukan apa yang insting keibuannya katakan.
"Kita lindungi cucu Ibu sama-sama ya." Gumam Rosalia berusaha menguatkan Sabrina.
Kepala Sabrina terangguk teratur di balik bahu Rosalia. Hatinya perlahan-lahan terasa sejuk penuh ketenangan. "Terima kasih, Bu."
Kepribadian hangat Rosalia sangat menyentuh hatinya. Kepribadian yang sama, yang membuatnya jatuh cinta kepada Navis. Sabrina bersyukur dia masih dikelilingi orang-orang baik seperti mereka.