Between The Leongs

Between The Leongs
Once Upon A Time




Sabrina menghela napas, mengurungkan niat membuka satu-persatu portal berita online yang sebagian besar terus menyeret namanya. Bagi sekelas model papan atas seperti dia, menjadi topik hangat pembicaraan dimana-mana tentu saja merupakan suatu hal biasa.


Namun kali ini, Sabrina tidak yakin harus bagaimana. Terlebih mengenai keberadaan anaknya yang mulai terendus media. Baik, mungkin hal tersebut bisa terprediksi dengan jelas. Cepat atau lambat, sekeras apapun Sabrina mencoba, hal tersebut tidak akan bisa terelakkan. Yang mengganggu pikirannya adalah cara semua ini terungkap.


Seseorang tidak pernah dikenal tiba-tiba datang dan menggegerkan dunia dengan mengaku sebagai Ayah biologis Asteria. Berusaha menggugatnya pula untuk pembagian hak asuh.


"Bersiaplah, Ibu akan menjemputmu sebentar lagi." Suara Amber terdengar dari pesan suara yang masuk di ponsel genggamnya.


Menuruti perintah Ibu, Sabrina bersiap setengah hati. Mau tidak mau, dia memang harus datang memenuhi panggilan mediasi dari pengadilan. Bagaimanapun, dia perlu menemui lelaki itu secara langsung setidaknya sekali.


Sabrina akan memperlihatkan dimana posisi pria asing tersebut seharusnya berada. Tidak perduli berasal darimana latar belakang status sosialnya, dia tetap tidak bisa berlaku seenaknya begini. Karena yang memenuhi persyaratan secara sah di mata hukum sesungguhnya untuk memberi gugatan ialah Sabrina sendiri.


"Mama!"


Dari pantulan kaca rias, Sabrina melihat jelas pintu kamarnya terbuka lebar diiringi Asteria yang masuk sambil tersenyum riang menghampirinya.


"Selamat pagi, sayang." Sabrina mengecup ringan pipi Asteria.


"Wah, rambutnya cantik banget. Siapa yang ikatin rambut Eri?"


"Papa." Asteria memainkan kedua kepangan hasil karya Navis.


"Papa bilang, hari ini cuma Papa yang antar Eri ke sekolah. Mama mau pergi kerja ya ma?"


"Iya, sayang. Maaf ya nak, nanti pulangnya Mama yang jemput kamu. Okay?"


"Okay, Mama. Don't worry about me, i'll be a good girl."


Suara ketukan di pintu kamar menginterupsi kemesraan Ibu dan anak tersebut.


"Papa, sini!" Seru Asteria, tangannya melambai-lambai. Sementara Sabrina dan Navis bertukar senyuman hangat.


"Eri, sarapan dulu sayang. Papa sudah selesai masak."


"Aye aye, Captain!" Sebelum berlari keluar dari kamar, Asteria tidak lupa memberi kecupan balik di pipi Sabrina.


"Bye, Mama!"


"Jangan lari-lari Eri, nanti kamu jatuh." Peringat Sabrina, tapi Asteria sepertinya sudah terlalu jauh untuk mendengarnya.


Tangan Navis merambat di kedua sisi bahu Sabrina, membantunya memutar berhadapan lagi pada kaca. Dia akan memulai tugasnya menata rambut indah Sabrina. "She'll be fine. I already teach her how to be a good sprinter. Kamu berangkat bareng Ibu?"


"Iya. Jadwal kamu hari ini sampai jam berapa?"


"Finally! Aku enggak sabar mau pakai, so nobody can assume you're not mine anymore. Pasti nanti perempuan lain mulai berani deketin kamu di pemotretan karena berita aku yang nggak pakai cincin kemarin."


Navis mendengus nyaris tertawa atas keluhan tunangannya. Sabrina selalu membuat ekspresi terbaik ketika cemburu.


"Should i wear the t-shirt you bought me from last Christmas to the set then?"


"Really? Kamu mau pakai lagi?" Antusias Sabrina.


Mereka membicarakan tentang kaos berprint wajah Sabrina, yang Sabrina kadokan pada Navis di malam natal tahun lalu. Hanya sebagai bercandaan sejujurnya, karena dia juga telah menyiapkan hadiah utama tanpa menyangka Navis malah sangat menyukai dan memakainya di setiap ada kesempatan. Kalau bukan karena Sabrina yang merasa tersipu sendiri setiap melihat Navis mengenakannya menyuruh Navis berhenti.


"Why not? I'm the luckiest guy that ever exist in the world to be loved by you. And i also do want everybody in these whole world know where my heart belong to no matter what."


Kegiatan sisir-menyisir harus tertunda, Sabrina tidak kuasa untuk tidak meraih kedua tangan Navis, melingkarkannya ke leher. Hati perempuan mana yang sanggup tidak terpesona pada pernyataan cinta seindah itu?


Selama bertahun-tahun bersama, belum pernah satu kalipun Navis gagal memberikan Sabrina ketenangan dan kenyamanan. Bahkan sedari awal mengenal, Sabrina langsung tersadar. Seumur hidup yang terlalu lama ingin dia habiskan dengan siapa lagi kalau bukan Navis. Selain tutur katanya, sikap Navis juga turut andil dalam misi mencuri hati Sabrina.


"Why you always making me feel like we just met?"


"How funny, i was about to ask the same question Bri. Because i feel like i keep falling in love again and again everytime i see you. I've never fallen this deep for anyone, i need some compensation now since i have no insurance."


"Tiba-tiba minta kompensasi? Random banget kamu."


"Iya, kenapa enggak dari dulu aja ya aku minta?"


"Hahaha, apaan sih. Yaudah, kamu mau kompensasinya gimana?"


"Kok malah nanya, itu tugas kamu dong. Aku tinggal terima."


"Alright, come closer."


Mengikuti instruksi Sabrina, Navis menundukkan tubuhnya guna mempersempit jarak diantara mereka. Sabrina meraih dagunya, meninggalkan kecupan pertama di pipi Navis. Lanjut, di sudut bibir sebelum akhirnya mendarat mulus tepat di bibir Navis. Navis menyambut baik, merengkuh tubuh sang kekasih hati-hati selagi saling memagut penuh perasaan satu sama lain. Keduanya tidak mampu menahan senyuman, mengetahui bahwa kupu-kupu yang berterbangan itu masih setia menggelitik hati mereka tanpa berkurang barang sedikit.


Di tengah era kebanyakan pasangan mulai berhenti saling mencintai, kemudian memilih berselingkuh atau berpisah. Mereka justru kebalikannya. Semakin mencintai satu sama lain seiring bertambahnya waktu yang dilalui. Lima tahun berjalan seperti hanya terjadi dalam sekali kedipan mata bersama Navis. Bukannya keberadaan masalah dan lika-liku menghilang semenjak kedatangan Navis ke dalam hidup Sabrina. Namun, semua beban yang selama ini Sabrina pikul seorang diri rela Navis bantu hadapi. Navis berhasil menunjukkan kepada Sabrina di titik terendah hidupnya, bahwa Sabrina tidak harus menanggung semuanya sendirian.


Navis tidak cuma memberikannya bahu yang selama ini Sabrina butuhkan. Mimpi lama Sabrina ingin memiliki keluarga kecil harmonis sendiri yang sempat terlupakan berhasil diwujudkan menjadi nyata oleh Navis. Apabila reinkarnasi adalah sesuatu yang benar terjadi, maka Sabrina akan meminta dipertemukan terus disetiap kehidupannya dengan Navis tanpa terkecuali. Jika tidak diizinkan, atau Navis melupakannya, maka sebagai ganti dia yang akan terus mengingat Navis setiap dilahirkan ulang agar dapat mencari Navis dan membuat Navis kembali jatuh cinta padanya menggunakan usahanya sendiri.


Toh, Navis sudah melakukan banyak pengorbanan sekarang. Sabrina juga bersedia melakukan sebanyak yang Navis berikan.


"I love you, Sabrina. Yesterday, today, and for every single days that leftover ahead of my life." Bisik Navis, kedua kening mereka bersatu mesra.


"I love you, Navis. Nothing can break this feeling i feel for you, not even the death."