Between The Leongs

Between The Leongs
Dilemma



"Baiklah, rapat hari ini cukup sampai disini. Saya mau semua yang harus direvisikan selesai paling lama besok siang. Tolong, kerja samanya kepada para kepala divisi bersangkutan sebagai penanggung jawab." Tutup Lucas, tanpa mau berlama-lama segera ia tinggallkan ruang rapat yang hasilnya kurang memuaskan Lucas.


"Baik, Pak."


Para kepala divisi dan beberapa perwakilan tiap divisi yang ikut dalam rapat inspeksi buru-buru berdiri dan memberi hormat dengan perasaan tak karuan. Mereka beruntung, Lucas baru saja mendapat kabar bahwa dia mendapat kiriman surat dari Asteria, sehingga dia mencoba menghadipi hari dengan berkepala dingin enggan membiarkan siapapun merusak moodnya.


"Selamat siang, Pak Lucas." Sapa seorang resepsionis.


Lucas mengangguk pelan menanggapinya, hendak melewatinya begitu saja. Namun, resepsionis itu kembali angkat bicara.


"Maaf, Pak. Tuan Besar sudah menunggu anda sejak setengah jam yang lalu di ruangan anda."


"Kenapa baru memberitahu sekarang?" Tanya Lucas.


"Maaf, Pak. Tapi, Tuan Besar meminta saya untuk tidak memberitahu Bapak, karena beliau tahu Bapak sedang mengadakan rapat inspeksi."


Menghela nafas malas, Lucas melanjutkan langkahnya menuju ruangan miliknya. Menyiapkan diri untuk bertemu Kakek yang jujur saja sosoknya masih terasa asing meski sudah selustrum berlalu sejak dia diangkat secara sah menjadi bagian keluarga Leong. Meredith membukakan pintu untuk Lucas, lalu menutupnya kembali, membiarkan dia masuk sendirian demi keprivasian.


"Kakek," Lucas memanggil Tian yang sedang berkutat dengan meja Lucas, membelakangi Lucas.


Menyudahi kelancangannya membaca surat yang tergeletak di atas meja Lucas, Pria tua itu berbalik seolah tidak sehabis melakukan apa-apa, "Ah, sudah kembali? Bagaimana rapatnya."


"Tidak terlalu memuaskan, tapi, bukan perkara yang besar." Lucas bantu memapahnya duduk di sofa untuk tamu. "Ada apa Kakek kesini? Apa ada masalah?"


"Saya datang untuk sekadar melihat-lihat saja. Apa Bryan dan Demian masih sering datang untuk mengganggu?"


Kalau saja Lucas tidak ingat bahwa hubungan dia dan Kakeknya sama sekali tidak akrab, dia pasti sudah menertawakan paman-pamannya yang kekanakan dan selalu berusaha menyingkirkan Lucas dari jabatannya. "Tidak juga, mungkin mereka akhirnya sadar itu membuang-buang waktu. Dan lebih memilih menunggu sampai menemukan waktu yang tepat."


"Berhati-hatilah, jangan berikan mereka celah sedikitpun. Ingat apa alasan saya membawamu ke keluarga ini." Tian mengokohkan tongkat, lalu berdiri dengan kaki rentanya. Raut wajah datarnya mengatakan dia tidak senang. "Saya dengar kamu datang terlambat ke pertemuan penting karena mencari sendiri sebuah surat yang dibuang resepsionis karena dia mengira itu surat iseng."


Lucas tertunduk. Dia memang salah untuk yang satu itu. Surat pertama dari Asteria beberapa hari lalu nyaris terbawa ke pembuangan sampah, alasannya persis seperti yang Tian jelaskan. Lucas yang kalap tidak berpikir panjang, dan nyaris melupakan segala tanggung jawabnya demi mencari surat itu. Karena bagi Lucas surat tersebut sangat berharga untuknya. "Maaf, saya salah Kek. Saya tidak akan mengulangi kesalahan yang sama, Kakek tenang saja."


"Ignati!" Tian memanggil asistennya, tidak mau memperdulikan alasan yang Lucas layangkan. Pintu terbuka, dan Ignati kemudian masuk membantunya berjalan. "Pikirkan lagi semuanya, sebelum berbalik menjadi bumerang untukmu. Kamu lupa bagaimana akhir hidup Chris? Jangan sampai kamu berakhir menyedihkan seperti Ayahmu. Saya tidak membutuhkan orang gagal." Peringat Tian keras, sebelum dia benar-benar pergi.


Hati Lucas tertohok Ayahnya dipandang sebelah mata. Dan dia tidak bisa membelanya. Tenggorokannya tercekat. Diapun menarik lepas dasi di kerah, sambil terengah-engah.


* * *


"Selamat sore," Sapa Lucas memecah keheningan.


Pasangan yang tiba mendahuluinya, tidak memberikan banyak reaksi menanggapi kehadiran Lucas. Seorang pelayan menuangkan teh ke dalam tiga cangkir yang tersaji di meja mereka.


Menyesap tehnya, Lucas lalu bertanya. "Siapa yang akan memulai pembicaraannya?"


"Langsung keintinya saja, Tuan Lucas. Saya mau anda menangguhkan gugatan hak asuh atas Asteria di pengadilan."


"Kenapa saya harus melakukannya? Saya masih tetap pada pemikiran saya dipertemuan kita sebelumnya, Nyonya Sabrina." Tegas Lucas, bergantian menatap Sabrina dan Navis dihadapannya.


"Tangguhkan, dan saya akan memberikan izin secara pribadi untuk anda menemui Asteria dengan syarat-syarat tertentu." Jelas Sabrina berat hati. "Toh, Asteria terlanjur mengenal anda sekarang. Saya tidak mungkin melarangnya, atau mengarang alasan bohong karena anda pasti akan mengandalkan Ibu saya dan muncul lagi kehadapan Asteriakan?"


Lucas terdiam sebentar, nuraninya merasa bersalah mendengar tuduhan Sabrina yang tepat sasaran. Iya, Lucas seniat itu demi bisa mendapatkan waktu untuk setidaknya melihat sekilas setiap tumbuh kembang Asteria. "Apa saja syarat-syaratnya?"


"Yang pertama, teruslah bertingkah seperti sosok paman dan jangan pernah coba-coba berpikir untuk memberitahu Asteria siapa anda sebenarnya. Kedua, kedepannya anda tidak bisa seenaknya membawa Asteria tanpa persetujuan saya dan waktu yang anda dapatkan akan mengikuti alur peran anda, setidaknya waktu itu setara seperti waktu rata-rata waktu teman saya menemui anak saya. Pikirkan baik-baik, saya akan segera mengirimkan kertas perjanjiannya kepada anda nanti." Sabrina menarik kursinya ke belakang, dan bangkit.


"Tunggu, persyaratan nomor dua--"


Navis menggeram, "Bri, kamu tolong ke mobil duluan saja." Pintanya. Sabrina menatapnya khawatir. Seumur-umur mengenal Navis, dia belum pernah melihat Navis saat kesal, apalagi marah. Tapi sekarang, dia bisa merasakan amarah Navis terpancing. "Navis,"


"I won't do anything bad. Don't worry. Aku cuma mau berbicara berdua saja dengannya, sebentar." Dielusnya sayang kepala Sabrina.


Lucas menangkap penampakan cincin couple di masing-masing jari manis mereka yang dia sadari berbeda dari cincin couple yang dia lihat di acara makan malam ulang tahun Asteria. Firasatnya langsung memberikan sinyal pertanda tidak bagus kepada Lucas. Dia terlalu sibuk oleh sebab itu, hingga tidak tersadar yang tersisa di meja tinggal dia dan Navis saja.


"Tuan Lucas? Bisa kita bicara sekarang?" Suara Navis lebih tenang dari sebelumnya. Dia berhasil menguasai dirinya seperti selayaknya sosok Navis yang sesungguhnya.


"Ya."


Navis mengangguk. "Sesuai yang tunangan saya katakan tadi. Dia hanya memberikan dua syarat yang harus anda ikuti. Terlepas anda merasa sebagai siapanya Asteria. Oke saya memahami posisi anda, meski saya tidak tahu pasti alasan anda. Saya mohon, hargai tunangan saya. Anda mungkin merasa bersalah dan bertanggung jawab atas Asteria walau secara hukumpun anda sebenarnya tidak melakukan kesalahan apa-apa, tapi anda harus ingat siapa yang membesarkan Asteria selama ini dengan susah payah? Anda mengenal Ibunya bukan? Jadi saya anggap anda tahu pasti seberat apa situsiasi tunangan saya dalam membesarkan Asteria."


"Anda bahkan sudah menyakiti dia terlalu dalam dengan melibatkan Ibunya, tapi dia malah menawarkan kesepakatan. Kenapa? Itu karena dia memikirkan kebahagiaan Asteria."


"Kalau anda memang merasa sebagai Ayah Asteria, setidaknya ini yang bisa kita jalani bersama untuk kebahagiaan Asteria. Tapi, kalau anda menolak. Saya pribadi, sebagai orang yang anda tidak anggap. Ayah yang sebenarnya Asteria miliki selama ini, secara pribadi akan menuntut anda ke pengadilan. Dan memastikan anda tidak bisa menyakiti dua orang yang paling saya sayangi."