
" itu matanya dikondisikan...biasa saja melihatnya.."
velice melirik rey yang menatapnya sinis. hey, apa salahnya dia disini menikmati ciptaan tuhan. apa rey lupa cowok tampan adalah asupan energi velice agar dia bisa bertahan hidup.
2 minggu berlalu setelah ia memutuskan menyetujui berangkat ke perbatasan. dan hari ini dia, dan rey baru saja sampai. sejak kaki velice turun dari kereta. netranya tak pernah lepas dari banyaknya prajurit yang berlalu lalang. velice tersenyum sumringah. keberuntungan macam apa ini, mereka semua tampan tampan. astaga, bahkan sekarang jantung velice seakan meloncat ingin keluar. benar benar ya, dunia novel itu tokoh nya gak ada yang ngotak. kalau tokoh figuran yang tidak penting seperti mereka
gantengnya gak ketulungan. terus gimana dengan tokoh utamanya. velice tidak yakin bisa melihat mereka lebih dari sedetik. okey, abaikan. velice memang lebay jika berurusan dengan orang tampan.
melihat velice yang sibuk dengan dunianya. rey mendengus kesal, ia segera menyeret velice untuk segera mengikutinya menuju sebuah tenda yang di pimpin oleh seorang jendral yang tadi menyambut mereka.
" loh loh rey, kamu mau bawa aku kemana, ini aku belum kenalan lo sama mereka.."
" diam velice!! sebaiknya kita segera selesaikan masalah disini, dan segera pulang!" tukas nya kesal. gimana gak kesal, rey tau tempat ini adalah perkemahan para prajurit, dan mereka itu semua laki laki. dilihat dari tipikal
velice yang tidak bisa diam kalo ada pria yang bening, rey yakin velice pasti akan melupakan tugas utama mereka disini.
" bukanya kamu sendiri yang menolak mentah mentah datang kesini, kalo kamu seperti ini kita akan semakin lama berada di perbatasan bodoh!"
velice terdiam, benar juga. kalo dia semakin lama disini bukankah berarti ia akan semakin banyak bertemu para tokoh?? dan itu berarti kematiannya lebih cepat dong??. enggak itu gak boleh. hidup damai-aman-nyaman-sentosa-tanpa terhalang suatu apapun yang ia rencanakan tidak boleh terusik!!. jadi, dengan sangat terpaksa velice berubah menjadi gadis penurut yang lemah-lembut-pemalu dan tentunya manis terhadap rey.
" silahkan masuk, anda sekalian sudah di tunggu yang mulia putra mahkota dan lainnya di dalam."
ujar pria yang tadi menuntun jalan mereka ketika mereka tiba di depan sebuah tenda yang tampak lebih besar. rey mengangguk menyetujui. berbanding terbalik dengan velice yang mencengkeram lengan rey kuat ditambah raut wajahnya yang memucat. tubuh velice tegang seketika saat mendengar pria tadi mengucapkan 'putra mahkota'.
' njirr!!! malaikat maut gue kok disini?!. gak, gue gak boleh ketemu dia, bisa mati mendadak gue lama lama' batin velice kalut.
rey yang merasa cengkraman kuat di lengannya menatap sang pelaku dengan heran. raut nya berganti bingung saat melihat wajah velice yang memucat.
" vel, kamu kenapa??"
senyum manis velice segera terkembang. rey yang melihat itu merasa aneh. dia yakin ini pasti ada yang tidak beres.
" kita pulang aja yuk ray. atau kalo tidak, kita langsung lihat kondisi orang orang
disini saja. bukanya kalo kita masuk ke tenda itu buang buang waktu ya.."
rayu velice dengan mata yang mengerjab lucu. rey memukul dahi velice pelan yang membuat gadis itu mengerucutkan bibirnya cemberut dengan tangan mengelus dahinya. hei, itu sakit tau.
" kau mikir apa sih vel?? kita perlu menghadap putra mahkota bodoh! memang itu aturannya!"
" ya,tapi kan, adanya peraturan untuk dilanggar rey~"
mengabaikan velice dan rey yang tengah cekcok tak bermutu. di dalam tenda, entah simon harus dihadapkan dengan kesialan macam apalagi. terjebak di antara perseteruan putra mahkota dan tuan muda ignasius. aura aura suram dengan tekanan udara yang entah mengapa mendadak berubah dingin. dua orang dengan tatapan mata yang saling terhunus satu sama lain. mungkin jika itu pedang udah mati kali mereka. sedangkan tak jauh dari tempat duduknya, simon menatap kakaknya yang tampak tenang seolah tak mau ikut campur. padahal simon yakin, pria itu juga memendam kekesalan yang sama saat mendengar wanita yang ia cintai di perebutkan di depannya.
suara dingin tak bersahabat milik pangeran alfarest membuat simon lagi lagi menelan ludah takut. sedangkan robert, yang tau kalimat itu di tunjukkan padanya justru tersenyum miring, sorot penuh kelicikan tak terbantahkan itu menatap putra mahkota alfarest remeh.
" dari awal anda sudah menolaknya, mengacuhkan dia layaknya sampah. dan setelah membuangnya, anda menginginkan dia?? pria macam apa anda yang mulia.."
tukasnya tajam. bagi robert, sesuatu yang telah menjadi miliknya tak ada yang boleh mengambilnya, sekalipun itu sahabatnya sekalipun.
simon mengusap tengkuknya kasar. hei, seseorang!! tolong keluarkan dia dari situasi ini. dia lebih memilih bertempur di medan perang dari pada melihat pertempuran dua iblis ini karena wanita. lucius yang melihat kedua sahabatnya seperti ini hanya berdecak malas. bukan sekali dua kali mereka berdua bertengkar karena elfriya. terlalu malas dihadapkan situasi seperti ini, lucius memutuskan bangkit dari duduknya. kemudian melangkah pergi tanpa mengucapkan sepatah kata pun.
langkah lucius terhenti saat ia keluar tenda. netranya menatap dua orang asing yang tengah adu mulut.
' siapa mereka??' batinnya bingung.
netra lucius menatap seorang gadis yang tengah cemberut dengan tangan yang mengusap dahinya. batinnya terkekeh. dia tidak tau gadis itu siapa. tapi melihat bagaimana kedua
pipi yang menggembung, bibir yang mengerucut, dan raut kesal yang begitu kentara, entah mengapa terasa begitu lucu dan imut secara bersamaan dimatanya. tapi, kenapa rasanya gadis itu tak asing. wajah gadis itu begitu mirip dengan bundanya. tunggu mirip bunda, jangan jangan dia zhevelice, adiknya. tapi, untuk apa dia kemari??. sial!! terlalu lama tinggal diperbatasan membuatnya tak mengetahui perkembangan keluarganya.
mengabaikan banyak pertanyaan yang mengganggu pikirannya, lucius segera melangkahkan kakinya mendekati mereka.
" zhevelice?? kau kah itu??"
mendengar seseorang memanggilnya membuat velice mengalihkan pandangannya ke depan. netra gadis itu membulat sempurna. bahkan tanpa sadar bibir gadis itu terbuka. oh
astaga!, siapa pria tampan ini kawan kawan...
' mama, hatiku bergetar. bisa tidak dia saja yang jadi jodoh ku, aku nggak minta muluk muluk kok. cuma dia aja..'
batin velice girang. rey yang melihat respond velice yang tak wajar segera memukul kepala gadis itu.
" kondisikan tatapan mu itu velice, kau seperti ingin menerkamnya"
tukas rey yang membuat velice segera menormalkan ekspresinya. namun tak urung dia melirik rey kesal kemudian segera menatap pria tampan di depannya dengan senyuman manis andalannya.
" ya, benar. anda mengenal saya??"
saut velice dengan suara lembut selembut sutra. lucius yang melihat respond adiknya justru menaikkan sedikit sudut bibirnya. kenapa dia baru tau jika adik perempuannya semenarik ini.
" kau melupakan kakak mu sendiri velice??"
what the hell!!. dia bilang apa tadi? kakak??, senyum manis velice luntur seketika. jadi pria tampan ini lucius?? si second male lead yang berakhir tragis itu??.