
Matahari mulai beranjak, menghantarkan kehangatan yang menenangkan. di taman kediaman helbert, velice sudah siap dengan peralatan melukisnya. di kehidupan lalu, saat dia masih menjadi Alexa, Alexa sangat menyukai seni lukis. bahkan ia bercita cita ingin menjadi pelukis terkenal di masa depan. tapi sayang, semua itu hanyalah sebatas impian kecilnya saja. karena nyatanya, setelah kejadian saat ia menginjak SMA, Alexa mengubur impiannya itu. dia tak pernah lagi memegang alat lukis lagi. yang menjadi prioritasnya saat itu ialah membuktikan kepada seseorang jika ia bisa menjadi seorang dokter hebat.
" Anda ingin menggambar sesuatu nona??"
interupsi Rachel yang membuat senyum tipis velice terbit. kanvas di depannya masih kosong. hari ini, untuk pertama kalinya, velice akan mengulang hobinya itu.
" ya.." balasnya pelan.
" apa yang ingin anda lukis nona??"
tanya Rachel lagi, velice mulai mengambil kuasnya, lalu mencelupkan nya pada salah satu warna kemudian menggoreskannya di kanvas.
" sesuatu, kau akan tau nanti"
tukas velice enteng. Rachel mengangguk, ia memperhatikan tiap garis, gerakan tangan serta tarian tarian kuas yang dilakukan nona nya. semuanya tampak murni, seolah nona nya sudah terbiasa memegang kuas lalu bermain dengan berbagai macam warna. Rachel tau, nona nya tidak pandai menggambar, apalagi melukis. tapi sejak kapan gadis di depannya ini bisa melukis?.
velice terus saja sibuk dengan dunianya, di belakangnya Rachel berdiri menemani. tak perduli berapa lama, Rachel akan tetap disitu untuk menemani velice.
Rachel membungkuk hormat saat mendapati Simon yang melangkah mendekati mereka, sebelum Rachel bersuara, Simon terlebih dulu memberi isyarat untuk diam. raut wajah Rachel tampak terkejut. senyumnya mulai mengembang, tuan mudanya sudah mau keluar kamar. bahkan sekarang tersenyum sembari berjalan mendekati nonanya.
Simon memperhatikan lukisan yang setengah jadi yang dibuat kakaknya. ia tampak berpikir. kemudian senyum jail nya muncul begitu saja. dengan cepat, ia segera merebut kuas yang dipegang velice, kemudian mencelupkannya pada salah satu warna lalu menggoreskannya asal pada kanvas.
" emm... kurasa begini lebih bagus..."
Simon terus saja mencoret coret lukisan velice, dia mengabaikan gadis disampingnya yang mulai kesal.
"Simon!!!"
teriak velice kesal,
" apa yang kau lakukan?!!, kembalikan kuasnya!! kau mengacaukan lukisanku!!"
velice segera merebut kuas yang dipegang Simon, tapi, Simon dengan gesit nya berhasil menghindar dari velice.
" oh tidak velice, lukisan mu sangat jelek aku hanya membantumu merapikannya saja"
tukas Simon enteng. ia berlari menjauh menghindari kejaran velice.
" membantu apanya!!. kau mengacaukannya simon!!. hey, kemari!! kau harus bertanggung jawab!!"
teriak velice kalap, ia benar benar kesal sekarang. ia berlari mengejar Simon yang tertawa terbahak bahak melihat ekspresi kesal kakaknya ini.
" menyerah lah velice, kau tidak akan bisa menangkap ku, hahaha"
" berhenti Simon!! kemari kau!! aku akan memukulmu"
dan setelah itu, kastil yang selama ini terlihat sepi, kini tampak begitu ramai. dengan perseteruan kecil antara kakak beradik ini. Simon yang setelah kejadian malam itu, kini menjadi lebih jail, dan banyak tertawa. tentu saja itu hanya berlaku didepan velice saja.
para pelayan hanya bisa tertawa melihat kejahilan tuan nya ini. bahkan karena ini pun kastil helbert tampak lebih hidup.
Simon. tertawa puas, ia tidak pernah tau menjahili kakaknya akan se-menyenangkan ini. apa lagi raut kesalnya itu, ini pertama kalinya Simon melihat raut velice yang berubah ubah. berbanding terbalik dengan velice, gadis itu bahkan merutuki dirinya dan menyesal kenapa tubuh ini harus punya adik yang super menyebalkan seperti itu. sepertinya, lain kali velice harus membalas bocah itu.
di sisi lain. di sudut bangunan lantai empat kastil helbert. dari balik jendela, cloud menatap anak anak nya dengan pandangan rumit. sorot matanya menatap ekspresi velice yang baru pertama kali ini ia lihat. entah kenapa sudut hatinya terasa tersentil. kenapa selama ini ia tak pernah tau ekspresi apa saja yang dimiliki putri kecilnya itu??
putri kecil??
senyum cloud mengembang. benar, gadis itu putri kecilnya, anak yang sangat ia nantikan kehadirannya, malaikat kecilnya yang membuat dia tak bisa mengekspresikan wujud kasih sayangnya. karena selama ini, hanya cukup tau dia tumbuh dengan baik saja. itu sudah cukup.
cloud, ingin melihat itu semua lebih lama. cloud ingin menjaga senyum itu...
apakah bisa??
***
malam semakin larut, disaat kastil helbert tak ada lagi kehidupan. claud, pria itu menghembuskan nafasnya lelah. ia menutup lembar terakhir dari berkas yang ia garap barusan. ia memejamkan matanya sejenak. kemudian beranjak dari duduknya, lalu melangkah ke sudut ruangan. dirinya bergerak membuka sebuah pintu lalu melangkah masuk. ruangan itu adalah sebuah kamar yang memang di persiapkan khusus jika claud ingin istirahat tanpa perlu kembali ke kamarnya. dan ruangan ini adalah tempat yang tak sembarang orang bisa memasukinya.
langkah kaki claud semakin membawanya menuju sisi ruangan yang terdapat lukisan cukup besar, itu lukisan Veronica. istrinya sekaligus wanita yang sangat dicintai.
bola mata cloud berkaca kaca, hatinya terasa sesak, sorotnya menatap sendu lukisan itu. kedua tangannya mengepal erat. tubuh pria itu bergetar. cloud memejamkan matanya sejenak. kemudian ia segera berbalik melangkah keluar dari ruangan itu. langkah claud terhenti ditengah ruang kerjanya, ia tampak berpikir, kemudian ia memutuskan pergi keluar dari ruangan, lalu membiarkan kakinya melangkah kemanapun hatinya ingin.
langkah kaki cloud terhenti di depan sebuah ruangan. ia menatap pintu besar berwarna white gold di depannya sejenak. pikiran dan hati cloud berkecamuk. setelah claud berdiri cukup lama, dengan yakin ia membuka pintu itu, lalu melangkahkan kakinya memasuki sebuah ruangan. ruangan itu tampak temaram. tak ada satupun pencahayaan di ruangan ini selain cahaya bulan yang menembus melewati celah celah gorden. ditengah ruangan itu, terdapat sebuah ranjang dengan ukuran cukup besar. diatasnya, seorang gadis tertidur dengan lelap. gadis itu tampak tenang tak terganggu sedikitpun dengan suara langkah kaki cloud yang mendekat.
cloud terdiam cukup lama. ia memperhatikan gadis yang tertidur di depannya intens, perlahan sudut bibir cloud tertarik. senyumnya mengembang sempurna. pandangannya menatap gadis itu lembut. cloud terkekeh kecil. hanya melihat begini, tapi sudah membuat sudut hati cloud menghangat.
tangan cloud terulur, ia membelai lembut Surai perak gadis didepannya. kemudian dirinya mencium lembut kening gadis itu cukup lama. setelah itu ia berbalik, kemudian melangkah pergi keluar dari kamar itu.
" apa yang ayah lakukan disini??"
tubuh cloud menegang terkejut. ia berbalik menatap pemilik suara itu setelah menutup pintu kamar velice.
" tidak ada" tukasnya datar.
" kau sendiri, apa yang kau lakukan disini??"
bocah berusia 13 tahun itu hanya mengangkat bahunya acuh.
" aku tidak bisa tidur"
tukasnya santai. claud mengangguk. ia melangkah mendekat mengacak ringan rambut Simon. tubuh Simon terpaku, tidak biasanya claud perhatian seperti ini, Apalagi menyentuh kepalanya.
" tidurlah, ini sudah malam"
tegasnya datar. pria itu berbalik kemudian pergi meninggalkan Simon begitu saja.berbanding terbalik dengan Simon. bocah berusia 13 tahun itu menganga melihat perlakuan ayahnya yang aneh. hei... sebagai seorang anak. Simon tau betul seperti apa itu cloud. pria berdarah dingin yang sangat anti bersentuhan dengan siapa pun bahkan termasuk anaknya. pria gila yang tidak akan mungkin mengucapkan kalimat lebih dari 10 kata. dan mustahil baginya menunjukkan kepedulian sebesar itu pada orang lain.
" itu benar ayah ku??"
monolog Simon tak percaya. ia menatap kepergian cloud dengan ekspresi konyol yang mungkin jika ada velice disampingnya, pasti akan tertawa terbahak bahak melihat ekspresi Simon yang ewhhh.
" sepertinya setelah kepergian ibu, ayah semakin gila saja"
tukasnya aneh. ia menormalkan kembali ekspresinya, kemudian menghembuskan nafasnya pelan. sudut bibir simon tertarik membentuk sebuah senyuman. ucapan dan perasaannya barusan benar benar tak sinkron. Simon melirik kamar velice yang tertutup, pikirannya rumit. dia menatap pintu itu cukup lama. entah apa yang di pikirkan bocah itu, yang jelas. setelahnya senyum di bibir Simon mengembang kemudian ia kembali melangkah pergi dengan perasaan berbunga bunga. ah, ia janji, setelah ini dia tidak akan mencuci rambutnya.
****
pagi menjelang. velice mematut dirinya didepan cermin. senyum nya mengembang. astaga, kenapa dia baru sadar kalo tubuh yang dia tempati begitu cantik dan imut. tubuh yang dia tempati memiliki kontur wajah yang menawan, dengan di padukan kulit putih yang mulus dan lembut, bulu mata yang lentik, kemudian ditambah iris matanya berwarna blue sapphire yang tampak memukau. Belum lagi hidung mungil yang mancung, bibir tipis berwarna merah muda alami, dipadukan pipi chubby yang menambah kesan imut dan cantik. velice yakin, beberapa tahun kemudian tubuh ini akan tumbuh menjadi wanita yang membuat lelaki sulit mengalihkan pandangannya.
eh tapi tunggu , kalo dirinya saja yang sebagai figuran secantik ini, lalu bagaimana dengan protagonis wanitanya?. ah, sudah pasti jauh lebih cantik. belum lagi dengan protagonis prianya juga antagonisnya.velice yakin mereka pasti lebih memukau dari bayangannya. apalagi dunia ini di penuhi dengan cogan cogan yang berkeliaran. uhh.. jiwa berburu cogan velice rasanya jedag jedug. lagi pula, misi dia adalah menghindari kematian. jadi dia harus menjauh dari segala *****-bengek tokoh utama. lalu pergi sejauh jauhnya dan memulai kehidupan baru yang lebih membahagiakan dengan dikelilingi cogan disekitarnya. wow, menyenangkan bukan??. oh, jangan lupa uang banyak yang membuat hidupnya semakin damai tentram dan nyaman.
" baiklah baiklah. tapi sebelum itu. kau harus bercerai dulu dengan si gila itu"
monolog velice saat dia mengingat suaminya sekarang itulah yang nanti akan membunuh nya.