
setelah pertemuannya tadi dengan lucius, sekarang disinilah velice berada. dia terjebak dengan dua orang yang entah siapa mereka yang sedari tadi terus mengeluarkan hawa dingin mencekam. velice tidak tau, sepertinya dia salah masuk ruangan atau bagaimana. begitu juga dengan rey mencoba bersikap tenang. dirinya menahan diri untuk melangkah kabur dari ruangan yang terus mengeluarkan hawa mencekam dari tadi. seharusnya ia tadi menyetujui ajakan velice untuk tidak memasuki tenda ini. dan sekarang, rey benar benar menyesal.
velice menahan diri untuk tidak terlihat mengagumi paras dua orang yang saling menatap tajam itu. menurutnya, situasi ini
lebih penting dari pada urusan tampang. karena di depan velice, kakak nya atau sebut
saja si lucius itu, sedari tadi dia menatap velice dengan pandangan dingin. seakan ingin menguliti velice yang lancang datang keperkemahan mereka. belum lagi keberadaan pengganggu kecil yang saat ini tengah memeluk velice dari samping dengan erat. orang itu, tentu saja simon. memang siapa lagi yang akan bersikap seperti itu disini??. lucius? itu tidak mungkin. dua orang asing itu?? sekalipun velice tidak keberatan di peluk mereka berdua tapi velice cukup sadar diri sekarang.
" untuk apa kau kemari??"
pertanyaan bernada dingin dan datar itu seketika membuat simon seolah menyadari sesuatu. dengan cepat simon segera melepaskan pelukannya kemudian menatap velice
menyelidik. dia memicingkan matanya menatap velice dengan sorot menuduh.
" benar juga, untuk apa kau kemari velice?? tempat ini berbahaya, kau datang kesini karena bosan hidup begitu??" tukasnya sinis. ah, entah kemana wajah bocah
yang tadi terus merengek 'aku merindukan mu..' dengan air mata buaya alay nya. ck, dasar drama. velice memutar bola matanya malas. dirinya menatap simon kesal.
" raja yang menyuruhku kemari, beliau memintaku untuk mengatasi wabah aneh yang terjangkit disini. jadi, bisa beri tahu aku apa yang sebenarnya terjadi??. Dan biarkan aku segera menyelesaikannya lalu pulang.." tukasnya malas.
robert yang mendengar ucapan velice terkekeh. pria itu bahkan terang terangan menatap velice. sudut bibir pria itu terangkat membentuk seringai misterius dengan sorot licik yang tak tersembunyi.
"menarik.."
tukasnya yang berhasil menarik atensi velice dari simon. hei, sejak kapan orang ini memperhatikannya?, bukan kah dari tadi dia terus bertatapan dengan pria bersurai hitam itu. bahkan sekali lihat pun velice bisa melihat percikan petir disertai awan hitam yang mengelilingi mereka berdua.
"lucius kau tidak ingin mengenalkan gadis itu kepada kami??"
tanya robert dengan tatapan yang tak lepas dari velice. sorot matanya menatap velice dalam seolah ada sesuatu yang ia rencanakan yang melibatkan velice. lucius mendengus malas. dia sebenarnya tak ingin mengenalkan adiknya ini pada siapapun.
" adik perempuan ku" tukas lucius singkat.
" adik ya.."
monolog robert penuh arti. pria itu beranjak dari duduknya kemudian melangkah mendekati velice. tangan robert terulur mengambil tangan
kanan velice kemudian mengecup jemari lentik velice dengan lembut.
" hallo nona, nama ku roberto lecaious D ignasius. boleh aku tau nama anda young lady??"
velice mengedipkan matanya bingung. tubuh gadis itu mendadak kaku seketika. bukan tanpa alasan, jika protagonis pria di depannya ini tidak berpotensi menjadi malaikat mautnya, mungkin velice sekarang sudah jingkrak jingkrak tak karuan lalu dengan senyum malu malu nya menjawab ' tentu saja tuan tampan' disertai suara mendayu- dayu plus senyum manis semanis madu. tapi sayang ekspektasi tak
sesuai realita. velice sadar, dia tak boleh terhanyut oleh rupa malaikat
berwujud iblis ini. atau hidup aman-nyaman-damai miliknya ini akan hilang begitu saja.
"t tentu, perkenalkan saya zhevelice shereen de helbert. dan samping saya dia reymond stevvy vablo, teman sekaligus asistent dokter saya"
tukas velice disertai dengan menarik jemarinya yang berada di genggaman robert.
" seperti dugaan saya, anda benar benar cantik lady"
ungkapnya dengan senyum
yang tak luntur dari bibirnya. robert melangkah dan kembali ke tempat duduknya, dia
menatap velice dengan sorot penuh arti.
" tak hanya cantik, ku dengar dia juga terkenal sebagai dokter hebat ibu kota, benar benar berpengetahuan tinggi. bukankah calon permaisuri anda sangat sempurna yang mulia?, tapi kenapa anda masih menginginkan wanita milik saya?? "
Tukas robert tajam. velice menatap tak percaya si robert robert itu. hei, velice dari tadi diam, dirinya tak melakukan apapun, lalu kenapa namanya dibawa bawa??
" milikmu??"
suara sedingin es itu terdengar menakutkan. bahkan mendengar suaranya saja sanggup membuat bulu kuduk velice merinding. sialan orang orang ini benar menakutkan.
" elfriya tak pernah memilihmu, dari awal dia hanya mencintaiku. seharusnya kau
sadar tentang itu"
senyum miring robert luntur seketika. dia tau, sampai detik ini. elfriya masih
mencintai alfarest, lelaki yang jelas jelas melukainya. dan robert tak bisa
menerima itu. dia mencintai elfriya melebihi apapun. dan dia tak akan
membiarkan pria didepan nya kembali menyakiti wanitanya. tidak akan ia biarkan itu.
lucius menatap malas pertengkaran kedua sahabatnya ini. ini hal biasa yang ia lihat, tapi masalahnya disini ada adiknya. seseorang yang pasti secara tidak langsung akan terluka dengan pernyataan yang di sampaikan alfarest. lucius berdecih sinis, kenapa mereka bertiga harus mencintai gadis yang sama. dan kenapa adik yang entah sejak kapan menarik perhatiannya ini menjadi pihak yang terluka. akan lebih baik jika adiknya ini jatuh cinta pada orang lain. dengan begitu, gadis manis di depannya ini tidak akan terluka.
tak ingin membiarkan velice lebih lama melihat tontonan ini, lucius segera bangkit. ia menatap velice tanpa ekspresi.
" kau bilang ingin mengetahui tentang wabah aneh ini kan?. ikut aku, aku akan membawa mu ke suatu tempat yang memberikanmu jawabannya" tukas nya datar, kemudian ia melangkah pergi begitu saja mengabaikan kedua temannya yang terus berseteru.
melihat lucius yang melangkah pergi, simon, velice, dan rey segera mengikuti pria itu. merek tidak mau mendapatkan hal buruk jika mereka lebih memilih bertahan bersama dua iblis itu.
lucius membawa mereka ke tenda evakuasi. sepanjang velice melihat, hanya ada orang orang yang terluka secara tak wajar disertai banyaknya prajurit bersenjata lengkap mengawasi mereka.
kening velice berkerut semakin tidak mengerti. sebenarnya wabah seperti apa yang menimpa mereka? kenapa situasinya terasa janggal?. mengabaikan banyaknya pertanyaan yang bersarang di otaknya, velice memutuskan untuk terus mengikuti langkah lucius. hingga langkah mereka terhenti saat melihat lucius mendekati seorang gadis. entah siapa gadis itu yang jelas ini pertama kalinya velice melihat kakak bekunya ini tersenyum. astaga, bahkan velice
sampai menganga melihatnya.
" kau datang kak lucius??"
sapa seorang gadis dengan raut lelah namun tetap tersenyum saat melihat keberadaan lucius. lucius tersenyum lembut. pandangannya melembut dan penuh kasih saat melihat gadis itu.
" kau terlihat lelah"
ujar lucius dengan tangan terulur mengusap keringat yang menetes di dahi gadis itu. gerakannya sangat lembut. seolah jika ia kasar sedikit gadis itu akan terluka.
"jangan terlalu memaksakan diri, perhatikan juga kesehatan mu elfriya"
w-what??
gadis itu elfriya??. jadi, dia yang akan menjadi alasan velice mati nanti. raut
velice memucat. apa yang harus ia lakukan sekarang?!. oke, mendadak velice linglung..
' mama...anak mu masih ingin hidup....'
batin velice meratap sedih.