
" siapa mereka?"
tanya elfriya saat menyadari keberadaan orang lain di antara mereka.
"perkenalkan dia zhevelice, adik perempuan ku. dan pria itu reymond stevvy vablo. mereka adalah orang yang di utus kaisar untuk mengatasi wabah disini." tukas lucius lembut.
velice melangkah mendekat. tangannya terulur untuk mengajak elfriya berkenalan.
" hallo, aku zhevelice shereen de helbert. seperti yang kau dengar dari kakak ku, kedatangan kami kesini untuk mengatasi wabah yang terjangkit disini. jadi boleh saya tau apa yang sebenarnya terjadi disini??"
ujar velice dengan senyum bisnis andalannya. yah, sudah velice putuskan. dirinya tidak akan ikut campur apapun yang berkaitan dengan para tokoh disini. yang jelas selama tidak ada orang yang mengusiknya, velice akan tetap diam dan hidup sesuai keinginannya. lagi pula disini kan ada banyak pria tampan, jadi bisalah velice tidak ikut campur urusan para tokoh disini. toh velice yakin, kedepannya dia akan disibukkan dengan para pria tampannya disini.
" hai, aku elfriya lindsay. aku kepala tabib disini sekaligus sahabat baik kakak mu"
balas elfriya tak kalah ramah. gadis itu tersenyum sumringah, dia sudah mendengar tentang kedatangan bantuan pengobatan dari kota. yang tidak menyangka orang dari kota itu ternyata adik dari sahabatnya.
batin velice meringis. netranya melirik kakaknya yang berekspresi tidak enak. meskipun sekilas velice bisa melihat ekspresi itu. velice yakin, pasti sekarang hati kakaknya tengah sakit. bagaimana tidak, dia hanya dianggap sahabat oleh perempuan yang di cintainya.
" mari ikut dengan ku, akan ku tunjukan korban terakhir yang terjangkit wabah itu."
elfriya mengajak velice dan yang lain ke sebuah ruangan. ruangan yang berisi mayat yang mungkin baru saja meninggal.
"sebenarnya, kondisi wabah disini tidak sesederhana apa yang kami laporkan ke
istana. kami tidak tau apa yang terjadi, beberapa waktu yang lalu ada beberapa
prajurit yang tiba tiba mengamuk, mereka menyerang prajurit lain seolah tak bisa membedakan kawan atau lawan. yang lebih mengherankan lagi, saat mengamuk mereka justru menggigit, mengoyak tubuh temannya seolah kewarasan mereka telah
hilang. dan akibat kejadian itu ada banyak korban yang berjatuhan. kejadian itu tak hanya sekali atau dua kali tapi berulang kali. kami sudah mencoba untuk mencari tau apa yang terjadi. tapi sampai detik ini tak ada yang tau penyebabnya."
elfriya menghela nafas lelah. kepalanya benar benar pusing dan tubuhnya benar benar lelah. lucius yang berada di samping elfriya mengusap lembut punggung gadis itu. memberikannya semangat dengan mengatakan bahwa gadis itu tidak mengatasi masalah ini sendirian.
" jika hal ini terus berlanjut, maka ada kemungkinan semua orang yang berada di perbatasan ini akan di basmi. karena kerajaan tidak mungkin membiarkan wabah ini semakin menyebar dan membahayakan penduduk sekitar"
" aku mengerti " tukas velice sembari melangkahkan kaki nya mendekati mayat yang tampak baru.
" apakah ini mayat yang baru saja meninggal??"
elfriya mengangguk.
"ketiga mayat di samping mu itu baru saja meninggal 1 jam yang lalu"
velice mengangguk. dirinya segera melapisi kedua tangannya dengan sarung tangan karet yang ia bawa. kemudian ia segera mengecek kondisi mayat di depannya.
" rey coba kau otopsi mayat yang lainnya"
perintah velice yang segera di turuti rey, selama setengah jam kedua orang ini terus berkutat dengan ketiga mayat di depannya. sejenak elfriya, lucius, dan simon, menatap dua orang itu bingung. memangnya apa yang bisa didapatkan dari tubuh seorang mayat.
"sudah, apa pendapat mu rey??"
" ada banyak bekas gigitan ditubuh korban, juga lebam di beberapa bagian. beberapa dari gigitan itu bahkan sudah mencapai tulangnya. selain itu aku juga menemukan gumpalan daging disalah satu mulut korban. aku menduga mereka saling menyerang dengan saling menggigit satu sama lain."
" tidak mungkin mereka saling menyerang dengan menggunakan gigitan. mereka adalah pasukan elite dari kamp pertahanan. jika pun saling menyerang seharusnya mereka menggunakan pedang"
saut seseorang sembari melangkah masuk dan mendekat dimana elfriya berada. pria itu segera menarik elfriya kedalam dekapannya. kemudian mengelus pelan rambutnya lalu mengecup nya lembut. dasar manusia bucin yang tidak tau tempat!.
velice menatap alfarest malas. bahkan kini kedua bola mata gadis itu memutar saking malasnya. apalagi saat melihat kedua pipi elfriya yang merona malu saat mendapatkan perlakuan lembut tersebut.ah, velice tau. si elfriya itu masih memiliki perasaan pada alfarest rupanya. lucius yang melihat adegan mesra di depannya hanya menatap datar alfarest. tangan pria itu mengepal tanpa siapapun tau, kecuali velice yanv melihat itu. velice bisa memastikan kakaknya itu tengah cemburu berat sekarang. sudah abaikan tentang para tokoh ini, sekarang ada yang harus gadis itu pastikan. masalah serius yang baru ia sedari hal ini sama sekali tidak tertulis dalam novel.
" itu berarti mental mereka mengalami kekacauan."
" kekacauan bagaimana?" saut elfriya sembari melepas paksa pelukan alfarest pada dirinya. mungkin gadis itu malu saat semua pasang mata menatap mereka berdua.
" tapi bagaimana kau bisa menyimpulkan hal seperti itu??"
" untuk itu aku perlu membuka kepala mereka untuk mengetahui lebih lanjut, bolehkan yang mulia??"
Izin velice pada alfarest, bagaimana pun pria itu merupakan pemimpin tertinggi disini. jadi dia harus memastikan perizinan tindakannya mengotopsi korban dari pria kaku didepannya ini.
Alfarest terdiam. dia menatap elfriya lembut dengan tangan yang terus mengelus rambut gadis itu. pria itu bahkan tak mengalihkan pandangannya sama sekali, perhatian alfarest sepenuhnya hanya untuk elfriya.
"bagaimana menurutmu elfriya??"
velice menaikkan sebelah alisnya tak percaya. segitu bucin nya kah si alfarest itu hingga keputusan sepenting ini kekasihnya yang harus memutuskan. aih, sepertinya keputusan velice untuk mengajukan gugatan cerai itu sudah tepat. mungkin akan lebih baik jika ia mempercepatnya saja.
simon yang sedari tadi memperhatikan velice diam diam mengepalkan tangannya erat. dia tidak menyangka jika pangeran alfarest dengan berani menunjukkan kemesraannya di hadapan kakaknya ini. simon ingin membunuh pria yang telah berani mengkhianati kakaknya ini. tapi dia sadar, dirinya belum sekuat itu untuk melawan alfarest. setidaknya belum untuk sekarang. simon bersumpah, kelak saat dirinya sudah cukup kuat, dia akan membunuh alfarest dengan tangannya sendiri. dia pastikan itu, jadi untuk sekarang, simon hanya bisa menahan diri terlebih dahulu.
" aku tidak pernah mendengar tindakan seperti itu bisa dilakukan. tapi berhubung anda melakukannya pada mayat kurasa itu tidak masalah"
velice tesenyum sumringah. baiklah mari kita segera selesaikan masalah disini. dan abaikan orang orang itu.
" baik, terima kasih lady.."
"baik"
setelah itu, mengabaikan orang orang yang berada di tenda ini. velice dan rey segera melakukan operasi pembukaan kepala di depan semua orang disini. beruntung saat datang kesini velice dan rey membawa semua alat medis miliknya. jadi ia bisa melakukan operasi darurat seperti ini.
simon dan lain nya hanya memperhatikan tiap tindakan yang di lakukan oleh velice dan rey, wajah mereka memucat, perut terasa mual saat melihat bagaimana velice membedah otak manusia. bahkan elfriya, gadis itu menjerit ketakutan saat melihat bentuk otak dan segala macam
isinya. dan dengan sigap alfarest menarik gadis itu ke pelukannya,
menyembunyikan kepala gadis itu di dada, dan menenangkannya dengan lembut. ingin rasanya alfarest menghabisi velice dan rey yang telah membuat gadisnya ketakutan. tapi dia sadar, dia tidak boleh bertindak bodoh saat ini, setidak nya tidak untuk sekarang.
2 jam sudah velice dan rey berkutat dengan kegiatan mereka. dan sekarang kedua orang itu sudah selesai dengan urusannya sembari berjalan mendekati alfarest dan lainnya. oh, juga ada robert yang entah sejak kapan juga berada disini. Setelah velice dan rey salang berbisik satu sama lain, kedua orang itu segera mendekati orang orang yang berada di ruangan ini dengan membawa 3 wadah yang entah isinya apa.
" lihat ini.."
ujar velice sembari meletakkan 3 wadah itu di meja. orang orang dalam ruangan ini mendekat, mereka ingin mengetahui lebih lanjut apa yang di bawa oleh velice.
" kami menemukan benda ini di dalam otak ke 3 mayat itu"
" itu terlihat seperti... ulat??"
tukas simon memperhatikan serangga sebesar jari kelingking bayi berwarna hijau kehitaman.
" benar, itu memang ulat. di ketiga mayat itu kami mendapati lubus frontal dan temporalnya menyusut. selain itu, disekitar keduanya terdapat gigitan yang kami duga di akibatkan oleh ketiga serangga ini. serangga ini pula yang mengendalikan ketiga mayat itu menggila hingga menyakiti atau bahkan menyerang orang lain dengan gigitan. kemudian saat gigitan serangga di dalam otak semakin dalam fungsi otak akan hilang hingga menyebabkan kematian."
jelas velice panjang lebar. alfarest dan lainya mengangguk mengerti. sekarang mereka paham apa yang menyebabkan kekacauan yang berada di camp pertahanan. berbeda dengan orang orang berada di ruangan ini, raut wajah alfarest menggelap emosi.
"tunggu, apa itu lubus frontal dan temporal?? "
tanya lucius tak mengerti. bagi lucius yang pernah mempelajari ilmu medis dulunya, merasa asing dengan istilah yang disebutkan adiknya. pertanyaan lucius juga disambut anggukan bingung dari yang lain. velice yang mengetahui itu segera mengambil kertas, kemudian menggambar sketsa bentuk otak manusia beserta mencantumkan istilah istilah medis lainnya di kertas tersebut.
" lubus frontal dan temporal adalah tempat manusia berpikir, mengingat, merasa, dan membuat keputusan. dan ini adalah ukuran normal dari organ ini" jelas velice sembari menunjukkan gambar tersebut.
" tapi penderita penyakit mental atau yang kalian sebut orang gila, bagian ini akan menyusut" tunjuk velice pada sebuah bagian dalam gambar.
" dan bukan hanya bagian ini saja yang menyusut. bagian lain juga terdapat tanda telah dirusak dan ini seperti sesuatu telah memakannya.."
jelas velice serius. gadis itu sejenak terdiam. dia memperhatikan raut raut serius saat orang orang di depan nya sibuk berpikir. sudut bibir velice terangkat membentuk seringai licik yang berhasil menarik perhatian orang orang di depannya.
"entah kenapa ini tepat seperti yang ku duga sejak aku menginjakkan kaki disini.."
ujar velice dengan nada ambigu. dia sudah menduga ada pihak yang sengaja menyebarkan benih benih ulat pemakan otak ini di antara prajurit.
" yang mulia aku saran kan anda menyeleksi ulang orang orang di kamp ini. ada kemungkinan terdapat penyusup yang menyebarkan benih ulat ini ke makanan atau sumber minum para prajurit. dan juga ganti semua sumber makanan atau minuman prajurit. dugaan ku asal muasal penyebaran ini berasal dari sana."
tegas velice yang membuat orang orang di ruangan ini terkejut, mereka tidak menyangka gadis yang terlihat ceroboh ini ternyata sangat jeli dan memiliki intuisi yang tajam. berbeda dengan rey yang terbiasa melihat sisi velice yang seperti ini. pria itu bahkan sudah tau bagaimana menakjubkan nya seorang velice saat gadis itu serius.
" apa maksud mu kak?"
tanya simon tidak mengerti. bagaimana bisa velice mengatakan hal seperti itu.
" kau tidak berpikir ulat ini tumbuh begitu saja di otak manusia kan simon?"
" ulat ini, dia akan tumbuh saat dia masuk kedalam tubuh manusia. tentu saja saat masuk ke tubuh manusia, ulat ini masih dalam bentuk menjadi telur. dengan kondisi seperti ini, jelas ada pihak lain yang telah menyusup kedalam kamp tanpa di ketahui siapapun dan menyebarkan telur ulat ini kedalam makanan atau minuman para prajurit. karena hanya itulah satu satunya cara agar telur ulat ini masuk kedalam tubuh manusia, kalian mengerti yang aku katakan ini??"
" aku mengerti."
tegas alfarest dingin. aura pria itu sekarang tampak menakutkan. tentu saja, pertahanan kamp ini telah di bobol, dan dia baru mengetahui setelah banyak kejadian yang melibatkan banyak nyawa menghilang sia sia. dan bodohnya, dia mengetahui ini karena penjelasan velice.
" aku akan melakukan sesuai apa yang kau katakan tadi, akan ku pastikan orang itu hidup segan mati pun segan."
velice mengangguk puas. yah, memang seharusnya seperti itukan.
" tunggu yang mulia"
tahan velice saat melihat alfarest melangkahkan kakinya keluar. urusan velice belum selesai dengan pria itu.
" sebelum anda pergi bisa tolong berikan pada ku 2 orang prajurit yang masih hidup?"
" untuk apa?"
" aku harus membuat vaksin khusus untuk mengatasi para prajurit yang kemungkinan telah terpapar. sebelum mereka mengamuk dan membuat kekacauan, vaksin harus sudah jadi. untuk itu aku membutuhkan 2 prajurit untuk ku jadikan kelinci percobaan ku. anda tidak masalah kan??"
alfarest terdiam sejenak. kehilangan dua prajurit ia rasa tidak masalah jika imbal balik itu semua keselamatan seluruh penghuni camp.
" baiklah, mereka akan datang padamu besok"
dan setelah itu alfarest benar benar pergi yang di ikuti simon, lucius, dan robert. sepertinya mereka akan membahas sesuatu karena hal ini.