
" Rachel"
panggil velice - Alexa mulai sekarang di panggil velice aja- pelan. ia menatap hamparan bunga edelweis di depannya dengan sorot berpikir.
" ya nona"
balas Rachel cepat, velice mengalihkan pandangannya menatap Rachel yang berdiri di sisi nya.
" dimana Simon, kakak, dan ayah?? kenapa aku tak melihatnya setelah sadar??"
Rachel tersenyum tipis, lagi lagi ia menatap velice dengan sendu.
" saya dengar, setelah pemakaman nyonya waktu itu, tuan muda Simon mengurung diri, dan sampai sekarang belum keluar kamar. tuan muda menolak untuk bertemu siapapun. sedangkan tuan muda Lucius, setau saya, setelah menolong anda tenggelam di danau. tuan muda Lucius memutuskan kembali ke perbatasan. rumor yang saya dengar saat ini yang mulia putra mahkota tengah menaklukkan semenanjung Siberia, makanya tuan Lucius tidak bisa tinggal lebih lama di ibukota. sedangkan untuk tuan besar, saya tidak begitu tau pasti. tapi yang saya dengar dari para pelayan, sekarang tuan besar memforsir dirinya untuk terus bekerja dan menolak untuk berhenti."
jelas Rachel, velice mengangguk mengerti. benar juga yang dikatakan Rachel, kondisi ini sama persis dengan yang dijelaskan di novel secara singkat.
di novel dijelaskan setelah kematian ibu pemilik tubuh ini. adiknya, Simon akan berlatih mati-matian, ia ingin melupakan kenangan dengan ibunya dengan cara berlatih. bahkan Simon di usia nya yang ke 15 tahun akan mengikuti Lucius ke Medan perang dan menjadi jendral hebat di sana. setelah itu sampai akhir hayat nya Simon menolak kembali. begitu juga dengan Lucius, jika bukan karena elfriya yang ke ibukota, Lucius juga tidak akan pernah mau kembali ke kota kelahirannya ini. sedangkan grand Duke helbert, pria itu akan menjadi gila kerja sampai ia melupakan kesehatannya sendiri. yah, seperti itulah garis besar keluarga helbert. tapi diantara 3 pria dingin keluarga ini, siapa yang akan dia dekati dulu ya..
Rachel menatap velice yang tengah menyesap tehnya. entah kenapa ia merasa nona nya ini tampak berbeda. dimulai dari tadi pagi yang menolak untuk ia mandikan. kemudian menolak memakai gaun mewah yang menjadi kesukaannya, dan lebih memilih memakai gaun yang sangat sederhana. gadis itu bahkan menolak segala macam make up yang biasa ia gunakan dan justru memilih memakai sedikit bedak tabur saja di kulit wajahnya.
kemudian, nona nya selalu menundukkan wajah saat bertemu seseorang. juga sangat sulit membuatnya keluar kamar selain jam pelajarannya. tapi hari ini, dengan entengnya dia berkata ' kamar ini terasa pengap, aku ingin jalan jalan saja'
tentu saja ucapan acuh itu benar benar membuat Rachel terkejut. di tambah lagi, nona nya tidak lagi menunduk saat berjalan. bahkan sekarang nona nya terlihat sangat percaya diri di setiap langkah yang dia buat. sorot pandangan nya menajam, tubuhnya berdiri tegak dengan pandangan menatap lurus ke depan. benar benar seperti melihat duplikat tuan grand Duke dalam wujud seorang gadis. senyum tipis Rachel terbit, nona nya sepertinya mulai berubah. dan dia senang untuk hal itu.
tepukan ringan di pundak Rachel berhasil membuat gadis itu terkejut, ia menatap pelaku yang menepuknya barusan. gadis yang tampak sangat menawan tanpa polesan make up dan tampilan sederhananya .
" apa yang kau pikirkan??"
pertanyaan singkat itu berhasil membuat Rachel terkesiap. gadis itu segera menggeleng
" tidak ada nona."
velice mengangguk mengerti,
" baiklah, kalau ada sesuatu yang mengganggumu, katakan saja padaku, aku akan membantumu"
ucapan sederhana itu berhasil membuat Rachel sedikit terkejut, namun gadis itu berhasil menutupinya.
" baik nona"
velice mengangguk singkat. kemudian ia segera melangkah pergi mendahului Rachel untuk meninggalkan taman utama kediaman helbert.
" cuaca panas sekali, sebaik nya kita kembali saja"
Rachel mengangguk, kemudian segera mengikuti velice di belakang gadis itu. nona nya adalah gadis yang baik, entah itu dulu maupun sekarang. dan Rachel tak pernah menyesal menjadi pelayan gadis itu. dia bersumpah akan terus disisi nona nya apapun yang terjadi kedepannya.
langkah velice menuntunnya melewati lorong lorong megah kediaman helbert. langkah kaki gadis itu mulai memelan saat ia melihat dari arah yang berlawanan Duke helbert berjalan kearah dirinya, velice ingat, pemilik tubuh ini selalu menghindar setiap kali dirinya berpapasan dengan Duke helbert, Lucius, maupun Simon. gadis itu akan merasa gugup dan takut. tapi sekarang tubuh ini bukanlah milik zhevelice si penakut, melainkan milik Alexa yang tak akan bersikap yang sama dengan zhevelice yang dulu.
" selamat pagi menjelang siang ayah!!"
sapa velice ceria. langkah kaki Duke helbert terhenti. ia menatap gadis cantik yang berdiri di depannya ini terkejut yang segera ia tutupi dengan ekspresi datarnya. bahkan rayyan , pengawal pribadi Duke helbert ini menatap velice terkejut. ia ingat, velice yang ia tau pasti akan berlari pergi saat melihat Duke helbert dari jauh. tapi ini, gadis itu menyapanya?? bahkan dengan ekspresi imut yang pertama kali ia lihat.
" bagaimana kabar ayah hari ini??"
tak ada jawaban...
" ayah pasti sibuk ya??"
diam, tak ada jawaban...
" yah... padahal velice ingin ngobrol banyak dengan ayah"
lagi lagi tak ada jawaban...
" baiklah, karena hari ini ayah sibuk, velice tidak akan mengganggu ayah. jadi, sampai jumpa lain waktu ayah, bye bye"
velice melambaikan tangannya sembari Melangkah pergi meninggalkan grand Duke dengan ceria.
cloud, pria itu menatap putrinya dengan pandangan yang rumit. bahkan sepanjang velice melangkah hingga dia berbelok ke tikungan lain. pria itu baru memutuskan pandangannya lalu melanjutkan langkahnya.
cloud, memejamkan matanya sejenak.
senyum itu...
entah kenapa membuat sudut hati cloud terasa berbeda...
malam semakin larut, udara dingin perlahan berhembus menerbangkan dedaunan yang mulai gugur. di arena pelatihan kediaman Duke helbert, Simon menebaskan pedangnya dengan ganas, pedang yang hanya menabrak angin saat ia mengayunkannya, Simon tak perduli dengan dirinya yang kelelahan. ia terus menebas, mengayunkan, memutar dan segala macam teknik berpedang yang ia asah. ia melampiaskan semuanya dalam pelatihan ini. tangannya menebas, tubuhnya bergerak, tapi pikiran Simon tak tentu arah. ia terus berlatih menambah kekuatan dalam dirinya. tak peduli rasa lelah yang menghujam, yang ia inginkan hanya melampiaskan perasaan sesak dan kehilangan begitu menyiksanya ini.
" akhh!!!!"
teriaknya kalap, pedang di genggamannya terlempar jauh. tubuh simon ambruk. lagi lagi air mata sialan ini kembali menetes. ia memukul tanah di bawah nya kuat kuat.
" bunda..."
panggilnya lirih. dadanya semakin berdenyut sesak. ia kehilangan wanita itu, ia kehilangan malaikatnya. ia kehilangan alasannya untuk bertahan hidup. ia kehilangan semua nya...
Simon semakin menunduk. air matanya semakin deras menetes. tubuhnya bergetar. ia memukul tanah di bawahnya berulang kali. tak perduli udara dingin terus berhembus, Simon melampiaskan semua perasaannya disini. Simon tak sanggup....
" percuma kamu menangis seperti itu, apapun yang kamu lakukan, bunda juga tidak akanĀ pernah bisa kembali"
Simon tertegun. suara ini, siapa yang begitu lancang berkata tidak sopan seperti itu. Simon melihat sepasang kaki yang berdiri di depannya. kepalanya mendongak, ia ingin melihat siapa yang berkata lancang seperti itu.
velice tersenyum tipis, ia bisa melihat jejak air mata di mata Simon. gadis itu segera berjongkok. mensejajarkan dirinya dengan Simon yang bersimpuh di tanah. tangannya terulur menghapus sisa air mata di pipi Simon.
tubuh Simon terpaku, ia bahkan tak mampu bergerak ataupun mengeluarkan sepatah katapun. melihat seseorang di depannya ini, sudah membuatnya benar benar terkejut.
" menangis tidak akan pernah menyelesaikan masalah Simon. tapi bukan berarti kau tidak boleh menangis, justru dengan menangis kau bisa melepaskan beban mu"
senyum velice terkembang. ia tidak tau jika adik pemilik tubuh ini sangat tampan. apalagi dia terlihat imut dengan matanya yang berkaca kaca. astaga stop velice!! kau harus ingat tujuanmu kesini!!.
" kau boleh menangis karena kehilangan ibunda, tapi bukan berarti kau terus berlarut larut dalam kesedihan"
Velice mengulurkan tangannya, ia mengusap air mata simon yang mengalir di wajahnya dengan lembut.
" sudah cukup kau berlarut dalam kesedihan simon. Sekarang saatnya kau untuk bangkit. Buktikan pada bunda bahwa kau, anak kesayangannya bisa di andalkan meskipun tanpa bunda di sisimu"
Simon memalingkan mukanya. ia tampak tak suka dengan ucapan velice barusan.
" tau apa kau tentangku velice"
ujar Simon dingin. nadanya datar tak bersahabat. rautnya tak berekspresi. velice menghembuskan nafas nya pelan.
" yah... aku akui, aku memang tak tau apapun tentang mu. kita saudara tapi tak seperti saudara. sebelumnya aku tak pernah bersinggungan denganmu juga kan?? . tapi kau tau Simon, apa yang dilakukan ibunda saat hanya berdua dengan ku??"
Simon melirik velice sejenak, kemudian segera memutuskan kontak matanya. velice tau bocah itu sudah terpancing dengan ceritanya.
" bunda selalu bercerita tentang kau, putra kesayangannya. bunda akan bercerita tentang kau yang begitu jail, mengesalkan, manja, namun sangat perhatian disaat yang bersamaan. bunda selalu berharap anak anaknya bisa melewati kehidupan ini dengan sangat baik"
velice memejamkan matanya sejenak, di kepalanya mulai memutar kenangan apa saja yang pernah ibu pemilik tubuh ini lakukan dulu. velice menangkap Simon yang menatapnya penuh saat ia membuka matanya. dan itu berhasil membuat velice tersenyum lembut.
Simon terkejut menatap velice yang tersenyum, namun laki laki itu berhasil menutupinya.
" nyatanya?? apa kau pikir harapan bunda bisa terwujud jika anak anaknya saja terus terpuruk seperti ini??"
" aku sangat mengerti apa yang kau rasakan Simon, kita merasakan perasaan yang sama. kau tau sendiri aku melakukan hal bodoh dengan bunuh diri. tapi kau pikir apa bunda akan bahagia dengan sikap seperti itu?? tidak, bunda kecewa. dan aku tidak ingin menambah kekecewaan bunda dengan terus terpuruk seperti ini. aku akan buktikan kepada bunda kalau aku bisa membuatnya bangga memiliki anak seperti ku"
velice tersenyum tipis, ia memegang kedua pundak Simon lembut. pandangannya menatap Simon lembut namun penuh keyakinan disaat bersamaan.
" kau memiliki pilihan dalam hidup mu Simon. kalau kau memang merasa putra nya bunda. maka buktikan kalau kau akan membuatnya bangga. tapi kalau kau terus terpuruk seperti ini, kau tidak pantas menjadi anak laki laki bunda. dan kurasa bunda salah terus membanggakan mu selama ini"
velice beranjak dari duduknya. kemudian tangannya membersihkan balik gaun tidurnya dari noda tanah. lalu netranya menatap Simon yang terus memperhatikan tiap gerakan velice.
" kalau kau berubah pikiran, beritahu aku Simon. aku akan disini dan selalu mendukungmu, percaya pada ku"
ujar velice yakin,
" ini sudah malam, aku pergi dulu, sampai jumpa besok..."
setelah berkata demikian, velice segera pergi, meninggalkan Simon yang termangu dengan kata kata velice. tangan Simon mengepal erat.
perasaan nya membuncah. apa yang di katakan velice barusan seolah menyadarkannya. tapi diluar itu semua kakaknya....
senyum Simon perlahan mengembang sempurna.
senyuman itu....
'ibu...aku menemukan alasan untuk hidup sekarang'
Simon menatap langit malam dengan perasaan hangat. malam ini dia bersumpah, dia tidak akan membiarkan alasan itu pergi begitu saja darinya.