
hembusan angin sore menerbangkan helaian rambut pendek simon. mata pria itu terpejam menikmati setiap usapan lembut angin sore. perlahan netra berwarna biru itu terbuka, kemudian menatap hamparan pepohonan dari puncak bukit wilayah perbatasan. tangan kiri simon meremas gelang hitam yang terpasang di pergelangan tangan kanannya .
gelang itu, adalah gelang yang sangat berarti bagi simon. karena hanya gelang itu satu satunya pemberian velice yang dia bawa. sorot mata simon berubah sendu. dirinya merindukan gadis itu, gadis yang bahkan tak ada sisi anggun sama sekali. teman bertengkar nya yang selalu sukses membuat hidup simon lebih berwarna. velice, kakak perempuan super genit simon. simon terkekeh saat ingatannya memutar kembali tentang velice.
" kau merindukan kakak mu??"
sudut bibir simon sedikit terangkat. tanpa perlu repot repot menatap sean, tangan kanan sekaligus sahabat nya yang berdiri di belakangnya. simon justru mendengus geli.
" orang itu tak pantas menjadi kakak ku" tukas Simon enteng.
" dia bahkan lebih cocok menjadi adik ku"
lanjut nya tertawa geli membayangkan bagaimana kesalnya velice saat simon tak mau memanggil gadis itu kakak. sean tersenyum tipis. dirinya tau, sahabatnya ini begitu merindukan saudara perempuannya itu. gadis unik yang selalu membuat sean maupun seluruh karyawan di mansion helbert geleng geleng kepala.
" kalau dia mendengar ucapan mu barusan. ku jamin kau tidak akan hidup lebih lama dari ini."
" itu tidak mungkin"
saut simon cepat. dia menatap sean sekilas. kemudian membalik kan pandangannya ke posisi semula. andai kakak nya itu ada disini, simon yakin gadis itu pasti akan segera mengabadikan pemandangan disini ke
dalam bentuk lukisan. ah, sepertinya simon lupa, selain melukis yang menjadi kesukaan velice. pria tampan dan otot merupakan kesukaan velice yang lain.
"velice pasti sangat merindukan ku, dia tidak akan sempat untuk membunuhku karena rasa rindunya itu" tukasnya percaya diri.
sean memutar bola matanya malas, jika orang yang tak pernah mengenal simon, mungkin akan mengira pria itu begitu dingin, kejam dan tak berbelas kasih. tapi siapa sangka dihadapan orang orang yang mengenalnya 'sangat baik' pria itu adalah sosok yang begitu jail, narsis dan bucin kepada saudara perempuan nya sendiri.
"kembalilah, obati luka lukamu itu. setidaknya jangan membuat kakak yang kau anggap adik itu takut melihatmu hanya karena bekas luka yang tidak kau obati"
"berani sekali kau memerintah ku !" saut simon dingin. entah kemana perginya sifat hangatnya tadi.
" ck, aku memberimu saran bodoh!! bukan memerintah mu"
ketus sean jengkel. pria itu segera berbalik pergi meninggalkan simon yang menatapnya kesal.
"sebenarnya siapa yang majikan disini...seenaknya saja dia memerintahku"
sungut nya kesal. namun tak urung, simon segera melangkah pergi menuruti perkataan sahabat laknatnya itu. hei!! simon tentu tak mau velice takut dengan nya karena melihat bekas luka yang tampak mengerikan.
setahun, berada di medan pertempuran yang seperti seabad. selama itu simon tak pernah bertemu velice. hanya gelang hitam di pergelangan tangannya ini lah satu satunya yang membuat simon bertahan. dia ingin segera mengakhiri pertempuran ini. dan selama setahun pula, simon harus melihat drama percintaan kakak nya yang membosankan.
seperti sekarang, begitu melangkahkan kakinya memasuki tenda kesehatan, lagi lagi simon di suguhkan dengan pemandangan cinta segitiga.
dan tentu saja itu antara cinta putra mahkota alfarest yang berebutan dengan tuan robert putra arch duke ignasius. kemudian ada kakak nya yang mencintai pihak perempuan dalam diam. mungkin karena tidak ingin persahabatan mereka bertiga rusak atau bagaimana, kakak nya itu lebih memilih diam dan mencintai si wanita dalam diam. kemudian si wanita bernama elfriya, dia adalah salah seorang tabib yang berada di sini. jika simon perhatikan gadis itu cantik. tapi tidak secantik kakaknya. dia juga manis dan ramah. tapi tidak semanis dan seramah kakaknya. pokoknya dimata simon tidak ada seorang pun perempuan yang lebih baik dari kakaknya. jadi, simon heran, apa yang menarik dari wanita itu hingga terus di perebutkan?? padahal gadis itu tak sesempurna kakaknya.
melihat drama cinta itu, andai kakak nya tau suaminya mencintai wanita lain. kira kira bagaimana perasaan velice, simon tidak yakin dia akan baik baik saja. simon menghembuskan nafasnya lelah, memikirkan velice yang akan terluka karena suaminya yang lebih memilih wanita lain membuat simon emosi seketika. simon menghembuskan nafas lelah. dirinya sadar, dia tak ada hak untuk ikut campur dalam percintaan kakaknya. tapi, satu hal yang pasti. jika dirinya melihat kakaknya terluka atau menangis karena hal ini. simon bersumpah akan membunuh pria itu, tak peduli jika dia adalah putra mahkota negri ini.
muak melihat pemandangan barusan, simon segera berbalik melangkah pergi. keinginannya untuk mengobati luka lukanya ia hilang seketika. ah, mood pria itu sekarang sedang tidak bagus.
kwak kwak..
simon menghentikan langkahnya saat mendengar suara burung elang disekitarnya. kepalanya mendongak saat melihat seekor burung elang yang terbang menuju kearahnya. tangan nya terulur kemudian tanpa di suruh. burung elang itu segera hinggap di lengan simon.
" kau datang lidia.."
sapa simon dengan senyum tipisnya yang terkembang. lidia, burung elang gagah dengan bulu berwarna kecoklatan dengan aksen gold di permukaan bulunya. oh, dan tentu saja lidia itu burung elang jantan. entah apa yang di pikirkan simon hingga menamai burung elang itu dengan nama perempuan. saat velice bertanya kenapa pria itu memberi nama perempuan, Simon pun dengan enteng menjawab ' biar nggak ada elang betina yang caper ke dia'. kan? nggak nyambung... atau memang velice nya saja yang tidak peka?.
" kau membawa surat velice??"
seolah mengerti degan perkataan simon, elang itu mematuk kakinya. menunjukkan gulungan kertas yang terikat di kakinya. senyum simon semakin lebar. ini yang dia tunggu dari beberapa hari yang lalu.
"baiklah, ayo masuk ke tendaku lidia.."
tukasnya riang. simon segera melangkah ke tendanya, lalu meletakkan elang itu di meja kemudian melepas
ikatan kertas di kaki lidia. tidak lupa simon terlebih dahulu mengambilkan asupan nutrisi untuk lidia, agar nantinya elang itu tidak ngambek saat disuruh suruh simon.
dear simon, si bajingan tengik.
sialan!!
sambutan macam apa ini. apa dia berharap dirinya segera mati??. kenapa rasanya Simon sangat kesal ya... mungkin jika ini anime komik, disudut dahi simon pasti muncul perempatan.
kau masih ingat dengan rey??
kening simon
mengernyit bingung. rey?? siapa dia.??
lelaki tampan yang ku goda saat pertama kali kita ke pasar, ingat??
ahh... pria itu. pertama kali laki laki yang di goda velice yang berhasil membuatnya malu setengah mati itu??
benar, beberapa bulan terakhir ini aku membuat bisnis bersama dengannya.
bisnis apa??
rey, dia putra marquess vablo, ayah nya adalah seorang tabib istana yang terkenal hebat. dan tentu saja bakat medis yang dimiliki ayahnya menurun kepadanya. aku dan rey
berhasil membangun rumah sakit. yah, itu semacam tempat perawatan untuk orang orang sakit. kami membangun tempat itu di dedikasikan untuk rakyat biasa, kau pasti tau bukan mayoritas tabib mendedikasikan dirinya untuk para bangsawan. ***dan akhirnya banyak rakyat miskin yang terabaikan disana.
seperti yang kau tau,
berhubung aku anak baik, jadi ku putuskan membantu mereka dengan menciptakan tempat berobat yang tidak memberatkan mereka. dan disini aku, rey. dan beberapa orang yang ku bimbing secara khusus lah yang menjadi dokter***.
dokter?? apa itu??
itu sebutan seseorang semacam tabib. ngomong ngomong, kau masih lama disana??
simon menggeleng. dia tidak tau kapan dia bisa kembali.
"kau merindukan ku??"
tidak!! siapa yang merindukan mu.
"jangan berbohong.."
aku tidak berbohong. nikmati saja waktumu disana... oh ya, bagaimana kabar kakak?? apa dia baik baik saja??
" dia sedang berebutan cinta kalau kau tau.."
kalo putra mahkota?? bagaimana kabarnya?? apa dia semakin tampan???
simon tersenyum sendu,
"bagaimana caraku memberi tahu mu?? pria yang berstatus suamimu itu, dia
menyukai orang lain. kalau kau tau ini, apa kau akan tetap baik baik
saja??"
aku baik baik saja, jangan khawatir. selama di sekitar ku ada banyak pria tampan, aku akan baik baik saja.
simon terkekeh. benar, kakaknya ini penggila pria tampan.dan dia akan baik baik saja dengan itu. entah kenapa simon begitu yakin kakaknya ini sedikitpun tak pernah memikirkan putra mahkota alfarest, padahal pria itu adalah suami velice.
sudahnya... aku sibuk. jari jari cantikku terlalu lelah untuk menulis lagi. jaga dirimu baik baik disana. Oh ya, kalo kau menemukan prajurit yang sangat tampan, berikan salamku padanya. beritahu dia bahwa zhevelice cantik tengah menunggunya pulang. dan.. jangan merindukanku. yah, walau aku tau kau pasti akan sangat sangat sangat merindukanku sih. aku benar bukan??.
senyum simon terkembang sempurna. apa yang di katakan velice memang benar. dia... benar benar merindukan gadis itu. ah... ingin rasanya simon menikahi velice. lagian boleh ngak sih menikahi kakak sendiri?.
lamunan Simon mendadak buyar. raut wajah pria itu berubah datar dengan sorot kesal.
" salam apa apaan itu, aku tidak akan menyampaikannya"