
waktu berlalu, robert menghabiskan waktunya untuk berlatih dan berlatih.
ayahnya mendidiknya dengan sangat keras dan hampir tidak pernah memberi waktu bocah itu untuk istirahat. lelah dengan segala tekanan dan pelatihan yang di lewatinya, robert memutuskan kabur. setidaknya ia ingin menyegarkan otaknya walaupun itu sebentar.
hingga tanpa sadar, di tengah perjalanannya, ia melewati hutan yang terletak di belakang kediaman duke
helbert. Saat itu, untuk kedua kalinya robert bertemu gadis itu. gadis yang selalu menghantui pikirannya. namun kondisi yang di temui robert sekarang cukup buruk.
dia, velice. tengah menangis dengan lutut yang berdarah. sejenak robert
bingung, untuk apa anak kecil sepertinya berkeliaran sendirian di hutan tanpa
di temani siapapun.
robert mendekat. kemudian berjongkok untuk melihat kondisi gadis itu.
" kenapa bisa begini??"
tanya robert tanpa menyembunyikan kekhawatirannya. velice mendongak menatap bocah kecil laki laki di depannya.
" kakak? kakak yang kehujanan waktu itu ya??"
robert tersenyum mendengar suara imut di depannya. ia menghapus air mata yang mengalir di pipi chubby velice. robert terkekeh menatap betapa imutnya velice saat menangis.
" iya, ini kenapa bisa luka??"
tanya robert lembut. sembari kembali memusatkan perhatiannya ke arah lutut gadis kecil itu yang berdarah.
" ...hiks...tadi velice jatuh waktu lali lali. jadinya velice beldalah..."
" kaki velice cakit, gak bica dibuat jalan.."
robert tersenyum lembut. ia mengelus rambut gadis itu pelan.
" gak papa. kita pulang ya, kakak gendong. nanti biar kaki elice di obati di rumah"
velice mengangguk, kemudian ia memiringkan kepalanya bingung
" elice?? elice itu ciapa?? kan nama velice itu velice"
robert terkekeh. ia mengacak rambut velice gemas. boleh tidak sih ia mengurung gadis imut ini untuk dirinya sendiri??.
" elice itu, nama panggilan dari kakak buat velice gak papa kan?"
velice menatap robert polos, kemudian mengangguk dengan senyum manisnya.
" ya udah.ayo, kakak antar elice pulang"
robert memposisikan dirinya dan kemudian menggendong velice di punggung. bocah itu segera berjalan menuju kediaman helbert.
" nama kakak itu ciapa?? velice gak tau nama kakak"
robert tersenyum. ia melirik velice di gendongannya. gadis itu tengah menyandarkan kepalanya di bahu robert hingga membuat sebelah pipi tembem gadis itu kegencet.
" nama kakak robert"
" lobet??"
" bukan lobet, tapi robert"
" iya lobet kan.."
" robert elice, bukan lobert"
" iya!! nama kakak itu lobet kan. velice tau kog. velice itu gak bica ngomong Lllll!!"
teriak velice kesal. gadis itu mengerucutkan bibirnya cemberut. sedangkan robert. bocah itu
sudah tertawa lucu. dia tidak tau kalo menjahili elicenya akan se-menyenangkan ini. elicenya ya?? robert tersenyum miring, sepertinya itu tidak buruk. ahh, robert hanya ingin hari ini tak terlewati begitu saja.
" ya sudah lah, mulai cekarang kakak velice panggil obet aja. bial mudah"
cemberut velice kesal.
setelah hari itu, hubungan robert dan velice semakin erat. mereka berdua sering bertemu diam diam di hutan belakang kediaman helbert. hingga tanpa terasa pertemanan mereka
berjalan satu tahun. begitupun dengan robert yang menyadari bahwa ia telah
jatuh hati sepenuhnya pada seorang velice. setiap hari perasaan robert semakin kuat. namun robert sadar velice masih terlalu kecil untuk mengerti sebuah cinta yang ia rasakan.
" kak obet tau gak--"
" enggak, orang elice belum ngomong kog"
" ish!! elice itu belum selesai ngomong tau!! kenapa di potong sih!!"
kesal velice dengan memukul mukul bahu robert. pukulan itu sebenarnya tak berasa apapun buat robert. namun dasarnya saja dia yang lebay. dengan alay nya ia berteriak kesakitan.
" sukurin!! siapa suruh bikin elice kesal!"
" elice jahat tau, elice udah gak sayang lagi sama kak obet??"
tanya robert dengan mata yang ia buat berkaca kaca. dia tau, velice paling tidak tega saat melihatnya akan menangis dan wajah yang terlihat menyedihkan. dan benar, muka kesal velice berganti khawatir bercampur sendu kemudian segera memeluk robert erat.
" kata siapa?? elice itu sayang sama kak obet. sayang~~ sekali. jadi kak obet jangan sedih~"
" bener? elice gak akan pernah ninggalin kak obet kan??"
tanya robert sendu dengan dirinya masih dipelukan velice.
" iya...elice janji kog. nanti kita akan sama sama terus se~lamanya"
senyum miring robert terbit. ia semakin mengeratkan pelukannya. elicenya sudah berjanji, dan dia tidak akan membiarkan gadis itu mengingkari janji itu. katakanlah dia licik. tapi robert tidak pernah peduli dengan itu semua. yang penting apapun yang ia inginkan akan ia dapatkan.
" oh iya, tadi kan elice mau ngomong. ngomong apa??"
tanya robert sembari melepaskan pelukan mereka.
ctak..
robert memukul dahi velice pelan yang di balas dengan wajah cemberut gadis itu dan tangan yang mengusap dahinya.
" kamu itu masih kecil elice. mana ada nikah nikahan. belajar aja dulu yang bener"
tukas robert mengesalkan.
" ih~~kak obet!! elice itu serius tau!!"
" dih, emang kamu tau nikah itu apa??"
" tau!!" balas velice ngegas.
" apa??"
" nikah itu, emm... kalo kita hidup bersama dengan orang yang kita suka. gitu kan nikah??"
robert menghela nafas pelan. ya, gak salah juga sih. lagi pula siapa sih yang meracuni otak polos gadis nya ini, kan robert jadi kesel gitu.
" elice, emang ada laki laki yang kamu suka sampai kamu bilang mau nikah begitu"
jujur, robert berharap dirinyalah yang di maksud oleh gadis di depannya ini.
" ada"
" siapa??"
velice tersenyum manis. ingatannya melayang pada orang yang baru kemarin ia temui. dan entah kenapa, melihat raut velice seperti itu membuat firasat buruk menimpa robert.
" putra mahkota alfarest, velice suka sama dia. putra mahkota itu, seperti pangeran berkuda putih buat veli" ujarnya dengan senyum manis berbanding terbalik dengan raut robert yang menegang kaku.
" ibu bilang, besok elice akan menikah dengan putra mahkota alfarest, soalnya kita sudah di jodohkan dari kecil. uhhhh... veli seneng deh kak, itu artinya putra mahkota juga suka kan dengan elice??"
robert tertawa kaku. hatinya terasa sesak sekarang. lagi lagi, robert harus di
patahkan dengan kenyataan. ingin rasanya robert merebut velice hanya untuknya. tapi melihat senyum itu, robert tak bisa, dia tak bisa menghancurkan senyum manis itu.
" kalo kak obet mau, besok kak obet bisa datang ke istana. kak obet bisa lihat elice menikah disana"
dan apa yang dikatakan velice benar adanya. sebagai putra bangsawan tertinggi di kerajaan. tentu saja robert ikut ayahnya menghadiri pernikahan sepasang anak kecil yang bahkan
belum melewati usia kedewasaan. robert bisa melihat bagaimana bahagianya velice yang berdiri di samping alfarest. sangat berbanding terbalik dengan alfarest yang terus menampilkan aura kelamnya sedari tadi.
belum cukup kekecewaan robert. kini sekarang dia di hadapkan dengan perintah untuk mengikuti perang bersama alfarest ke perbatasan. robert bahkan tidak memiliki kesempatan untuk berpamitan dengan velice.
tapi, bertahun tahun ia berperang. dan robert sudah berusaha keras untuk melupakan perasaannya pada velice. melampiaskan semuanya dengan berperang mati matian. tapi semakin ia berusaha, perasaan itu semakin menancap kuat di relung hatinya.
hingga, saat kedatangan elfriya.
elfriya yang menyukai sahabatnya, alfarest. dan alfarest yang diam tak memperdulikan. robert hanya acuh dan tidak tertarik untuk ikut campur.
hingga sebuah kejadian yang membuat robert sadar jika alfarest mulai menaruh hatinya untuk elfriya. awalnya robert berniat tidak perduli dan tak ingin ikut campur. tapi, ingatan velice yang mengatakan menyukai alfarest berkelebat di otaknya. robert tidak bisa membiarkan senyum di wajah velice itu hilang begitu saja. untuk itu, robert bertekad untuk merebut elfriya dari alfarest dan membuat gadis itu jatuh hati padanya.
sampai hari itu, hari kedatangan velice dan rey ke perbatasan. hal yang membuat robert tidak menyangka jika ternyata gadis yang ia cintai hingga di detik ini menjadi utusan
kerajaan, dan saat ini duduk di depannya. robert benar benar merindukan elicenya. apalagi seperti perkiraannya, elicenya tumbuh menjadi gadis yang menawan dan cerdas.
robert mulai ragu untuk merebut elfriya dan membuatnya jatuh hati padanya saat ia melihat tak ada lagi sorot suka velice kepada alfarest. bahkan gadis itu terlihat biasa dan acuh saat melihat alfarest yang tengah bermesraan dengan elfriya. detik itu robert sadar jika elicenya tak lagi menyukai alfarest. apakah itu berarti ini waktu robert memperjuangkan cintanya pada elicenya??.
ya sepertinya begitu, apalagi robert melihat ada banyak serangga yang tertarik dengan gadisnya. jelas kali ini robert tidak akan melepaskan gadis itu kembali
flashback off
robert menatap velice sendu. dadanya terasa sesak, rasa rindu yang ia rasakan benar benar membuncah hingga membuat ia terasa gila. robert merindukan gadis di depannya ini, sungguh.
"sampai sekarang, perasaan ku tidak berubah elice. aku mencintai mu melebihi siapapun. bahkan, sikap ku yang seakan mengejar elfriya itu tak lebih agar alfarest berhenti mengharapkan elfriya. karna aku tau kamu mencintainya kan?? aku hanya tak ingin kamu terluka lebih dalam. jadi katakan padaku elice, apakah
perasaan mu pada alfarest, sekarang masih ada??"
velice terpaku. kepalanya terasa pusing sekarang. sumpah, ini apa apaan?? kenapa bisa si protagonis prianya suka sama velice!!! juga, kenapa gak ada penjelasan dalam novel kalo mereka teman masa kecil.
haduh! sekarang harus bagaimana?? velice harus jawab apa sekarang??. semuanya benar benar tak sesuai dengan alur. padahal dia mah gak ngak ngapa ngapain lo...
velice menatap robert. bisa velice lihat pria di depannya ini benar benar tulus.
bahkan velice benar benar kagum dengan perasaan robert yang bertahan hingga sekarang. kecurigaan velice kepada robert sedikit berkurang sekarang. tapi tunggu, situasi ini lebih berbahaya dari pada fakta dirinya yang di manfaatkan robert untuk menarik perhatian elfriya. sumpah demi alex!!. velice benar benar tidak ingin bersinggungan dengan pria ini...
" tuan ignasius sa--"
" tidak elice, panggil aku obet."
velice mengangguk kaku. ah, turuti saja dulu. dari pada kepalanya melayang, iyakan?
" baik, k kak obet"
gitu kan?? robert tersenyum manis. sejenak velice tertegun. aih... cowok tampan kalo senyum emang beda ya.. sekali senyum aja hati velice langsung meleleh..velice menggelengkan kepalanya, menghalau blink blink yang muncul saat robert tersenyum.
" jujur saja, aku memang tidak ada perasaan dengan pangeran alfarest. mungkin itu karena lamanya waktu kita tidak pernah bertemu. begitupun dengan tu-eh kak obet.."
velice merutuki dirinya yang hampir salah ucap.
" aku tidak memiliki perasaan khusus terhadap kakak. mungkin selain karena kita yang tak pernah lagi bertemu, juga karena ingatan ku yang hilang. aku harap kakak mengerti apa maksudku"
jelas velice sebaik mungkin. andai saja robert itu bukanlah salah satu tokoh, mungkin velice dengan senang hati menerima cinta robert, kan sayang kalo cowok super gantengnya ngak ketulungan di anggurin...
robert tersenyum lembut. pandangannya menatap velice penuh kasih. tangannya terulur mengusap surai velice lembut.
" aku tau. aku senang mengetahui perasaan mu pada alfarest sudah hilang. jadi, bolehkah aku meminta satu hal padamu??"
velice menaikkan sebelah alisnya. yang di sambut uluran tangan robert yang membelai lembut pipi gadis itu. sungguh situasi ini benar benar membuat velice merinding.
"biarkan aku kali ini memperjuangkan mu..."
what?!!