
rey fikir, dua minggu setelah ia dan velice disibukkan dengan berbagai macam ramuan juga penelitian mengenai ulat sihir akan membuat otak velice sedikit waras, nyatanya?
baru saja kedatangan dua prajurit yang dikirim untuk menjadi kelinci percobaan vaksin yang di buat oleh rey dan velice, raut lelah gadis itu seakan hilang begitu
saja. pandangannya berbinar menatap dua prajurit yang baru saja datang, dan
dengan semangat velice melangkah mendekati mereka. rey heran, padahal dua prajurit itu tidak lebih tampan dari pada dirinya. lalu kenapa gadis itu tidak bisa tenang saat melihat laki laki yang sedikit tampan. yah, sedikit loh ya..
" hallo, apa kabar??. jadi kalian yang di perintah pangeran alfarest untuk mengikuti penelitian ini??"
Tanya velice dengan senyum menawannya. rey mendengus melihat velice yang mulai melancarkan aksinya.
" benar"
senyum velice semakin lebar. sedangkan rey, pria itu menutup wajahnya dengan satu tangan. dirinya merasa lelah sekaligus malu melihat velice yang kembali ke mode centilnya.
" ngomong- ngomong kamu, pria yang kemaren itu bukan??"
tanya velice seakan berpikir mengingat sesuatu. arche, nama prajurit yang ditanyai velice itu mengerutkan keningnya bingung.
" maaf?? Saya rasa sebelumnya kita belum pernah bertemu, nona"
ujar arche bingung. pasalnya, baru kali ini dirinya bertemu dokter cantik yang
tengah di rumorkan di perbatasan dua minggu terakhir ini. sudut bibir velice terangkat membentuk senyuman manis dan hal itu berhasil membuat arche tertegun. tidak bisa dipungkiri bagi arche, velice adalah gadis tercantik yang pernah dia temui selama ia di tugaskan di perbatasan.
" tidak tuan, kita memang benar-benar bertemu kemarin. dan sepertinya Anda melupakan saya, "
" Oh benarkah, boleh beritahu saya kita bertemu di mana sebelumnya?"
tanya arche sopan.
" kamu lupa?? bukankah kemaren kita bertemu dan duduk bersama di kursi pelaminan?"
pipi arche memerah seketika, dia bukan orang bodoh yang tidak bisa mengartikan ucapan velice. apa lagi kini rich, teman nya berteriak heboh mendengar godaan zhevelice. sial!!, arche benar benar salting sekarang.
velice terkekeh, gadis itu menyodorkan tangannya berniat kenalan.
"perkenalkan, saya zhevelice shereen de helbert. dokter yang di tugaskan kaisar untuk mengatasi wabah di sini. kalo anda??"
rey menurunkan tangannya mendengarkan velice yang mulai bersikap normal.
" saya arche zenca. panglima sembilan fraksi devisi tujuh"
tukasnya tegas layaknya seorang ksatria tangguh. bagaimana pun gadis di depannya adalah seorang bangsawan tingkat tinggi. jadi untuk dia yang hanya bangsawan rendah sekelas baron harus memberi hormat.
" arche zenca ya?? nama anda terdengar mirip dengan seseorang?"
tanya velice tanpa melepaskan kedua tangan yang bersalaman di antara mereka.
" mirip bagaimana nona??"
tanya arche bingung.
" mirip dengan nama ayah dari calon anak anakku nanti"
tukas velice dengan senyum manis nya yang terkembang. rey mendengus kesal. menyesal dia mengira velice kembali normal.
wajah arche itu memerah hingga menjalar ke kedua telinganya. jantung pria itu berdetak kencang. sebisa mungkin pria itu tak menatap velice yang tersenyum manis. di pikirannya sekarang tergambar dirinya dan gadis di depannya ini tengah berbahagia dengan anak anak kecil yang imut dan lucu. kemudian velice yang berjalan mendekatinya kemudian membelai dirinya lembut sembari memanggil ' sayang~~'.
cukup, arche segera menggelengkan kepalanya pelan, dia terlalu lancang memikirkan yang tidak tidak.
velice yang melihat dua orang di depannya ini salting hanya terkekeh. kemudian pandangan gadis itu melihat prajurit satunya lagi yang tengah tersenyum.
" oh iya, kamu" tunjuk velice kepada teman arche.
" iya nona"
"senyum kamu...." tukas velice dengan raut serius seolah menghadapi sesuatu yang besar.
"senyum saya kenapa nona?? " tanya nya bingung.
" senyum kamu ada kadar alkohol nya ya??"
" hah?!"
" iya, senyum kamu memabukkan"
blush...
lagi lagi wajah prajurit itu memerah. jantungnya berdegup kencang, pipinya memerah hingga menjalar ke kedua telinga, senyum malu malu pria itu terbit seketika, seolah dia pria yang pertama kali jatuh cinta. namun tiba tiba senyum prajurit itu pudar saat ia merasakan aura yang menakutkan.
sebenarnya dirinya sudah merasakan aura menakutkan itu sedari tadi. tapi kali ini aura itu semakin bertambah dan membuat tubuhnya terasa bergetar. bukan hanya kedua prajurit itu yang merasakan, tapi rey dan velice pun
juga.
mereka menatap arah pintu masuk tenda saat merasa aura itu berasal dari sana. kening velice mengernyit saat melihat robert dengan aura gelap dan wajah dingin tanpa emosi. namun tanpa di beri tahu pun, velice dan lainnya mengerti jika pria itu
tengah emosi. entah untuk masalah apa. dan lagi, sejak kapan pria itu disana??
" tuan ignasius, selamat siang.ada apa ya?? apa ada sesuatu yang di butuhkan hingga anda datang kemari??"
tanya velice sopan sembari melangkah mendekat. robert menatap velice dengan tatapan yang tidak bisa di artikan.
" tidak ada "
ujarnya singkat kemudian melangkah pergi begitu saja dengan aura yang semakin mencekam di setiap langkahnya.
velice menatap kepergian robert bingung. dirinya menggaruk pipinya yang tak gatal.
" dia kenapa sih??"
monolog velice tak mengerti. apa sebenarnya robert kesini untuk mencari elfriya ya??, tapikan ini tenda khusus untuk penelitian. dan jelas elfriya yang tidak ada kaitan apapun dengan penelitian dan pembuatan vaksin ini
tidak ada disini. terus si robert itu ngapain kesini??
entahlah, velice tak
mengerti. toh itu urusan si robert kan??
velice berbalik melangkah mendekati rey dan dua prajurit itu.
" ayo rey, kita selesaikan ini dengan cepat. dan jangan bermain terus"
" lah dari tadi siapa yang gak serius disini"
rey menatap velice malas yang di balas gadis itu dengan cengiran tak bersalah miliknya. terkadang rey itu terlalu gemas dengan velice hingga membuat pria itu ingin mencekik saat itu juga.
***
malam semakin larut dan velice tidak bisa tidur. Dan disinilah gadis itu kini berada. dia duduk di dekat api unggun di tengah tengah perkemahan seorang diri. lagi pula jam segini,semua orang sudah tidur. jadi tempat ini terlihat sepi tanpa siapapun.
velice menghembuskan nafasnya pelan, kepalanya mendongak, netranya menatap langit malam bertabur bintang yang sangat indah. senyum velice terbit, jika saja ia masih hidup di kehidupan pertamanya. velice tak akan mungkin sempat atau bahkan menemui langit berbintang seperti sekarang.
dulu, saat velice menjadi alexa di kehidupan pertama. dan saat itu, ia masih SMA. alexa pernah jatuh cinta dengan cowok cupu yang sangat dingin dan introvert. namanya galaksi, alexa si bad girl yang bodoh. dan galaksi si cupu misterius yang genius. alexa yang terus mengejar cinta dan perhatian galaksi. dan galaksi yang terus menolak keberadaan alexa. hingga, di akhir kelas XI. galaksi yang lelah, mau tak mau menerima cinta alexa atas paksaan gadis itu.
" setelah ini jangan pernah berharap untuk bisa keluar dari kehidupan seorang galaksi.
karena kamu sudah lancang memasukinya"
itulah yang dia ucapkan. tapi, semenjak hari itu. galaksi menghilang bak di telan bumi hingga di detik ini.
apa velice sebagai alexa pernah menyesal mencintai pria itu. tidak, bahkan hingga di detik ini. dia masih merindukan galaksi, meskipun sikap pria itu selalu dingin dan acuh padanya. yah, sebodoh itu lah seorang alexa dalam mencintai.
" belum tidur??"
suara bass nan dingin itu berhasil membuat tubuh velice menegang.
velice menatap robert yang berdiri di belakangnya. kening gadis itu mengernyit, orang itu ngapain kesini??
" tuan ignasius, anda belum tidur juga??"
robert terkekeh. kaki pria itu melangkah mendekati velice. kemudian berdiri di samping gadis itu.
" saya tidak bisa tidur malam ini. sepertinya kamu juga begitu?"
velice tersenyum sopan. dirinya mengangguk membenarkan pertanyaan robert. malam ini velice dalam mode normal. tidak begitu juga sih, memang dari awal setiap kali velice bertemu dengan para tokoh, mau seganteng apapun dia, velice akan bersikap sopan. tak ada lagi velice yang suka menggombal. dirinya masih tetap dalam misi menjauhi para tokoh.
" apa kamu tidak mengingat ku elice??"
velice mengerutkan keningnya bingung. ia menatap robert yang menatapnya sendu. wait!! dia kenapa??
" begitu ya..."
robert memejamkan matanya, raut pria itu menyendu, netranya menatap terluka dan kecewa terhadap velice.
" padahal, saat pertama kita bertemu hari itu. dalam sekali lihat pun aku
langsung mengenalimu elice. tapi ternyata, aku tak sepenting itu ya.."
tukasnya sendu. robert terkekeh miris.
"sebentar tuan ignasius--"
"bahkan kamu melupakan panggilan 'itu' padaku."
" bukan begitu, beberapa waktu yang lalu saya sempat mengalami kecelakaan kecil yang membuat ingatan saya sedikit kacau."
jelas velice memberi pengertian. ia tidak berbohong untuk ini. memang pemilik tubuh yang dia tempati hanya memberikan beberapa potong ingatannya. dan itupun tidak semua.
makanya velice bingung ini kenapa si robert itu jadi aneh begini??.
robert menatap velice terkejut. ia segera meraih pundak velice kemudian memindai seluruh tubuh gadis itu dengan sorot terkejut bercampur khawatir.
" kamu tidak papa kan?? apa ada yang terluka?? katakan padaku! apa kita perlu
memeriksa tubuh mu sekarang. apa kau masih kesakitan?!"
velice terkekeh kaku. ia merasa aneh dengan segala kekhawatiran robert saat ini. tunggu, diakan tokoh yang licik. si robert itu tidak berniat menjadikannya pion agar elfriya menjadi miliknya kan??.
" tuan ignasius, tenanglah... saya tidak papa. lagi pula kejadian itu sudah lewat 2 tahun yang lalu"
robert menghembuskan nafasnya lega. jujur mengetahui gadis di depannya ini terluka benar benar membuatnya khawatir.
" emm.... melihat respond anda sepertinya kita dulu pernah dekat. bagaimana jika anda menceritakan tentang kita?? mungkin itu bisa membantu ingatan saya
kembali.."
robert tersenyum tipis. ia menatap hamparan langit berbintang di atasnya dengan sorot sendu. ingatannya memutar kejadian belasan tahun silam.
velice menatap curiga robert. pria ini, untuk ukuran berpura pura, aktingnya terlampau natural.
" aku masih ingat jelas hari itu, saat itu aku...."
flashback
hujan semakin deras saat menguyur bumi pemakaman keluarga ignasius. satu persatu orang yang menghadiri pemakaman disana mulai melangkah pergi. meninggalkan seorang anak laki laki yang menatap kosong gundukan tanah. hujan deras bertabur udara dingin tak membuat bocah itu melangkahkan kakinya pergi, tak perduli meskipun
tubuh yang terbalut pakaian hitamnya basah kuyup.
bocah itu robert, anak kecil yang berusia 8 tahun yang harus di paksa dewasa oleh keadaan. hari ini, hari pemakaman ibunya. seumur hidup robert tidak pernah menyangka hari ini akan datang. perempuan terhebatnya, cinta pertamanya meninggalkan dirinya di dunia yang kejam seorang diri. hati bocah itu hancur, perasaan sesak menggerogotinya. robert benar benar hancur sekarang.
" ...hiks..ibu.."
dia menangis. tubuhnya terjatuh, tangannya meremas tanah makam ibunya dengan erat. suara
raungan tangisan nya tersamarkan dengan derasnya hujan, seolah alam pun ikut bersedih dengan apa yang menimpa bocah itu.
" kenapa?? kenapa ibu tega meninggalkan ku?? ibu sudah berjanji akan terus bersama ku, tapi kenapa?. kenapa ibu pergi?! kenapa!!!"
teriaknya frustasi. robert sendirian, selama ini hanya ibunya lah yang benar benar perduli padanya. sedangkan ayahnya??, laki laki brengsek itu hanya perduli dengan selir yang telah membunuh ibunya.
" hiks.. dunia ini terlalu kejam. aku tidak memiliki siapapun di sisi ku... hanya ibu
satu satunya... hanya ibu.."
ujarnya lemah. ia menangis, menumpahkan keluh kesahnya dan hatinya yang terluka.
tangisan robert terhenti, ia tak lagi merasakan tetesan air hujan yang mengenai tubuhnya. kepalanya mendongak, ia menatap gadis kecil berusia 5 tahun yang tengah memayungi dirinya. robert terkekeh, gadis itu bodoh atau bagaimana?? dia
memayungi orang lain tapi dirinya sendiri kehujanan.
tubuh robert terpaku menatap senyum manis gadis kecil yang memayunginya. senyum yang begitu tulus dan mempesona.ini pertama kalinya seseorang menunjukkan raut seperti itu padanya, dan entah kenapa dada robert menghangat.
" kata ibu, tidak baik tellalu lama kehujanan. nanti bica cakit" ujar gadis itu dengan logat cadelnya yang terdengar imut.
" ini, velice kacih payung velice buat kakak bial kakak gak kehujanan"
robert bangkit berdiri. ia menatap gadis kecil yang tingginya hanya sebatas dadanya ini datar. bahkan dia tak segera mengambil payung yang di sodorkan bocah itu.
" kau juga kehujanan kalo memberikannya pada ku"
velice kecil menggeleng. ia meletakkan payung itu agar di genggam robert dengan paksa. gadis itu tersenyum manis yang lagi lagi membuat robert terpaku.
" tidak macalah, velice tidak akan kehujanan dengan begini"
tukasnya ceria dengan meletakkan kedua tangannya di atas kepala untuk menghalau tetesan hujan agar tidak mengenai nya. namun itu percuma, tangan mungil itu jelas tidak akan mampu menghalau tetesan air hujan yang mengenai tubuh gadis itu.
" baiklah, velice pelgi dulu yaa.. bye bye"
tukasnya ceria sembari berlari pergi dengan tangan yang melambai ke arah robert.
robert terpaku, ia terus menatap kepergian velice dengan sorot mata yang tak bisa di jelaskan. robert memegang dadanya yang berdetak kencang dan perasaan hangat
yang menyelimutinya. tak lama kemudian senyum bocah itu terbit.
'velice ya...'