Back To Earth

Back To Earth
Ep 2



“Disaat seperti inilah aku menjadi sangat berguna Reen, lebih baik kamu mulai dengan bertemu dengan pemilik lama perusahaan mu, dia baru saja menghubungiku untuk membuat janji dengan mu.”


“Baiklah, seperti nya bukan ide yang buruk. Aku masih memerlukan setidak nya beberapa manusia sungguhan untuk mengatur perusahaan ku.”


“Baiklah kalau begitu, kita langsung berangkat. Beliau sudah menentukan tempatnya.”


Setelah beberapa jam akhirnya aku sampai di tempat yang sudah di janjikan, Jarvis sudah mengubah dirinya dalam bentuk manusia agar lebih memudahkanku untuk bertemu dengan orang itu. Jarvis menunjukan bahwa lelaki yang sedang duduk di pojok itu adalah pemilik lama perusahaan itu, yah masih sangat muda, mungkin usia nya sekitar 25 tahun.


“Selamat siang Mr. Abraham?”


“Ya selamat siang Mr. Jarvis, panggil saja saya Anggara, itu akan lebih nyaman. Saya senang anda dapat meluangkan waktu anda untuk saya.”


“Tidak masalah, baiklah saya perkenalkan ini adalah Andriana Maureen, dan Reen ini adalah tuan Anggara Putra Abraham, CEO dari Abraham Group sekaligus pemilik lama dari AP Corp.”


“Senang berkenalan dengan Anda Tuan.”


“Senang juga berkenalan dengan nona ini. Beruntung nya Mr. Jarvis mendapatnya sekretaris secantik Nona Maureen ini.”


Aku hampir tertawa mendengar pria itu mengatakan hal itu, bagaimana bisa aku menjadi sekretaris dari program yang ku buat sendiri.


“Wah penglihatan anda benar benar mengagumkan tuan.”


“Haha, terimakasih nona. Baiklah saya akan kembali ke tujuan awal, sebenarnya tujuan saya adalah menemui owner yang baru tapi tampak nya beliau benar benar sibuk dan…”


“Oh maaf tuan Anggara, sepertinya anda salah paham. Pemilik baru nya sudah berada disini dari tadi.”


Anggara melihat dengan tatapan tak percaya dan melihat ke sekeliling nya.


“Mr. Jarvis, jangan bercanda. Bagaimana mungkin sudah berada disini. Yang ada disini hanya….”


Kata katanya terhenti sambil melihat ku dengan tatapan tak percaya.


“Ya Mr. Anggara. Sekali lagi perkenalkan. Saya Andriana Maureen, pemilik baru dari AP Corp. Dan ini adalah Jarvis, orang kepercayaan sekaligus teman saya.”


Anggara benar benar tak bisa menyembunyikan wajah terkejutnya. Ya itu wajar saja, bagaimana bisa gadia berusia 17 tahun bisa mengambil alih sebuah perusahaan yang walaupun akan bangkrut setidaknya itu lumayan bernilai.


“Sudah terkejutnya, kita lanjutkan dengan hal hal yang akan kita bahas.”


“Oh maafkan saya nona. Saya tidak menyangka ternyata anda adalah pemilik yang baru. Saya…”


“Mr. Anggara, jangan terlalu formal, panggil saya Anna itu akan lebih nyaman untuk obralan kita kedepannya.”


“Baiklah, kalau begitu cukup panggil saya Anggara. Kembali ke permasalahan inti nya. Saya benar benar minta maaf karena semua pegawai yang bekerja di AP Corp sebelumnya mengundurkan diri, saya tau kamu mungkin akan kesulitan mencari pekerja yang bisa menyelesaikan pekerjaan pekerjaan yang tertinggal. Perusahaan itu benar benar sudah diambang batasnya.”


“Tenang saja, itu sekarang menjadi urusan saya. Saya akan tetap mempekerjakan siapa yang ingin bekerja, dan saya tidak akan menahan siapa yang ingin pergi.”


“Bagaimana bisa kalian menyelesaikan pekerjaan yang tersisa tanpa ada nya pekerja. Dan setau saya kalian bukan dari keluarga yang….”


Hei apa maksud perkataan orang ini, bagaimana bisa dia tau kami bukan dari keluarga berada.


“Mohon maaf tuan, sepertinya anda sudah mencari tau tentang kami sebelum pertemuan ini. Dan anda hanya berpura pura tidak mengenali saya.”


“Hah…. Lelah sekali berpura pura, asal kamu tau nona. Awalnya saya tidak percaya rumor yang beredar, bagaimana bisa perusahaan itu di beli oleh orang yang tidak jelas asal usulnya. Saya juga minta maaf karena saya yang menarik semua pekerja yang bekerja di perusahaan itu. Saya akan lebih berterus terang, perusahaan itu sudah lama memiliki citra yang buruk sejak saya tidak pernah memperhatikannya. Saya juga sempat terkejut saat mengetahui bahwa perusahaan itu sudah di ambang batasnya, makanya saya memilih untuk menjualnya daripada mempertahankan nya. Terlalu banyak petinggi yang korupsi di perusahaan itu nona.”


“Tuan, sudah saya katakan itu akan menjadi urusan saya karena saya pemiliknya sekarang. Dan anda tidak perlu merasa bersalah, saya masih memiliki pekerja yang mau bekerja dengan saya. Saya rasa ini hanya membuang buang waktu saja, jika anda sudah selesai maka saya akan permisi.”


Aku benar benar meninggalkan lelaki itu, bagaimana bisa aku menemui lelaki arogan seperti dia, benar benar membuatku kesal.


“Jarvis, bagaimana bisa kau membuat janji dengan seseorang seperti itu, aku benar benar kesal sekarang. Apa yang harus ku lakukan untuk menghilangkan kekesalan ku?”


“Tenang lah Reen, aku juga sebenarnya bingung. Dari informasi yang ku dapatkan, CEO dari Abraham Group bukanlah orang yang sembarangan seperti lelaki tadi.”


“Lalu mengapa yang ada hanya lelaki aneh itu?”


“Tenang saja Reen, aku akan mencari informasi lebih lanjut mengenai orang itu.”


“Terserah kau saja.”


Setelah itu aku memutuskan untuk pergi mengunjungi sebuah toko buku, seingatku disana ada seseorang yang akan memudahkan jalan ku kedepan nya. Ya seseorang yang memiliki kekuasaan yang tak pernah terfikirkan oleh orang lain.


“Selamat datang, adakah yang bisa saya bantu?”


“Saya ingin melihat lihat sebentar.”


“Baiklah nona, jika membutuhkan bantuan silahkan panggil saya.”


“Baiklah. Oh! Mungkin saya membutuhkan ruangan untuk saya membaca.”


“Baiklah silahkan ikuti saya.”


Setelah mengikuti gadis kecil itu, dia mengarahkan ku melihat sebuah ruangan yang tersedia disana.


“Jika sudah selesai memilih buku yang akan anda baca, silahkan ke ruangan di sebelah sana. Itu adalah ruangan baca nona. Disana juga banyak buku buku yang bisa nona baca.”


“Baiklah terimakasih….”


“Lila, nama saya Lila.”


“Baiklah Lila, terimakasih.”


“Sama sama nona.”


Aku berkeliling cukup lama untuk mendapatkan buku buku yang ku inginkan, setelah mendapatkan nya, aku pun membawa setumpuk buku ke ruangan yang sudah di tunjukan oleh Lila. Di ruangan ini tak banyak orang yang menggunakan nya, dan disini benar benar tenang. Aku sangat nyaman berada disini.


Aku menghabiskan tumpukan buku yang ku bawa dalam sekejab, aku bisa mengingat semua yang ku baca dalam sekejab. Ini adalah salah satu keuntungan yang ku bawa dari ACEN. Aku benar benar menyukai hal ini, tidak membutuhkan waktu lama untuk membaca seluruh buku ini, lalu aku mulai mengambil buku yang berisi soal soal yang bisa ku coba untuk berlatih, dan Tadaaa!!! Dengan mudah aku bisa menyelasaikan soal soal tersebut.


Aku sadar seseorang sedang memperhatikan ku dari jauh, hanya saja aku berpura pura tak menyadari hal tersebut. Aku melanjutkan untuk membayar semua buku yang sudah ku ambil tadi lalu beralih pada buku materi perkuliahan. Aku menghabiskan banyak waktu didalam sana tanpa menghiraukan seseorang yang memperhatikan ku tersebut.


Ketika waktu sudah menunjukkan pukul 5 sore aku bergegas membereskan semua buku buku itu yang membayarnya. Aku juga meminta Lila untuk mengirimkan semua buku buku itu ke kantor ku agar lebih mudah mengirimnya. Jarvis mengingatkan ku untuk tetap waspada karena seseorang yang memperhatikan ku sejak tadi mulai mengikuti ku hingga aku keluar dari toko buku tersebut.


Aku sengaja memilih jalan yang agak sepi untuk mengecohnya, tapi benar saja dia tetap bisa mengikuti ku, ketika sampai di sebuah halaman yang cukup sepi karena hari sudah sore aku menghentikan langkah ku.


“Keluarlah, sekarang tidak ada orang selain kita disini.”


Masih hening, tak ada jawaban.


“Aku tau kau sudah memperhatikanku sejak di toko buku itu dan mulai mengikutiku sejak aku keluar dari sana.”


Akhirnya aku melihat seorang pria paruh baya keluar dari balik rumah yang berada tak jauh dari halaman itu.


“Ternyata aku meremehkan mu nona, aku tak menyangka kau akan menyadari kehadiranku. Tak salah jika aku memperhatikan mu sedari tadi.”


“Apa mau mu?”


“Tidak banyak, tapi sebelum itu aku ingin mengetahui siapa dirimu sebenarnya.”


“Bukankah seharusnya kau memperkenalkan dirimu terlebih dahulu sebelum menanyakan identitas seseorang TUAN?!!”


“Gadis itu benar Hilman, seharusnya kau memperkenalkan dirimu terlebih dahulu. Maafkan sikap tak sopan kami nona. Saya adalah Aldino Maheswara Erland, dan ini adalah asisten saya Hilman.”


Aku benar benar terkejut, aku benar benar tak menyangka orang yang aku cari akan muncul di depan ku saat ini.


“Hah?!! Baiklah lebih baik kita mencari tempat yang lebih nyaman untuk mengobrol.”


“Bisakah kau lebih sopan nona?”


Hilman tampak tak terima dengan nada ku berbicara.


“Bisakah kau untuk tak ikut campur Tuan?!!”


Hilman tampak ingin membalas perkataan ku tapi terhenti oleh pak tua itu.


“Hentikan sampai disitu Hilman, dan nona lebih baik kita ke toko didepan sana. Itu adalah toko teman saya, dan disana kita bisa mengobrol dengan lebih nyaman.”


Pria tua itu adalah Aldino Maheswara Erland atau yang ku kenal sebagai Artius. Artius adalah seseorang yang ku kenal di ACEN. Artius adalah pelayanku yang sangat setia saat di ACEN, dia juga mengetahui bahwa aku ingin kembali ke tempat asal ku, maka dia lebih dulu turun untuk mempersiapkan segala sesuatu nya. Tapi yang tak ku sangka sangka dia malah memilih menjadi lelaki tua yang membosankan.


“Kau benar benar membuatku terkejut Artius. Bagaimana bisa kau memilih menjadi lelaki tua?”


“Hei nona!!”


“Hilman, ku harap ini peringatan terakhir. Benarkah kau sudah melupakanku?”


Hilman juga berasal dari ACEN, Hilman adalah adik dari Artius. Yah walaupun bukan adik kandung, Hilman pernah di selamatkan oleh Artius saat dirinya dalam bahaya dan semenjak itu mengikuti Artius kemana pun dia pergi. Hilman tampak kebingungan dan tak menjawab.


“Hilman, nona ini adalah orang yang kita layani selama di ACEN, apakah kau sudah melupannya?”


“Sudahlah Hilman. Aku tak terlalu memikirkan nya.”


“Maafkan saya nona, saya benar benar tak mengenali anda. Saya…”


“Sudahlah, aku kesini bukan untuk mendengar permintaan maafku Hilman. Ada hal yang lebih penting yang harus aku lakukan saat ini.”


“Baiklah nona, katakan saja saya siap untuk melaksanakan semua yang nona perintahkan.”


“Yang pertama aku membutuhkan lebih banyak informasi tentang keadaan saat ini, lalu bagaimana situasi keluargaku? Dan juga aku ingin mencari orang tua kandung ku Artius. Bisakah kalian membantu ku?”


“Siap laksanakan nona. Kami akan mencari semua hal yang anda butuhkan saat ini nona.”


“Baiklah, carikan aku sebuah penginapan karena aku tak ingin pulang malam ini. Lalu carikan aku sebuah rumah besok pagi, aku ingin segera meninggalkan rumah dan keluarga itu.”


“Bolehkan saya tau alasan nya nona?”


“Hah…!!!!”


Aku benar benar menghela nafas panjang. Sampai akhirnya aku menceritakan semua yang ku alami saat baru saja tina disini. Wajah terkejut kedua orangtua ku saat aku berada dirumah, dan lucu nya semalam ini aku mempercayai bahwa papa sudah mengorbankan segala nya untuk keluarga kecil ini. Padahal kenyataan nya aku dan Leo bukanlah anak anak mereka, mereka adalah orang orang dengan gangguan mental, mereka menculik kami dari keluarga kami agar bisa mendapatkan imbalan yang mereka inginkan, mereka sering menculik anak anak dan menjual mereka di pasar gelap.


Aku mendengar semua nya dari pikiran mereka, mereka sangat kaget saat mengetahui bahwa aku berhasil pulang, ternyata mereka menjualku saat itu pada seorang keluarga untuk menggantikan anak nya yang sudah meninggal. Dulu aku mati tapi sekarang aku hidup dan benar benar akan membalas semuanya.


“Bagaimana bisa mereka melakukan hal seperti ini terhadap nona.”


“Biarkan saja, mereka akan menerima ganjaran nya secepatnya Hilman. Lalu Artius, karena sekarang aku sudah berada disini kau bisa kembali ke wujud asalmu.”


“Baiklah nona, tapi saya harus menyelesaikan beberapa urusan terlebih dahulu dengan wujud ini. Setelah selesai maka saya akan kembali. Begitu pula dengan Hilman.”


“Ya terserah kalian saja kalau begitu. Dan sekarang antarkan aku ke sebuah hotel lalu kalian pergilah belu beberapa pakaian untukku karena aku mungkin akan menetap di hotel itu untuk beberapa waktu.”


“Lalu bagaimana dengan sekolah anda nona? Karena seingat saya, nona ini sedang bersekolah.”


“Tenang saja, Jarvis akan mencari cara agar aku tak perlu kesekolah untuk menyelesaikan sekolah ku.”


“Baiklah kalau seperti itu nona.”


—————————————————


Sudah sebulan lebih aku tinggal di hotel ini, aku selalu menikmati pemadangan kota ini di pagi hari karena aku selalu terbangun saat subuh datang. Dan biasanya saat pagi Hilman ataupun Artius datang untuk melaporkan segala sesuatu nya. Sejak ada mereka, Jarvis pun hanya mengerjakan pekerjaan pekerjaan di belakang layar untuk membantu mereka.


Pagi ini yang datang adalah Artius, dia sudah kembali ke wujud nya yang semula. Artius adalah sosok lelaki tampan yang mampu menghipnotis wanita dengan penampilan nya, sejak dia berubah ke wujud aslinya tampaknya dia lebih senang. Urusan mereka sudah selesai, Artius membuat berita bahwa Aldino Maheswara Erland meninggal dunia bersama dengan asisten pribadinya dalam kecelakaan lalu lintas, lalu mewariskan semua harta kekayaan nya kepada Maureen kepada Andriana Maureen karena tak memiliki keluarga selain Anna yang pernah menyelamatkan hidupnya dulu.


Tentu saja itu adalah cerita karangan yang di ciptakan oleh Artius dan Hilman. Berita itu benar benar membuat kehebohan. Tentu saja berita itu sampai ke telinga keluarga ku, mereka terus mencoba menghubungiku untuk menanyakan kebenaran nya. Jika mereka mengetahui itu, mereka benar benar tak akan melepaskanku.


“Permisi nona, ada beberapa hal yang perlu saya laporkan.”


“Apa itu Artius?”


“Pertama, kedua orang tua anda terus mendesak untuk menemui anda. Lalu mereka juga membuat beberapa keributan agar bisa menemui anda.”


“Katakan saja pada mereka, jika mereka melepaskan Leo aku akan memberikan uang yang mereka minta.”


“Baik nona. Lalu ada beberapa perusahaan yang sudah berhasil di akuisisi. Salah satunya adalah Imperial Group.”


“What?!!”


“Itu benar nona, Imperial sudah berada di tangan kita sekarang, hanya saja mungkin ada beberapa orang yang tidak setuju dengan pengangkatan anda untuk menjadi CEO.”


“Kata siapa aku mau jadi CEO, aku tak pernah meminta untuk menjadi CEO. Kalian saja yang urus, aku hanya akan membantu dari belakang.”


“Baiklah seperti permintaan nona.”


Artius langsung pergi begitu menyelesaikan urusan nya. Mungkin aku akan bersantai hari ini, lebih baik aku ke restoran untuk mengisi perutku yang sudah memberontak karena merasa lapar. Sebenarnya aku benar benar bosan dengan makanan yang ada di hotel, pilihan nya hanya jatuh pada segelas kopi dan roti untuk menemani pagi ku. Kemudian seseorang menghampiriku.


“Selamat pagi nona, apakah saya mengganggu aktifitas nona?”


“Pagi, tidak juga.”


“Bolehkah saya bergabung?”


“Silahkan, lagi pula tidak ada tanda larangan disini.”


“Terimakasih kalau begitu. Sepertinya saya sering melihat nona di sini.”


Aku tau kata kata itu hanyalah basa basi.


“Ya aku sudah sebulan menginap di hotel ini.”


“Bagaimana bisa? Apakah nona berencana menetap?”


“Enggak juga, hanya saja belum menemukan tempat tinggal yang cocok. Dan aku akui ini adalah satu satunya hotel terbaik disini.”


“Tentu saja, pemiliknya sangat menyayangi hotel ini.”


“Kamu berbicara sudah seperti pemilik hotel ini saja.”


“Aku memang pemilik dari hotel ini nona.”


Aku menatap dengan tatapan tak percaya, karena ini adalah hotel milik keluarga Ramona.


“Kau tak mempercayaiku nona? Aku adalah Alexandre de Glye Ramona. Putra tunggal Ramona Corp.”


“Benarkah? Wah hebat sekali.”


“Hei, mengapa perkataan mu seperti tak percaya dan menyindirku nona?”


“Mungkin hanya perasaan TUAN Ramona saya.”


“Tampak nya kau benar benar tak mempercayaiku nona. Ini adalah IC ku, bagaimana? Apakah kau masih tak percaya?”


“Baiklah aku percaya.”


“Nah begitu dong, tapi tunggu rasanya ada yang salah.”


“What?”


“Mengapa kau tampak biasa saja setelah kau mengetahui siapa aku?”


“Lalu aku harus bagaimana? Apakah aku harus berteriak kegirangan? Atau aku harus lompat lompat karena bertemu dengan mu?”


“No, no, no. Aku hanya terkejut melihat reaksimu ynag berbeda dari gadis lain.”


“Karena aku bukan gadis lain.”


“Baiklah baiklah, siapa nama mu nona? Tidak mungkin aku memanggilmu dengan sebutan nona terus, rasanya kurang nyaman.”


“Andriana Maureen De Ville.”


Alex tampak terkejut saat mendengar namaku, ya aku adalah bagian dari keluarga De Ville. Seminggu yang lalu Artius menemukan orang tua kandung ku, mereka sangat senang karena bisa bertemu denganku. Hanya saja aku tak ingin menceritakan bagian itu, kalian akan benar benar menertawakanku jika kalian mengetahuinya.


“Pantas saja aku seperti melihat Tuan dan Nyonya De Ville beberapa hari yang lalu.”


“Kau mengenal orangtua ku?”


“Tidak terlalu, hanya saja pernah beberapa kali bertemu. Orangtua ku pernah beberapa kali bekerja sama dengan keluargamu.”


“Oh.”


“Hei itu benar benar datar, kau tak sedang meremehkan aku kan?”


“Kenapa pikiran mu selalu negatif Alex?”


“Yah, hanya karena sudah terbiasa.”


“Baiklah simpan cerita sedih mu untuk lain kali, aku benar benar sedang mencoba menikmati sarapan pagiku.”


“Kau benar benar dingin nona. Tak memiliki simpati sedikitpun.”


“Yah, aku tau itu. Kau orang ke sekian yang menyebut aku seperi itu.”


------------------------------------------