Another Creature

Another Creature
Episode 3 #wanita minta tolong



"Tak-tak-tak-tak" suara langkah kaki yang tergesa-gesa.


"Huu-uuhh Huu-uh aku harus cepat pulang kerumah sebelum bibi memarahiku saat aku sampai nanti"


Aku berlari secepat-cepatnya agar tidak terlambat pulang.


saat sampai kedaerah perbukitan, akupun sedikit melambatkan langkah kakiku.


Tiba-tiba dari kejauhan terlihat sebuah cahaya biru kecil di depan halte bis no. 10 yang tadi pagi ku lewati.


Entah mengapa saat aku ingin melewati halte itu, cahaya tersebut semakin lama semakin banyak menghalangi ku untuk melewatinya. Aku semakin kebingungan saat cahaya tersebut berbaris seperti ingin menunjukkan sesuatu kepadaku.


Saat aku ingin kabur dari mereka, kakiku tidak bisa digerakkan seperti ada tangan yang menarikku kebawah.


Aku berusaha melepaskan kakiku dari tangan tak kasat mata itu. Hingga pada akhirnya aku terjatuh ke bawah dan benar saja ada sepasang tangan yang menarikku ke bawah sehingga kakiku tidak bisa digerakkan.


Tak punya pilihan lain aku pun memohon dalam hati agar aku dilepaskan.


"TOLONG!!! siapapun tolong aku hiks.... hiks... ".


Sontak aku langsung kaget dengan suara teriakan dan tangisan yang terdengar seperti suara seorang wanita.


Suara yang agak samar-samar tapi sangat jelas ku dengar dari dalam hutan di belakang halte bis tersebut. Yang lebih membuatku tercengang adalah cahaya biru tersebut seperti mengarahkanku pada sumber suara itu. Feelingku mengatakan jika aku harus mengikuti cahaya itu tanpa kusadari, ternyata sepasang tangan yang menarikku sudah menghilang.


Setengah jam aku menyusuri hutan.


Semakin lamaku berjalan suasana hening, sepi dan cahaya matahari yang terlihat tidak bisa menembus pepohonan yang menjulang tinggi. Dan semakinku kedalam hutan semakin jelas suara teriakan tersebut.


Hingga pada akhirnya terlihat sebuah mobil yang menabrak pohon dengan kondisi yang cukup parah. Cahaya biru yang mengarahkanku sudah menghilang entah kemana.


Kulihat tak jauh dari mobil tersebut, terlihat seorang wanita yang menangis tersedu-sedu di bawah pohon. Saat aku menghampirinya, tiba-tiba wanita itu mengeluarkan sebilah pisau dan mengacungkannya kepadaku. Sontak aku terkejut dan agak sedikit menjauh darinya.


"Jangan mendekat!!! jika tidak aku akan membunuhmu! "


gertak si wanita


"Te-tenanglah, aku ini hanya orang yang mendengar tangisanmu saja"


"Bohong! kau itu bukanlah manusia !! mana mungkin manusia bisa sampai di tempat mengerikan seperti ini"


gertak si wanita sekali lagi dan melemparkan pisau itu kepadaku.


Untungnya pisau itu tidak mengenaiku dan malah tertancap di sebuah pohon. Aku mengambilnya dan...


"jika kau tidak percaya kepadaku, maka aku akan memperlihatkanya kepadamu " sambil melukai diriku sendiri.


"Tes...tes...tes... "


suara tetesan darah yang mengalir dari tanganku.


"haisshhh menurutmu aku ini apa? aku ini dari dulu memang manusia. Jika aku ini hantu, kenapa aku tidak melayang di udara? dan kenapa aku bisa melukai tanganku sendiri? huuuh"


"maaf aku sungguh minta maaf karna kejadian tadi.


Jika kau memang manusia, tolonglah anakku... hiks.... hiks" jatuh dan kemudian memohon memegang erat kakiku.


"eeeeee... anu itu aku bisa membantumu setelah... (tunggu dulu, aku harus memanggilnya apa? sebelumnya aku memanggilnya dengan sebutan kau, itu sangat memalukan. Jika aku memanggilnya ibu... tidak tidak dia terlalu muda untuk panggilan itu. Eh ah iya benar juga panggil saja kakak (bicara dlm hati)) kakak iya kakak melepaskan kakiku"


" eh maaf-maaf aku tidak sengaja melakukan hal yang memalukan seperti itu didepanmu" membungkukkan badan.


"hehehe(sepertinya si kakak tidak keberatan dengan panggilannya (bicara dalam hati)) i-iya kakak tidak perlu sesopan itu terhadapku.


Eh iya tadi kakak bilang kalau anak kakak berada dalam mobil itu?"


"iya, anakku memang di dalam sana"


"tapi kenapa cuma anak kakak yang berada di dalam sana? sedangkan kakak berada disini dan malahan menangis mengharapkan orang datang menolong kakak? "


"sebenarnya ceritanya di mulai dari saat kami berdua kembali dari karnaval di seberang kota. Saat itu kami pulang persis menjelang tengah malam. Karna tak punya pilihan lain selain jalan perbukitan ini untuk jalan pintas tercepat tanpa menyadari saat memasuki jalan perbukitan, aku melihat seorang kakek tua yang memperingatiku untuk segera putar balik dan mencari jalan pintas lainnya.


Aku menolaknya dan terus melajukan kendaraanku, kemudian aku mulai mengerti perkataan kakek itu setelah kami berdua melewati banyak sekali kejadian-kejadian aneh.


Aku berfikir untuk memutar balikan mobilku tapi sudah terlambat. Kami berdua sudah sangat jauh dari perumahan warga dan dari jalan tempat bertemu kakek itu. Dan pada akhirnya jalan yang ku tempuh berakhir dengan jalan tanah berbatu. Aku tak habis pikir saat melewati jalan itu.


Tiba-tiba, mobil ku hilang kendali seperti ada yang menggerakkannya selain diriku. Setir yang ku pegang berputar 360 derajat searah jarum jam dan kemudian mobilku berbelok masuk ke arah hutan yang lebat dengan kecepatan yang tinggi dan akhirnya menabrak pohon yang lumayan besar di dalam hutan. Aku terpental keluar dari mobil, anakku yang sedang tertidur di dalam mobil menangis dan memanggil namaku. Aku berusaha untuk mengeluarkan anakku tapi usahaku sia-sia. Setiap kali aku ingin mendekati mobilku, selalu muncul sesosok aneh yang menghalangiku untuk mengeluarkan anakku di dalam mobil. Hingga saat ini, semakin lama tangisan anakku semakin tak terdengar sama sekali membuatku khawatir dengan keadaannya. Jika terjadi sesuatu dengan anakku, aku tidak akan memaafkan diriku sendiri hiks hiks... "


"jangan begitu kakak,aku yakin anak kakak akan baik-baik saja selama kakak masih meyakininya. Hmmm... karnaval? bukankah itu karnaval yang berlangsung seminggu yang lalu? eh jadi kakak terperangkap disini selama tujuh hari yang lalu?"


"iya, mau bagaimana lagi? setiap kali aku ingin mendekati mobilku, selalu ada bayangan hitam yang menghalangiku dan melempariku bebatuan yang ada di sekitarnya".


"Tunggu dulu! apa bayangan hitam itu memakai kapak di tangannya? "


"iya kurasa dia memakai sebuah kapak di tangannya"


"sudah ku duga, itu adalah bayangan hitam yang kulihat beberapa hari yang lalu saat aku melewati halte bis itu (bicara dalam hati).


"kalau begitu kakak sebaiknya pulang ke kerabat atau teman terdekat kakak dari sini"


"Tidak!!! aku tidak akan meninggalkan anakku sendiri di tempat angker ini".


"Begini, jika kakak masih disini tidak makan ataupun minum sedikitpun, apa kakak tidak khawatir dengan kondisi kakak yang sekarang? bahkan seluruh badan kakak di penuhi dengan luka-luka yang sudah berbekas. Jika kakak tidak mengkhawatirkan kondisi kakak sendiri, bagaimana kakak bisa menyelamatkan anak kakak dengan kondisi yang seperti ini? "


"Tidak tidak aku harus menyelamatkan anakku hiks... hiks... nina..... ibu sangat minta maaf.... hiks hiks... " jatuh di tanah.


"kak, kakak.... aku harus bagaimana ini? apa ku bawa istirahat di halte bis itu saja ya? ah masa bodo, aku harus mengobati luka-luka kakak dulu. Hari semakin sore, aku harus segera membawa kakak ke tempat aman terlebih dahulu".