
Jam istirahat telah usai, Julius kembali ke ruangan kelas dengan mengumpulkan semua keberanian yang dia miliki. Dengan berusaha tetap tenang, Julius melangkah dan mencoba menghiraukan semua tatapan mata dari wanita wanita yang berkerumun di depan kelasnya tersebut. "Ehem... permisi, saya ingin lewat." Suara yang serak dengan mencoba tetap tenang.
Julius kembali ke dalam ruangan kelas dengan perut yang kosong, selama jam pelajaran tak terpikirkan olehnya untuk makan, Julius sibuk dengan apa yang terjadi. Dengan pengalaman hidup dan sudut pandang berpikir yang sudah matang, tak butuh lama untuk Julius dapat memahami dan beradaptasi dengan penampilan barunya. Dia memiliki wajah yang sangat cool, dengan alis yang membentang membuat tatapan matanya menusuk ke hati, postur tubuh yang sangat ideal layaknya seorang model.
Siang itu menjadi mata pelajaran yang cukup berat, dengan perut keroncongan membuat Julius sukar untuk tetap fokus.
"Hei bangun..!" Sebuah suara membangunkan Julius dari tidurnya, dia tidak sadar bahwasanya dia ketiduran di saat mata pelajaran sedang berlangsung, dan itu adalah mata pelajaran matematika yang terkenal membosankan, apalagi di sekolah itu guru yang paling killer adalah guru matematika tersebut yang ada di hadapannya saat ini.
"Apa kamu anak baru hah?" tanya Ibu guru tersebut dengan nada yang setengah membentak. "Jawab!!!" tanyanya kembali dengan nada sedikit naik. "Maaf Bu, saya bukan anak baru." Jawab Julius dengan menundukkan kepalanya merasa bersalah. "Hemm.. Cukup berani juga kamu yah, sangat berani..! berapa nomor absen mu?" tanya Ibu guru tersebut dengan gondok. "Oh jadi kamu yang namanya Julius, yang sampai saat ini kamu baru pernah hadir di mata pelajaran Ibu di semester ini, kamu ini benar-benar yah..!!"
Ibu guru tersebut sangat gondok dengan perilaku Julius yang menyia-nyiakan kesempatan untuk belajar, dia kesal dan ingin mengeluarkan anak itu dari sekolah tersebut. "Hemm... kamu lihat soal di papan tulis itu? lihat gak?" bentak Ibu guru tersebut. Julius hanya bisa terdiam dan menganggukkan kepalanya menjawab pertanyaan Ibu guru tersebut.
"Nah, mungkin ibu akan mempertimbangkan untuk tetap membuat mu berada di kelas ku.! paham?" tegas Ibu guru matematika dengan tatapan sinis kepada Julius. "Ia Ibu akan mempertimbangkan, itupun kalau kamu mampu menyelesaikan soal-soal yang di depan.!!"
Dengan pikiran yang tenggelam, antara sadar dan tidak sadar, Julius benar-benar tenggelam dengan pikirannya, sampai-sampai sentakan keras di meja tak dia hiraukan. "Kamu dengar tidak?" Bam...!! suara sentakan di meja dengan keras membuat semua siswa di dalam ruangan itu terdiam hening.
Ibu guru tersebut kaget dengan Julius tiba-tiba berdiri dan berjalan dengan tatapan kosong. "hah...! drama apa lagi ini?" gumamnya di dalam hati. Julius meraih spidol yang berada di samping sambil tetap berjalan dan pasangan tetap ke depan.
Sedikit demi sedikit, Julius menulis di papan tulis dengan cepat, rapi dan pasti tanpa keraguan. Satu soal selesai, dua soal selesai, tiga soal selesai, sampai soal ke lima juga selesai dengan waktu yang sangat singkat, seakan bukan apa-apa.
Ibu Guru dan teman-teman di ruangan tersebut tercengang, tulisan yang amat rapi, jawaban yang sangat sempurna, bahkan Julius menjabarkan cara yang jauh lebih sederhana dan mudah untuk di pahami yang bahkan tak ada di buku pelajaran manapun.
Selesai mengerjakan soal-soal tersebut, Julius tetap berdiri, namun dia beranjak ke arah samping papan tulis agar tidak menghalangi pandangan Ibu guru dan teman-teman sekelasnya. Julius berdiri dengan kepala tertunduk sambil terheran-heran dengan apa yang dia tulis.
Guru matematika yang terkenal sangat killer itu terdiam dan kehabisan kata-kata. dia mengambil ponselnya dan mengambil foto papan tulis tersebut dan terburu-buru mengakhiri proses pembelajaran di kelas tersebut, dia beranjak menuju kantor guru dan mempelajari cara penyelesaian yang di gunakan Julius tersebut dengan semangat dan bergumam "Ini luar biasa".