
Di pagi itu, pada jam pertama mata pelajaran, Julius sudah di hadapkan dengan sebuah problem yang begitu sukar, Julius mencoba mengontrol dirinya mencoba rileks dan tenang, "Ayo semangat, ini bukan hanya mengenai angka, tapi ini menyangkut harga diri mu Julius" sebutnya mencoba menyemangati dirinya sendiri. Julius mencoba memperhatikan soal yang di berikan Bu Ruth kepadanya, dia bengong, heran dan di kagetkan oleh Bu Ruth, "Kenapa bengong? Gak bisa jawab?" Cetus Bu Ruth kepadanya, Bu Ruth cukup kenal dengan Julius, bukan hanya mengenal dirinya di sekolah namun dia juga tau bagaimana dia di rumah, sebab tanpa Julius sadari Ibunya sering bekerja di rumah orang tua Bu Ruth sebagai tukang cuci. Jadi banyak kesempatan Bu Ruth bercerita dengan Ibunya Julius, yah karena sudah merasa dekat Ibu Julius sering curhat bagaimana kelakuan Julius di rumah kepada Bu Ruth, namun Ibu Julius tidak tau bahwasanya Bu Ruth sebenarnya guru Julius di sekolah. Berdasarkan curhatan Ibu Julius tersebut, Bu Ruth menyimpan emosi pribadi kepada Julius sehingga di pagi itu dia terbawa perasaan, mengingat perjuangan Ibu Julius kepadanya yang dia sia-siakan. "Sungguh anak durhaka" gumamnya.
Julius mendengar sedikit apa yang Bu Ruth itu katakan, dia tidak mengerti karena hanya dia yang dapat mendengar cetus dari Bu Ruth, tanpa Julius sadari semua panca indera Julius meningkatkan secara tajam. Beberapa saat kemudian, "Sudah selesai Bu" ujarnya sambil menunduk. "Hah sudah selesai?" Tanya Bu Ruth dengan kaget, "Hah?, Loh kok bisa?" Ujar Bu Ruth dengan tangan di dagunya. "Yah...! Jelas Bu Ruth heran, jangankan beliau, saya saja yang mengerjakan tidak tau apa-apa, namun rasanya semuanya ada di dalam kepala ku, jadi aku hanya menuliskan apa yang ada di kepala ku sendiri. Saya tidak percaya ini..!" Sebutnya dalam hati. Kemudian Bu Ruth mencoba memahami hasil pekerjaan Julius tersebut, memang cara yang dia pakai untuk menyelesaikan soal tersebut terlihat sedikit asing dan tidak sesuai dengan apa yang di ajarkan oleh Bu Ruth. Namun yang Julius kerjakan di papan tulis merupakan metode yang lebih sederhana, simpel dan mudah dipahami. Bu Ruth terheran-heran, "Kok kamu bisa mengerjakannya?, Apalagi ini metode baru dan hasilnya benar, ini merupakan metode yang sangat luar biasa, tak pernah terpikir oleh ku untuk membuatnya lebih sederhana sehingga mudah untuk dipahami seperti yang kamu terapkan ini" sebut Bu Ruth dengan spontan memuji karya Julius di depan semua murid-murid di ruang tersebut membuat semua yang ada di ruangan itu terkagum. Namun bagi beberapa siswa Julius merupakan sebuah petaka bagi mereka.
Tanpa di sadari pelajaran matematika di pagi itu sudah berakhir dengan bunyi bell. "Oke baiklah Anak-anak semua pelajaran matematika untuk hari ini kita akhiri sampai di sini, tapi sebelum itu, semuanya tolong perhatikan dan pelajari soal di bab yang kita bahas, harapan Ibu semuanya mampu meningkatkan kemampuannya di pertemuan selanjutnya. Terima kasih dan selamat siang..!" Bu Ruth menutup mata pelajaran yang dia bawakan, dia keluar dari ruangan tersebut dengan penasaran kepada kemajuan dari Julius. "Hari yang cukup berapi-api" Ibu tersebut bergumam sambil meninggalkan ruangan kelas tersebut. Hari itu Julius amat bersinar, semua temannya kagum kepada dia. Banyak orang yang menganggap Julius menjadi seseorang yang betul betul berbeda mulai dari pembawaan, cari dia berbicara sampai hal yang biasa dia banggakan semuanya berubah drastis. Setelah pembelajaran matematika selesai di sambung mata pelajaran sejarah. Tett... Tett.. suara bell berbunyi pertanda berakhirnya prose belajar mengajar di hari itu. Pada kesempatan itu beberapa orang datang mengganggu Julius. Julius santai saja, walaupun dia sudah trauma dengan keadaan itu di masa lampau, namun dengan pengalaman dan kematangannua saat ini, semuanya dapat dia hadapi dengan penuh percaya diri. "Bamm..." Suara keras dari seseorang yang menendang pintu dengan keras "Oi lu... Temui kita di atap" sebut seseorang dari gerombolan yang menghampiri Julius di kelasnya. Julius hanya diam dan melangkahkan kakinya dengan santai. Seseorang memegang lengan Julius, "Kamu tidak harus mengikuti perintah mereka kan?" Ujar seseorang wanita denga wajah yang cukup imut dengan poni yang menghiasi wajahnya. "Kamu tidak perlu khawatir, ini akan berakhir dengan cepat..!" Jawab Julius dengan cool dan penuh percaya diri membuat teman yang memegang lengannya tersipu malu.
Julius hanya senyum sambil menatap seorang siswi yang begitu khawatir terlukis di wajahnya, "Wah sialan dengan keadaannya terjebak seperti itu, dia masih sempat menggoda Dewi kelas kita" ujar siswa satu kelasnya membuat siswi tersebut semakin merona, "Yah betul, dia benar-benar panutan ku" jawab siswa di sampingnya. Dengan lihai Julius menghindari semua pukulan dari gerombolan siswa berandalan tersebut sambil menggoda Dewi dari kelasnya itu dengan wajah khawatir. "Awas di belakang..!" Teriak siswi tersebut kembali, Julius hanya tersenyum dan menghindari pukulan di belakangnya dan menghantam sesama siswa berandalan yang ada di depannya. "Sungguh hebat, tanpa mengeluarkan serangan dia sudah menjatuhkan beberapa dari berandalan itu" sebut seorang siswa di kerumunan itu, seakan dia menjadi seorang komentator di sebuah laga aksi membuat gerombolan tersebut semakin kesal. Beberapa dari mereka mengeluarkan senjata, mulai dari bisbol dan ada juga yang mengeluarkan benda tajam dari sakunya. "Jika kalian semua sudah benar-benar menggunakan senjata itu, kalian tidak akan memiliki kesempatan untuk kembali lagi, sebelum semuanya terlambat mari kita selesaikan ini denga benar." Ujar Julius kepa mereka semua, beberapa di antara berandalan tersebut mulai goyang dan ragu. "Persetan dengan semuanya," teriak seseorang yang berasal dari atap. Yah dia adalah Jack, pemimpin dari kelompok berandalan tersebut di kelas junior. Perkataan tersebut membakar semangat orang yang ada di kelompok itu. "Siapapun yang dapat menyert anak kurang ajar ini kehadapan ku, dia akan aku rekomendasikan kepada kakak senior kita" ujarnya kembali.