Another Choice In My Life.

Another Choice In My Life.
Tidak ada alasan, semua hanyalah



setelah merasa puas dengan nominal uang yang berada di ATM nya, dia bergegas dan bersiap untuk istirahat. Malam itu begitu sunyi, Julius mulai menerka dengan tujuan apa sebenarnya dia di kembalikan keasa lalu. "Tok... Tok..." Suara ketukan pintu mengangetkan Julius dari lamunannya, "Siapa sih malam malam begini" ujarnya dengan cetus. Ketika dia membuka pintu kamarnya, dia kaget melihat sosok yang sangat dia rindukan berada tepat didepan matanya, dengan spontan dia memeluk ayahnya. Tentu Ayahnya Julius terheran-heran dengan perilaku dan tingkah dari anaknya. "Kamu kenapa Nak?" Tanya Ayahnya, ini adalah pelukan pertama dari Julius, terakhir sekitar Julius SMP tingkat pertama, di suatu momen itulah terakhir kalinya Julius memeluk Ayahnya. Selama ini dia hanya menuntut, meminta ini itu, marah-marah, dan banyak tingkah naif yang Julius lakukan bila orang tuanya tidak memenuhi apa keinginan Julius.


"Apakah Ayah sehat?" Pertanyaan Julius memecahkan keheningan di malam itu. "Kenapa bertanya seperti itu kepada Ayah?" Tanya Ayahnya kembali. "Tidak.... Hanya saj a sudah beberapa hari ini Ayah tidak pulang ke rumah. Apa pekerjaan Ayah akhir-akhir ini sedang ada masalah?" Tanya Julius. Dengan senyum dan mengelus-elus kepala Julius Ayahnya kembali menjawab, "Wah.. Anak Ayah sudah tumbuh dewasa yah? Sejak kapan kamu menghawatirkan pekerjaan Ayah?" Julius hanya merunduk, dia paham bagaimana kelakuannya kepada Ayahnya di kehidupan sebelumnya, dia bahkan pernah melemah dan merobek-robek raport dan hasil ulangan hanya karena ayahnya mempertanyakan nilainya. "Memang sungguh aku yang dulu sangatlah nakal." Ujarnya dalam hati sambil merunduk. Melihat Anaknya yang merunduk seribu bahasa, Ayahnya mencoba menenangkan Julius, "Semuanya baik-baik saja Nak, kamu sebagai anak hanya perlu belajar saja, masalah kebutuhan mu, dan pekerjaan serahkan saja kepada ayah, kamu tidak boleh memiliki pemikiran yang lain-lain, kamu hanya perlu belajar dan belajar, buat kami orang tua mu bangga akan prestasi mu. Seberat apapun beban yang kami pundak, kau tidak haru tau, namun sekecil apapun beban yang kamu jinjing kami sebagai orang tu mu harus mengetahuinya. Jadi intinya aku sebagai Ayah mu akan berusaha menjamin segala kebutuhan mu, pasti akan Ayah usahakan." Ujarnya sambil mengelus-elus kepala Anaknya tersebut.


"Tok, tok, tok" suara ketukan pintu, Ibu Julius terbangun dengan sebuah suara yang dia dengar. Sebenarnya Ibu Julius mendengar dengan samar suara ketukan pintu di tidur lelapnya, namun karena tubuh yang sudah sangat lelah, dia menganggap itu sebuah mimpi. Namu terdengar kembali suara yang akrab baginya, dengan rasa penasaran, Ibu Julius bangun dari tidurnya dan bergegas menuju arah suara tersebut. Yah, karena kamar Juli satu tembok dengan tembok yang di luar, dan lurusan dari pintu, jadi bila ada orang yang datang, tentu Julius lah yang pertama kali denger, dan karena rumah mereka tidak besar, maka suara dari ruang tamu sangat nyaring di dengar oleh Ibunya Julius. Ketika Ibunya tersebut akan membuka gorden, dia melihat Anak dan suaminya sedang ngobrol dengan penuh kehangatan, melihat hal tersebut dengan sigap Ibunya kembali menutup gorden dan mengamati dari celah-celah gorden tersebut. Ibunya meneteskan air mata dengan begitu banyaknya emosi yang bergejolak di dalam hatinya, "Anak ku.., anak kebanggaan ku..!" Ucap Ibunya dalam hati sembari menahan suara supaya tidak menggangu perbincangan hangat antara Ana dan suaminya. Malam itu berlalu dengan banyak perubahan dan suasana di dalam hati mereka dsn tidur dengan damai.


Pagi harinya. Seperti pada pagi yang sebelumnya, semuanya begitu damai dengan pancaran sinar matahari di pagi itu seakan menembus embun yang seakan dan memberikan kehangatan