Another Choice In My Life.

Another Choice In My Life.
Bab III. Kenyataan di masa lalu.



Bab III. Kenyataan di masa lalu.


Hari ini, tepat pukul 7.30 WIB Julius sudah siap dengan seragam sekolahnya. "Mah... Ayah belum juga pulang?" Tanya anak itu saat dia akan berpamitan dengan Ibunya. Spontan ibunya kaget, dia tidak menyangka bahwasanya anak itu menanyakan keadaan Ayahnya. Yang biasanya Julius hanya menuntut uang dan uang tampa peduli keadaan ekonomi keluarganya, Ibunya sangat semangat dengan pertanyaan anaknya tersebut, "Kamu tak perlu khawatir nak, Ayahmu akan pulang sebentar lagi, kamu harus semangat belajarnya yah..!" Ibunya menjawab pertanyaan Anaknya tersebut sebut dengan senyuman di bibirnya.


Tet.... Tet.... Tepat pada pukul 08.00 pagi Bell sekolah berbunyi, Julius cuek saja masuk ke ruangan dan duduk di kursinya seperti biasanya tanpa masalah sedikitpun. Sebenarnya dia juga heran dia ingat betul ruangan dan tempat dia duduk. Dia celingak-celinguk melihat wajah teman SMAnya di ruangan tersebut. Pagi itu pelajaran matematika, yah pada umumnya pelajaran matematika di bawakan oleh guru yang paling killer, namun kenyataannya, di sekolah tersebut yang menjadi guru matematikanya kebalikan dari realita itu, guru matematika yang di depannya itu di kenal dengan nama Bu Ruth Sahanaya, dengan paras yang cantik, tubuh yang profesional mata yang cukup menerkam hati, membuat dia menjadi salah satu guru favorit di kalangan siswa. Julius dengan tangan sebagai tumpuan kepalanya, dia melihat Bu Ruth sambil senyam-senyum, "Kenapa aku baru tau yah, bahwa di kelas ini ada bidadari.!" sebutnya di dalam hati, dengan perilaku Julius tersebut, Bu Ruth sadar akan tatapan Julius yang aneh dan melihat Julius tidak fokus pada pelajaran dan malah senyam-senyum sendiri. "Hey.. kamu!" Julius kaget dengan hentakan suara dari Bu Ruth, Julius melihat kebelakang meras bukan dirinya yang dimaksud. "Ia kamu!" Sebut Bu Ruth dengan geram. "Maju ke depan..!" Sebutnya dengan geram.


Di pagi itu, pada jam pertama mata pelajaran, Julius sudah di hadapkan dengan sebuah problem yang begitu sukar, Julius mencoba mengontrol dirinya mencoba rileks dan tenang, "Ayo semangat, ini bukan hanya mengenai angka, tapi ini menyangkut harga diri mu Julius" sebutnya mencoba menyemangati dirinya sendiri. Julius mencoba memperhatikan soal yang di berikan Bu Ruth kepadanya, dia bengong, heran dan di kagetkan oleh Bu Ruth, "Kenapa bengong? Gak bisa jawab?" Cetus Bu Ruth kepadanya, Bu Ruth cukup kenal dengan Julius, bukan hanya mengenal dirinya di sekolah namun dia juga tau bagaimana dia di rumah, sebab tanpa Julius sadari Ibunya sering bekerja di rumah orang tua Bu Ruth sebagai tukang cuci. Jadi banyak kesempatan Bu Ruth bercerita dengan Ibunya Julius, yah karena sudah merasa dekat Ibu Julius sering curhat bagaimana kelakuan Julius di rumah kepada Bu Ruth, namun Ibu Julius tidak tau bahwasanya Bu Ruth sebenarnya guru Julius di sekolah. Berdasarkan curhatan Ibu Julius tersebut, Bu Ruth menyimpan emosi pribadi kepada Julius sehingga di pagi itu dia terbawa perasaan, mengingat perjuangan Ibu Julius kepadanya yang dia sia-siakan. "Sungguh anak durhaka" gumamnya.