Another Choice In My Life.

Another Choice In My Life.
Apa pilihan Mu?



Bab I


Di sebuah malam yang sunyi, seorang pria paruh baya dengan kantong plastik digenggamnya. Dia berjalan kegirangan karena mendapat bonus dari Bos besar tempat dia bekerja. "Hahahahaha... Kapan lagi coba dengan pekerjaan yang minim, aku mendapat bonus yang luar biasa." Dia bergumam dengan kegirangan, dia belum pernah menerima uang sebanyak itu, jangankan untuk memiliki bahkan dia tidak pernah membayangkan akan memiliki uang dengan nominal sebesar itu.


Dia membayangkan bagaimana konyolnya kehidupannya selama ini dengan segala kemalangan yang dia miliki, dengan tertawa lepas, air mata menetes dari matanya. "Sial... Akhirnya aku bisa membuat Istri dan anak ku bahagia, yah.. aku tidak perlu lagi bekerja keras. Istri ku tidak perlu lagi menerima hinaan dari Nyonya sialan itu (maksudnya pemilik rumah yang mereka sewa) karena terlambat membayar biaya sewa rumah." Pria paruh baya itu terwa dengan air mata yang menetes di pipinya. "Yah bahkan si kecil kami tidak harus menahan lapar lagi."


Dia mempercepat langkahnya, di berjalan sambil kegirangan. Tak lupa dengan makanan yang terbungkus disebuah kantong plastik di genggamannya. Dia sangat hati-hati agar makanan yang di dalamnya tetap dengan bentuk utuh. Dia melangkah selangkah demi selangkah dengan cepat dan hati-hati. Dengan membayangkan bagaimana kegembiraan yang akan terlukis di wajah Istri dan Anak Perempuannya.


*****


Beberapa saat kemudian dia sampai didepan pintu rumah. Dia berhenti dengan debar di hati, gak ta karuan. Sudah lama senyum di wajah Anak dan Istri ku hilang, seakan mereka lupa bagaimana caranya tersenyum lepas dengan beban berat yang setiap hari mendatangi keluarga kami." Dia berdiri terdiam didepan gubuk yang tidak pantas di sebut sebuah ruah. Dengan semangat dia menggenggam dan mendorong pintu rumah tersebut. Seketika kantung plastik yang berisi makanan di genggamannya jatuh. Dia terkaget-kaget melihat keadaan rumah yang begitu berantakan dan semua barang bertebaran di lantai. Dia berlari menuju kamar tempat Anak, istri dan dia beristirahat.


Dia terpeleset saat berlari, dia melihat kebawah dan dia melihat banyak darah bertebaran di lantai. Dia gemetaran melihat keadaan rumah, "Indah..." Teriaknya dengan nada gemetar memanggil anak perempuannya. Dengan tumpuan kaki yang tidak kuat dengan gemetar dia melangkah dia menarik gorden di pintu kamar dan melihat sebuah peristiwa yang membuatnya tidak memiliki tenaga untuk berdiri. Pujaan hatinya dan dan putri yang paling dia sayangi tergeletak di lantai dengan darah yang mengalir membasahi pakaian dan laintai kamarnya itu. Dia menagis menutupi wajahnya dengan kedua tangannya, menjambak rambutnya sendiri dan memukuli pipinya berharap ini semua hanyalah sebuah mimpi dan berharap dengan dia melukai dirinya sendiri dia dapat segera terbangun dari mimpi buruknya


Seketika sebuah benda tumpul menghantam kepalanya. "Bruak.. Sangat aneh, Bis besar menekankan kepada kita untuk segera mengakhiri hidupnya dan jangan sampai memberikan dia kesempatan." Suara tersebut samar-samar masih dapat dia Julius dengar, dengan segala usaha dia mencoba mempertahankan kesadarannya dan mengumpulkan tenaganya. "Yah kamu benar, lagian apa yang dapat dia lakukan kepada kita dengan tubuh kurus kering seperti itu?" Mereka tertawa terbahak-bahak menghina pria paruh baya itu yang tergeletak di lantai dengan darah yang mengalir dari kepalanya. "Sudah.. jangan membuang-buang waktu lagi ayo segera bereskan tugas kita lalu kita dapat bersantai setelah melapor kepada Bos kita" Perintahnya kepada dua orang yang sedang bercanda di depannya.


"Sudah cepat, kita bereskan yang satu ini, nanti bos marah" salah satu dari kelompok tersebut menegaskan untuk segera mengakhiri hidup target mereka itu. Julius tetap mengamati tindakan dari pembunuh tersebut, ketika yang dia anggap pemimpin dari kelompok itu berbalik badan, dia bangkit dan menyerang langsung mata seorang dari yang di dekatnya. Gerakan sungguhan terlatih, dengan keadaan yang begitu kacau, bahkan anak-anak pasti dapat memahami betapa parahnya kondisi dari Julius.


Sebelum teman di sampingnya sadar dengan serangan dadakan yang di lancarkan Julius, dia sudah mendaratkan sebuah pukulan keras yang mendarat di leher pembunuh yang satunya, tak sempat beraksi dan mengeluarkan suara, dia sudah memutar leher pembunuh yang matanya di colok oleh Julius di serangan pertama. Seketika keduanya tumbang dengan mudah di tangannya. Dia seperti seorang ahli dalam bidang itu, namun Tampa dia sadari sebuah pisau tepat mendarat di jantungnya.


"Kamu adalah petarung yang hebat, dengan kondisi mental dan tubuh mu yang akan ambruk kapan saja, kamu dapat menyingkirkan kedua Anak buah ku. Sungguh di sayangkan aku tidak memiliki kesempatan untuk berhadapan dengan mu dalam pertarungan satu lawan satu. Sebagai imbalannya akan ku berikan kau hadiah dengan hiburan yang kau berikan padaku" Julius hanya terdiam dia tidak memiliki tenaga lagi untuk tetap berdiri, dia terjatuh dengan lutut sebagai tumpuannya laulu tergeletak di lantai dengan pisau tetap berada di dadanya.


Lalu pemimpin kelompok pembunuh tersebut merunduk dan mendekat ke telinga Julius. "Yah....!! Walaupun kau tidak akan dapat mendengar dengan benar, namun aku ingin kamu tau siapa yang mengirim kami ke sini? Ia, itu benar, Bos besar yang selama ini kau layanilah yang mengirim kami ke sini." Mendengar itu Julius semakin marah dalam hatinya. Dia sangat menyesal dengan apa yang dia lakukan selama ini, ternyata dia di tusuk dari belakang oleh Bos yang selama ini dia layani dengan tulus.


"Yah sebenernya ini adalah rahasia umum bagi pembunuh untuk tidak memberikan informasi mengenai orang yang menjadi kliennya. Tetapi kamu merupakan sesuatu, aku tidak tau kenapa aku berbicara terlalu banyak kepada orang yang sedang sekarat, yang bisa saja sewaktu waktu akan meninggal." Pembunuh itu melihat Julius dengan keadaan yang sekarat. "Seandainya kita bertemu dengan waktu dan tempat yang berbeda mungkin kamu akan saya rekrut untuk masuk ke organisasi kami."


Dengan langkah kaki yang semakin menjauh Julius tau bahwa Pembunuh tersebut pergi meninggalkan ruangan tersebut. Julius tau pasti bahwa hidupnya sudah tidak lama lagi, dia berusaha menghampiri Istri dan anaknya, dengan sekuat tenaga dia memaksakan menyeret tubuhnya ketempat Anak dan Istrinya tersebut, dia berusaha meraih dan menyentuh kedua orang yang sangat berarti di hidupnya tersebut. Dia berhenti, tidak memiliki tenaga lagi untuk bergerak. "Hah.... Ternyata sampai di sini saja, aku berpikir hari ini dalah hari keberuntungan terbesar yang aku miliki dengan semua musibah yang aku alami selama ini" dia berbicara kepada dirinya sendiri dengan mata yang terpejam tak mampu lagi untuk di buka.


Seketika, sebuah sosok misterius muncul dan berbicara dengannya, "Apa kamu mau mengambil pilihan yang lain?" Tanya soso misteri tersebut, Julius tidak mampu lagi menjawab pertanyaan tersebut, jangankan untuk menjawab bahkan suara misterius itu tidak sepenuhnya dia dengar. "Apa kamu mau mengambil kesempatan sekali dengan menyatakan ia?" Tanya sosok misterius tersebut. Julius berusaha membuka matanya, dengan susah payah dia berhasil membuka matanya, dia melihat dengan burmam dengan tidak jelas dan kabar, dia hanya dapat melihat subuah kiluan di depan matanya. "Ia apapun itu tolang aku" sebuah kalimat tiba-tiba keluar dari mulutnya dengan usaha yang begitu besar. "Kesepakatan sudah terpenuhi" sebut sosok misterius tersebut. Dengan sebuah Kilauan putih yang melingkar di sekujur tubuh Julius, tubuhnya terangkat ke atas sekan melayang di udara. Bab I selesai.