Another Choice In My Life.

Another Choice In My Life.
Pertemuan dengan sosok misterius.



Dia duduk beberapa menit di salah satu kursi di taman itu, karena bajunya cukup basah dan dia merasa tidak nyaman dia membuka bajunya dan mencoba memeras bajunya supaya sedikit kering. Saat Julius membuka bajunya, keributan di taman itu terjadi, banyak yang bersorak dan menghentikan semua kegiatan di taman itu, ternyata tanpa dia sadari, di awal sesaat dia sampai di taman tersebut, Julius sudah menjadi pusat perhatian banyak orang di sekitarnya. Seketika dia kaget dengan ekspresi orang di sekitarnya, yang membuat dia gagap dan panik.


Seseorang datang mendekat dan meminta nomor ponsel Julius, "Kak....! Bisa aku minta nomor ponsel Kaka?" Seseorang perempuan yang imut dengan penampilan yang cukup menarik dan dengan pakaian olahraga yang dia gunakan, perhatiannya buyar, melihat banyak wanita yang mencoba menghampiri Julius di belakang wanita yang pertama mendatangi dirinya.


Dengan sigap dan cepat, dia berlari dengan secepatnya meninggalkan taman tersebut. Dia berlari dengan panik, tak memperhatikan kondisi apapun, dia berlari dengan telanjang dada dengan baju yang dia pegang. Julius berhasil mencuri perhatian setiap orang yang dia temui. Tanpa sadar, hanya memakan waktu beberapa menit dia sudah sampai di depan rumah, dia berlari begitu cepat, sungguh luar biasa, di saat dia berada di depan rumah, dia mencoba mengatur nafasnya baru dia sadar bahwa dia tidak sempat menggenakan baju yang ada di tangannya. Dengan kacau dia berjalan membuka pintu rumah dan masuk kedalam.


"Dari mana nak?" Tanya Ibunya kepada Julius, pertanyaan itu cukup mengagetkan Julius, "Ah..! Habis olahraga" jawabnya sambil beranjak menuju kamarnya. Dia begitu kaget dengan apa yang terjadi hari ini, selama di perjalanan, dan peristiwa di taman, itu merupakan pengalaman pertama bagi dia, bahkan itu adalah hari pertama di mana ada wanita yang berinisiatif untuk menghampiri dan meminta nomor ponsel Julius dengan wajah yang imut. "Hah... Sepertinya tuhan memulai menyukai ku, hehehe" ujarnya dengan bangga.


Karena begitu banyaknya kejadian di pagi hari itu, Julius banyak membuang waktu, sehingga dia harus terburu-buru agar tidak terlambat. Dia dengan cepat mandi, dan berpakaian, lalu menggenakan baju dan celana seperti biasanya, namun dia heran karena baju yang biasa dia gunakan sudah sangat sesak di badannya dan celana abu-abu nya menggantung di kakinya. Namun karena waktu yang sudah mepet dia tidak terlalu memperdulikannya. Dia berpamitan dengan kedua orang tuanya dan tidak lupa dia mengelus kepala Adik perempuannya. Dengan terburu-buru dia berangkat ke sekolah dengan waktu yang sangat mepet, bahkan dia tidak sempat merapikan rambutnya.


"Tet... Tet.. Tet.." Bell berbunyi tepat saat Julius sampai di sekolah. Dia duduk di kelas dan jam pelajaran pertama di mulai, seperti biasanya, dia memperhatikan dengan serius pembelajaran pertama di pagi itu. Namun dia kepikiran dengan keanehan yang dia alami di pagi hari itu. Kejadian di taman, bahkan keanehan dengan tatapan orang tuanya dan saat di sekolah, semua orang memperhatikan Julius, itu cukup membuat Julius bingung.


Dia kembali menepuk-nepuk wajahnya sendiri. Di saat itu Julius mendengar beberapa langkah kaki menunju kamar mandi. Dia segera masuk ke salah satu WC di samping wastafel. Setelah di dalam, dia bingung kenapa dia masuk ke WC dan menghindari orang yang akan datang.


Dia mencoba menenangkan dirinya dan mencoba berbicara dengan dirinya sendiri. "Yok.. tetap tenang yok.." dia berbicara sendiri dalam hati sambil mengepalkan tangannya, dengan mencoba menggunakan segala cara untuk membuat dirinya sendiri tenang dan terjaga. Dia kembali menyakinkan dirinya sendiri.


"Bukankah saat aku memilih pilihan untuk kembali mengulangi kehidupan ku sendiri saja sudah sangat di luar imajinasi? Ia betul semuanya ini merupakan sebuah keajaiban yang tidak dapat di cerna oleh ilmu apapun, jadi mari...! Mulai sekarang mari kita coba untuk tidak terlalu kaget dengan apa yang akan terjadi."


Julius kembali tenang dan mencoba untuk tidak kaget akan hal yang akan terjadi pada dirinya. Ketika dia perhatikan, bahwa suasana di kamar mandi sudah sepi, dia keluar dengan membawa semua keberanian yang dia miliki. Dia memahami apa yang membuat orang di sekelilingnya memberi perhatian kepada