
Bab IV. Tidak ada alasan, semua hanyalah sebuah pilihan.
Di hari pertama Julius memasuki sekolah, dia di kroyok oleh sekelompok berandalan. Julius sudah memilih untuk mengubah hidupnya, ini adalah awal yang menjadi injakan bagi Julius, di masa lalunya dia adalah bahan bullying di sekolahnya, menjadi pesuruh siswa berandalan di sekolah itu, bahkan itu adalah salah satu alasan Julius untuk selalu meminta uang kepada orang tuanya, itu semua agar dia tidak di lukai di sekolah. Dengan uang Julius dapat membeli apapun yang siswa berandal itu minta, sehingga tidak terlalu sering di pukuli. Namun pada kesempatan kali ini dia sudah memantapkan diri untuk memulai semua dengan keadaan yang berbeda, dia berjanji untuk mengubah pilihan yang akan dia mulai, jadi peristiwa ini adalah landasan atau pijakan pertama untuk pilihannya.
"Yeah, kamu sangat hebat," sorak siswa yang ada di tempat itu. Bagi sebagian siswa, Julius adalah panutan, namun bagi siswa yang sudah terbiasa menjadi pesuruh takut akan hal itu, mereka berpikir bahwasanya akan ada Bos baru yang akan mereka layani. Julius sangat sadar akan hal itu, karena dia juga merupakan korban di kehidupan yang sebelumnya. Hari itu sebuah langkah besar sudah selesai Julius laksanakan untuk mengubah nasipnya di kehidupannya yang ke-dua ini. Hari itu berakhir begitu fantastis di sekolah. Malam ini di tengah lautnya malam, Julius masih terjaga dengan komputer tua yang di depannya. Dia sangat hati-hati, tekun untuk mengisi saldonya. Selesai dia menangkap tangkapan yang besar di bisnis investasinya, dan setelah merasa puas dengan nominal uang yang berada di ATM nya, dia bergegas dan bersiap untuk istirahat. Malam itu begitu sunyi, Julius mulai menerka dengan tujuan apa sebenarnya dia di kembalikan keasa lalu. "Tok... Tok..." Suara ketukan pintu mengangetkan Julius dari lamunannya, "Siapa sih malam malam begini" ujarnya dengan cetus. Ketika dia membuka pintu kamarnya, dia kaget melihat sosok yang sangat dia rindukan berada tepat didepan matanya, dengan spontan dia memeluk ayahnya. Tentu Ayahnya Julius terheran-heran dengan perilaku dan tingkah dari anaknya. "Kamu kenapa Nak?" Tanya Ayahnya, ini adalah pelukan pertama dari Julius, terakhir sekitar Julius SMP tingkat pertama, di suatu momen itulah terakhir kalinya Julius memeluk Ayahnya. Selama ini dia hanya menuntut, meminta ini itu, marah-marah, dan banyak tingkah naif yang Julius lakukan bila orang tuanya tidak memenuhi apa keinginan Julius.