
Bab II. A New Life
Seketika, sebuah sosok misterius muncul dan berbicara dengannya, "Apa kamu mau mengambil pilihan yang lain?" Tanya soso misteri tersebut, Julius tidak mampu lagi menjawab pertanyaan tersebut, jangankan untuk menjawab bahkan suara misterius itu tidak sepenuhnya dia dengar. "Apa kamu mau mengambil kesempatan pilihan yang berbeda?, dengan menyatakan baik! Saya anggap kamu setu" Tanya sosok misterius tersebut kedua kalinya. Julius berusaha membuka matanya, dengan susah payah dia berhasil membuka matanya, dia melihat dengan buram dengan tidak jelas dan kabur, dia hanya dapat melihat subuah kiluan di depan matanya. "Baik apapun itu tolang aku" sebuah kalimat tiba-tiba keluar dari mulutnya dengan usaha yang begitu besar. "Kesepakatan sudah terpenuhi" ujar sosok misterius tersebut. Dengan sebuah Kilauan putih yang melingkar di sekujur tubuh Julius, tubuhnya terangkat ke atas sekan melayang di udara. "Tidak masalah, apapun yang terjadi tidak masalah," dia menutup matanya dan kembali bergumam "Inikah yang namanya kehancuran cita cita?!" Ujarnya dengan hati yang teriris.
******
Pagi itu di sebuah rumah yang sederhana terdengar suara pisau yang memotong sayuran dan suara sendok yang menjadi sebuah suasana yang sangat di rindukan nya. Seakan suara dari berbagai gerakan dan gesekan di pagi itu membentuk sebuah nada yang senantiasa mengiringi dan membakar semangat di pagi itu. Aroma nikmat yang menggairahkan membuat dia terbangun di pagi hari tersebut. "Uahhhh...!" Dia menguap di pagi itu, dan seketika dia tersentak dan terkejut. Dia melihat ukuran tangan dan terburu-buru berlari ke kamar mandi. "Wah...! Apa ini? Loh... Loh...!!!" Teriaknya sambil meraba wajahnya.
Mendengar teriakkan Julius, Ibunya bergegas menuju kamar mandi dengan hawatir. "Nak..! Kamu kenapa, ih.. jangan di gituin mukanya" ujarnya dengan hawatir Karena dari penglihatan dan pengamatan Ibunya Julius seperti melukai dirinya sendiri. "Sudah nak..!! Kami tidak boleh begitu, semua pasti ada solusinya." Ujar Ibunya kembali dengan penuh rasa khawatir, Ibunya menerka-nerka mencoba memahami keadaan anaknya. Ibunya berpendapat sendiri bahwa anaknya sedang memiliki sebuah permasalahan serius, melihat bagaimana panik anaknya tersebut.
Dengan kepanikan dan gejolak yang Julius alami, dia tidak menyadari bahwa Ibunya ada di sampingnya. Seketika sebuah pelukan hangat merangkul dari belakang, membuat Julius terdiam dan memejamkan mata dengan air mata yang mengalir. "Ha.! Ibu...! Ini ibu kan..!" Ujarnya dengan suara yang tersendat dan hampir tidak terdengar, namun dengan mimik wajah dan air mata yang mengalir membasahi pipi Julius, Ibunya semakin panik akan hal itu, "betul Nak..! Ibu di sini..! Jangan khawatir. Ibunya mencoba memahami apa yang sebenarnya terjadi dan mencoba menenangkan anaknya tersebut.
Beberapa saat kemudian, Julius mulai tenang dan mencoba memahami keadaannya sendiri, dengan berjuta pertanyaan yang terlintas di pikirannya, dia mencoba mengingat keadaan sebelum dia kembali dan terbangun di ranjangnya. Dia berjalan menuju kamarnya dan bergumam di dalam hatinya "Apa ini pilihan yang di maksud oleh sosok misterius tersebut?" Dengan kebingungan yang menyerang, dirinya mencoba menenangkan pikiran dan mengambil keputusan untuk berbicara dalam hatinya sendiri untuk menyakinkan dirinya bahwa ini semua terjadi berdasarkan pilihannya di saat dia sekarat. "Tok.. tok.. tok.." suara seseorang mengetuk pintu kamar Julius. Dia sangat kaget, "Siapa?" Tanya Julius dengan rasa takut. Tiba-tiba pintu tersebut terbuka dan muncul sosok perempuan yang mungil kecil, spontan dia menepuk jidatnya, "Astaga...! Aku melupakan Adik perempuan ku..!" Sebutnya dalam hati. Spontan dia beranjak dari kasur yang lupuk itu dan beranjak menghampiri Adik perempuan yang sangat dia rindukan. Dia mengelus kepala Adiknya itu dan memeluknya.
Hari itu Julius tidak berangkat ke sekolah, Ibunya menekankan dia untuk istirahat dulu di rumah. Ibu Julius bekerja serabutan, tidak memiliki pekerjakan yang tetap, terkadang dia kerja di pasar, terkadang menjadi tukang cuci pokonya macam macam lah. Sedangkan ayahnya Julius adalah seorang wartawan dengan ketenaran dan jabatan yang tidak Ayahnya miliki. Jadi terkadang Beliau mengambil pekerjaan berat atau pekerjaan apapun yang bisa beliau kerjakan untu dapat menafkahi keluarga kecilnya. Hari sudah mulai gelap Julius sudah memiliki waktu untuk menenangkan diri dan membangun rencana kedepannya, dia ingat kembali orang-orang yang berkaitan dengan duka di keluarga nya di masa depan namun untu saat ini hal yang paling penting untuk dia laksanakan ialah memperbaiki ekonomi keluarganya sehingga orang tua dan adiknya tidak menderita dan dapat merasakan kehidupan sehari-hari yang layak.
Julius memantapkan tekadnya dengan segala rencana demi rencana dengan berbekal ingatan di masa lalu dan kesempatan yang sosok misterius tersebut yang di berikan kepadanya. Yang perlu saat ini, dia harus memiliki modal dulu, dia mencoba mencari solusi dengan berjalan kaki di keramaian kota yang cukup jauh dia tempuh bila dengan berjalan kaki. Dia mencakar dan memeriksa isi kantong celananya dan menemukan beberapa uang kertas dan uang logam. "Bukankah uang ini cukup banyak?" Tanyanya dalam hati. Teringat sebuah memori di kepalanya, ternyata Julius yang dulu sangatlah nakal suka kemewahan, bahkan di rumah saja, hanya dia yang memiliki kasur yang yang cukup empuk walaupun sudah lapuk, "Hati teriris kembali mengingat bagaimana kelakuan kasarnya kepada keluarga terutama kepada Ibunya. Kamu brengsek bro" sebutnya kepada dirinya sendiri. Dia kembali menghitung uang yang ada di tangannya, "Cukup banyak" ujarnya dalam hati. Dia mencoba memutar kepalanya mencari ide dengan uang yang di genggamannya tersebut.
Sempat terlintas untuk melakukan tindakan kriminal yang mungkin tidak akan merugikan dia namun pasti akan merugikan orang di sekitarnya. "Splak..!" Dia menampar pipi nya. "Apa kau ingin kembali lagi ke masa kelam mu seperti yang sudah pernah kau lalui?" Sebutnya kedalam dirinya sendiri. Dia berjalan ke sebuah pusat perbelanjaan, dia berjalan mengitari tempat itu Tampa sebuah tujuan, kemudian dia melihat sedikit percekcokan di depannya dengan penasaran dia mencoba mendekati dua orang tersebut yang sedang adu mulut. Dia amati dan spontan dia berbicara "Wat is er aan de hand? (apa yang sedang terjadi?)" Julius kaget dengan apa yang barusan dia katakan, kedua orang yang sedang berseteru tersebut terdiam dan melihat kepada bocah yang ada di depan mereka denga pakaian yang cukup sederhana. Pria yang sebelumnya berbicara dengan bahasa Belanda minta tolong kepada Julius untuk membantu nya. Ternyata ternyata lawan bicaranya tidak paham apa yang orang Belanda tersebut katakan karena dia hanya bisa bahasa Spanyol. Dan yang lebih mengherankan Julius juga dapat berbicara dengan bahasa Spanyol. Dia membantu kedua orang asing tersebut untuk menyelesaikan persoalan kecil di akibatkan Miss komunikasi. Dia menerima uang tip yang di berikan kedua orang asing tersebut.
Dia melanjutkan perjalanannya mencari apa yang bisa dia perbuat dengan umur yang belum dewasa, untuk dapat membantu keluarganya. Dia melihat uang yang dia dapatkan dengan membantu orang asing tersebut, cukup besar uang yang dia terimanya membuat dia memiliki ide yang cocok dia lakukan. Karena dia sendang berada di pusat perbelanjaan jadi untuk mengurus segala keperluannya untuk melaksanakan kepentingan untuk apa yang akan dia lakukan segera beres. Dia buru buru kembali kerumah, dia lihat di rumah orang tuanya belum pulang juga, membuat hatinya teriris dengan apa yang dia lakukan di masa lalu. Dia bergegas menuju kamar dan menyalakan komputer tuanya. Yah yang dia tuju adalah bisnis investasi online, dulu dia sangat sering bangkrut di bisnis investasi ini karena kurangnya kemampuan dan pengalamannya untuk membaca pasar investasi di saat itu. Namun bermodal dengan ingatannya akan masa depan itu semua bukanlah sebuah persoalan untuk Julius yang sekarang.
Dengan modal awal yang cukup besar dari bantuan kedua touris yang dia temui di pusat perbelanjaan tadi. Dia fokus untuk memahami dan mencoba menggali informasi dari ingatannya di masa depan. Namun yang membuat dia heran informasi tersebut terlintas dengan sendirinya di kepalanya yang membuat dia merinding dengan peristiwa itu. Bisa di pastikan bahwa dia akan mendapatkan omset besar di hati pertanyaan. "Hahahah tidak mungkin, ini semua terlintas begitu saja, seakan aku sudah menjadi veteran investor dengan pengalaman yang begitu matang." Dia tertawa kegirangan "Ini saatnya kita mengubah nasip dan membantu orang yang selalu mendukung dengan apapun kegiatan dan keputusan yang ku ambil, ini saatnya..!" Sebutnya dengan wajah yang cukup berapi-api. "Ini sangat luar biasa, baru aku bekerja beberapa jam, namun saldo ku sudah mencapai 4 juta lebih..!" Dia kegirangan dengan uang pertama yang dia dapatkan.