Amnesia Boyfriend

Amnesia Boyfriend
Singkat



...5...


...AMNESIA BOYFRIEND...


...-Singkat-...


...by Maishaar...


Semalaman Emily bercerita tentang kejadian ia berada di toko donatnya mama. Setelah itu Emily langsung pergi ke kamar dan tertidur pulas.


Tepat jam 5 pagi, Emily bangun untuk sholat subuh dan tidur kembali sampai jam 8 pagi.


" Hoaaahhh ". Pagi jam 8 pagi aku baru terbangun. Pagi ini, aku sudah janji ingin bangun lebih pagi, namun ternyata aku gagal. Akuu banguunnn siang lagiii... Rengekku kesal.


Pagi yang begitu dingin membuatku ingin keluar rumah.


" Mely, siapin payung sebelum hujan ". Teriak mama di ruang perpustakaan rumahku.


" Iya iya, masih cerah kok ". Selepeku yang langsung keluar rumah dengan rok setengah paha dan baju crop top.


Aku keluar dengan pakaian yang begitu santai, menikmati cuaca hari ini yang sangat sejuk karna selalu dituruni hujan setiap sore dan malamnya.


" Emily ". Lagi-lagi aku mendengar suara yang sudah tak asing lagi.


" Siapa? ". Aku mencari sumber suara, aku yang baru berdiri di depan pagar rumahku sudah ada yang memanggilku saja.


" Helloo, saya berada disini ". Lelaki berbadan super tinggi melambai-lambaikan tangan di sebrangku.


Hahaa.. Jangan bilang lo tentangga baru guee, Jamesss. Cengirku terpaksa.


Lelaki berbadan tinggi itu James, James menghampiriku yang ingin pergi begitu saja.


" Emily tunggu, kau ingin pergi kemana? ".Tanya James menghalangiku jalan.


" Saya dan keluarga adalah tentangga baru kau disini ". Jelasnya lagi-lagi tanpa ditanya.


Ya, benar dugaanku. Dia tentangga baru gueeee... Antara kesal dan senang, kesalnya karna kejadian tadi malam itu yang membuatku badmood sama dia, namun posisi lain aku senang kedatangan lelaki tampan yang rada polos, dan baku banget ini membuat mataku semakin jernih.


" Sehat sih mata gue, tapi jantung gue gak ".


" Ha? ". James melongo ke aku.


Mampuss guee, tadi gue ngomong apa? Seketika aku lupa dengan ucapanku sendiri.


" Apakah kau sakit, Emily? ". Tanya James khawatir.


" Maaf, apakah kau memiliki penyakit jantung, Emily? ". Tanya James sekali lagi.


" Aaahh... Aduuhh gak gituu ". Bingungku sendiri.


" Lalu kau kenapa? ". Tanya James sedikit memaska.


" Gapapa, gue mau belanja! ". Jawabku asal yang langsung pergi dan mendorong James yang menghalangiku. James pun terdiam, raut wajahnya kebingungan tak mengerti.


Sampai akhirnya aku terasa bebas tak dihalangi lagi dengan James, aku bisa berjalan santai mengitari komplek peruhaman.


Tin Tin. Suara mobil mengklaksonkanku.


Apaansii! Jalanan lega juga! Gerutuku.


Mobil itu mengikutiku, mobil sport mewah berwarna diavalo red, perlahan kaca jendela sebelah kiri bagian depan terbuka dengan lembut.


" Ayo! ". Kata orang yang ada di dalam mobil mewah tersebut.


Aku melongo sedikit. " James?! ". Kagetku setelah melihat James yang membawa mobil mewah itu.


" Ayo masuk, Emily ". Ajaknya. Aku kaget hingga menghentikan langkahanku juga, begitu James yang ikut menghentikan lajuan pelan mobilnya itu.


" Ngapain? ". Kataku keheranan.


" Belanja ". Jawab James. Ha! Aku melotot kaget.


Aku semakin bingung mendengarnya karna ocehan asalku. Membuat James berbuat seperti ini, aku berpikir berkali-kali. Apa yang dimaksud James selama ini? Kenapa dia begitu bersemangat dan selalu mengajakku untuk ikut bersamanya?


" Ayoo, Emilyy ". Kali ini nadan James seperti memohon.


Grep. Tup. Aku membuka pintu mobil dan menutupnya kembali.


James tersenyum padaku, ia sedikit tertawa melihatku yang masuk dengan wajah yang cemberut.


" Haha, apakah kau terpaksa karena mengasihan saya? ". Tawanya yang ternyata sengaja bernada memelasnya tadi. Aku jadi semakin kesal padanya, maksudnya apa coba? rese juga nih cowo!


" Heh, Emang kenapa kalo gue kasihan sama lo?! Udah cepet jalan! ". Emosiku.


James pun menuruti ucapan, ia mulai menyalakan kembali mobil sport mewahnya dan jalan dengan cukup santai. Aku jadi cukup lega karna ia benar-benar bisa menyetir mobil yang sangat baik. Belum lama aku berbicara tadi, James menjawabku kembali.


" Berarti kau sama dengan saya, saya juga kasihan dengan kau yang berjalan kaki. padahal swalayan disini sangat jauh, jika kau ingin berjalan kaki ". Jawabnya yang membuatku memanas.


" Iihh!! ".


James melirik ke aku yang sedang menahan marah, James menghentikan mobilnya kembali. Rengutan pada dahiku semakin menebal.


" Kau kenapa? ". James menghadapkan posisi padanya ke diriku.


" Wajah memerah, Emily ".


Detak jantungku tidak karuan, entah apa yang lakukan James! James mengusap lembut ke wajahku yang ia bilang memerah.


" Kulit indonesia memang putih seperti ya? Setahu saya kulit seperti hanya untuk asia timur saja, apakah kau memiliki orang keturunan, Emily? ". Bingung James, tatapan James begitu dalam menatapku. Bola mata birunya begitu berkilau membuatku tidak mau berkedip, James melirik ke bibirku, perlahan ia mendekati wajahnya.


" James! ". Spontanku membuang muka.


" Ayo, jalan. Nanti kesiangan ". Aku yang kaget dengan perlakuannya itu, membuatku menolak ciuman darinya.


James duduk secara baik dan normal, kedua tangannya berada disetiran mobil, kepalanya menunduk kecewa.


" Aku suka padamu, Emily ". Sebuah kata yang membuat kebencianku padanya hilang seutuhnya.


" I... I love youu ". Dengan gerakan secepat angin, seorang James dapat merasakan bibirku.


Aku syok dan kaget, ini untuk pertamakalinya aku dicium oleh seseorang selain mamaku. Ciumannya bukan hanya sekedar kecupan biasa, aku menyukainya dengan cara ia menciumku. Aku dapat merasakan manis dari bibirnya dengan memejamkan mata yang cukup lama.


" Haa.. ". Hela nafas kami setelah berciuman, kami tidak langsung membuang muka. Kami malah menatap satu sama lain.


Aku menatap kesempurnaan dirinya, visualnya yang sangat tampan sekaligus imut. Membuat menghela nafas menyesal, aku sempat membencimu James.


" Apa kita resmi berpacaran? ". Tanyaku yang masih menatapnya juga. James tersenyum lebar, lesung pipitnya juga begitu terlihat bahagia, jelas hanya dari senyumannya aku tahu jawabannya.


" Ayo, kita rayakan hari pertama kita, James ". Kataku dengan percaya diri.


Hujan seketika turun, mengguyur mobil James seketika.


" Secepatnyaa, aku menikahimu itu akan lebih baik ". Katanya yang juga percaya diri. Haaaa!!! Aku melotot kaget, James aku belum siap.


Sesingkat itu pertemuan kita dan rasa cinta kita, namun apakah mungkin James ingin menikahiku? Pernikahan itu bukan jalur yang main-main lagi, itu harus ada pemikiran panjang jika ingin menikah di umur yang masih muda.


" Jangan memikirkannya sekarang, Emily. Kita jalankan saja apa yang kita lalui ". Kata James dengan santai sembari menjalankan mobilnya kembali.


...Continued...


...____________________________________...


...Like 🌟...


...Comen 💬...


...Share 📤...


...and Thank You...


...My Readers 👀...