
...4...
...AMNESIA BOYFRIEND...
...-Hantu Kutubuku-...
...by Maishaar...
" Maa, Mely berangkat yaa assalamualaikum! ". Teriakku bergegas ke kampus.
Jam setengah delapan malam tepat, aku telah duduk di kursi paling belakang di kelasku..
B-A-N-G-U-N. Aku yang telah duduk mengetik di alarm pada ponselku untuk menyetel alarm jam kuliahku agar tidak terlambat lagi.
Besok aku libur, buat apa aku pasang alarm? Tiba-tiba aku teringat, hari besok yang ada tanggal merahnya.
" Bocil! ". Panggilan yang tak asing lagi bagiku.
Aisshh...
" Apa!! ". Kesalku menjawab.
" Tumben pagi ".
Dia Hans, pacar sahabatku Violetta Bilayna atau Violet panggilannya. Hans, Vio, dan aku sebaya. Hans hobi memanggilku dengan sebutan 'BOCIL' alias bocah kecil karena tinggi badanku yang tak setara dengan rata-rata anak kuliahan perempuan.
" Pagi apanya! Ini malem tau! ". Sewotku.
" Haha... gue kira lo bego ". Ledeknya, Hans.
" Iishh ". Nyebelinnn... Alisku menyatu kesal.
" Hans... ". Panggilan lembut melewati telingaku yang kecil.
" Hehe iya iya, maaf beb ".
Panggilan lembut seperti ibu peri itu berasal dari suara pacarnya Hans, yaitu sahabatku sendiri. Dialah Violetta, seorang perempuan cantik dan manis bahkan suaranya yang lembut mampu berpacaran dengan seorang lelaki yang banyak tingkah, berisik, dan penganggu.
Violet temanku waktu SMP, kelas 2 dan 3 kami sekelas dan sering bercerita bareng. Dia menyukai teman les aku, waktu aku kelas 3 SMP. Vio pernah bilang kalau 'Dia itu imut', 'Dia lucu ya!', 'Kamu punya nomor WA-nya?'. Cinta pandangan ke lima belas kalinya, Vio baru benar-benar jatuh hati kepada Hans, teman les ku.
Padahal setahu aku Hans itu...
" Bocil! Nih es krim ". Menyodorkan tangannya yang digenggam.
" Hah! Mana es krimnya? ".
" Nanti... pas kita udah jadian hehe ".
" YEEE BILANG AJA LO PELIT! ".
...anaknya super pelit, terus...
" Cil cil cil ". Panggilnya tanpa henti.
" APAA!! ". Sewotku.
" Cilacap cilacap cilacap ".
Aisshh...
...Nyebelin tingkat dewa, terus...
" Bocil ajarin dong... ".
" Kerjain dululah! Masa baru liat soal udah nanya! ".
" Iya dong, karena soal itu sudah mempertanyakan aku untuk menjawab pertanyaannya, jadi... karna aku takut membuat kesalahan lebih baik aku mempertanyakan soal ini kepada ahlinya ".
...Alasan, dia sering bangett nyari alasan ini dan itu, belum lagi...
" Bocil kamu mau gak jadi pacar aku? ". Dengan bertekuk lutut di hadapanku.
" Gak!!! Gue gak mau ama lo! ".
" Lho? Emang kenapa? Kurangnya aku apa sih cil? ".
" Karena... lo... ".
...F*kboi, semua cewek dibaperin, dipacarin, dan dilupakan...
Makanya aku agak khawatir pas Violet menyukai Hans, apalagi dengan cinta tatapan ke lima belasnya itu, kan ganjil rasanya. Yaa, emang ganjil sih jadinya.
Di kelas 1 SMA, aku dapat kabar dari salah satu temanku yang satu sekolah bareng Vio, dikabarkan Vio resmi berpacaran dengan Hans pada tanggal 19 September tahun 2019, dengan segempok bunga dan rayuan bebas yang keluar dari mulut Hans.
Ya, tapi aku tetap bersyukur karna ternyata Hans tidak terhubung lagi dengan semua cewek-ceweknya, kecuali Violet. Mungkin kalau Hans berbohong, bisa-bisa ia habis karna kecemburuan Violet kepadanya.
" Udah sono! Demen banget sih, ngejek gue terus! ". Usirku.
" Hhhahh... abis gue kira lo masuk jam pagi cil, kan lo gak kerja ". Ledeknya.
" Terserah gue! Emang harus orang kerja doang yang masuk malem! ". Sewotku lagi dan lagi.
" Bukan gitu cuma mau kasi tau aja, kalau gue juga harusnya pagi! Tapi, lo kan tau gue sengaja masuk jam malem biar pulangnya gue bisa *ehem-ehem sama is my baby ". Alasannya yang tak nyambung.
*pacaran mesra
" Bilang aja biar gue cemburu kan?! ". Kesalku.
" Iyalah, coba lo dulu nerima gue. Pasti lo gak jomblo ampe sekarang ". Bisik Hans yang duduk di depanku. Dih! Maksudnya apa coba?! Aku mengangkat alisku kesal.
" Ssttt, gak gak beb. Dia lagi pms, nanti kalo diladenin makin serem, hiih ". Panik Hans yang langsung mengajak Vio ke tempat duduk yang jauh dariku.
Dasar kelakuan tuh anak! Kesalku.
...---...
Selesai mata kuliah malam ini, aku langsung spontan melihat ke depan, tempat Hans dan Vio duduk.
Haa... Mereka udah pergi. Batinku lega melihat kursinya sudah kosong.
Kini kelas sudah sepi, kelasku jam paling akhir. Jadi ketika semua telah pergi, kampus segera di tutup dan dimatikan seluruh ruang. ' Srek Srek Srek '. Terdengar suara seseorang merapikan buku-bukunya.
Adeehh, apalagi sih ini... perasaan tadi gak ada siapa-siapa, selain gue. Masa iya sih, ada hantu kutubuku. Perlahanku lirik ke arah pojokan kiri sebarisan denganku.
Bayangan hitam? " HHOOOOOAAAHHH!!! ".
" HHHHAAAHHH!!! ".
Malam itu aku langsung dipanggil dosen untuk menjelaskan apa yang terjadi. Dengan menunduk menyesal, dan malu, aku pun menceritakan dihadapan semua orang yang melihatku.
" Jadi kamu kira, kamu itu sendirian?! ".
" I-iya dosen ".
" Terus, kamu dengar suara seseorang merapikan buku-bukunya?! ".
" Iya dosen ".
" Lalu, kamu teriak karna ada bayangan hitam sampai suaramu terdengar luar ruangan!! Ck, padahal ini ruang sudah kedap suara, lho!! Karna kamu semua dosen dan mahasiswa-mahasiswi yang mendengarmu termasuk saya langsung kesini mencari sumber suara yang ternyata kamu!!! ".
" Iya... dosen... ".
" Tapi ternyata yang kamu liat hanya,,, ". Ucapan bu dosen Erly terputus.
" Melihat saya, dan otomatis saya ikut berteriak melihat Emily dengan mata melototnya. Sedangkan saya mengira Emily sedang kerasukan ". Sambung James.
" APAA?!! ". Teriakku dan dosen kaget. Bisa-bisanya gue dikira kerasukan!!!
" Kalian itu...!!! ". Kesal dosen.
" Lagian, kenapa kalian gak langsung pulang kalau kelas sudah bubar?! Kalian mau dikunciin!! ". Marah bu dosen.
" Maaf buu ". Tunduk kami berdua amat menyesal.
" Yaudah, sana pulang! ". Ketus bu dosen ke kami sambil menyuruh mahasiswa-mahasiswi yang masuk ke ruang kami diusir untuk segera pulang juga.
...---...
Dia mengikutiku terus sampai luar gedung falkutas, dia yang kumaksud itu James.
Aku menoleh ke arahnya sebentar lalu berjalan cepat.
" Emily ". Panggil James yang tahu aku menghindar darinya.
" Kau pulang naik kendaraan apa? Tidak pulang bersama kembali dengan saya? ". Tanya James yang super baku.
" Gue bawa mobil! ". Teriakku sambil menunjukkan kunci mobilku yang aku angkat dan kugoyangkan.
" Ck ". Decik James yang mengejarku.
" Besok bersama saya, ya? ". Lanjutnya lagi yang sudah berdiri di sampingku.
Aku tidak menjawabnya, masih kesal gara-gara James bilang kalau aku seperti orang kerasukan.
" Besok, saya memakai mobil ". Omongnya kembali.
" Kau menjadi tidak perlu lelah menyetir mobil ". Oceh James kembali yang masih jalan terus mengikutiku.
" Besok libur ". Kataku singkat membuat James berhenti mengikutiku, ia merenungi kata-kataku. Aku tidak mempedulikannya, malah aku senang sudah tidak dibuntuti lagi dengannya.
Hah!!! Pulang kemarin naik motor gede bareng dia, hampir gak selamat aku. Kesalku menghentak-hentakkan kakiku ke aspal.
" James lo gila ya!! Berapa kali lo mau nabrak mobil!! ". Marahku waktu itu.
" Tiga kali ". Jawab James. Haaahh... Aku menghela nafas kesal.
" Dua kali mobil pribadi, satu kali mobil besar (truk)". Lanjut James.
" Iihh!! Gila tau gak lo! ". Marahku yang sudah kehabisan kata-kata.
" Sorryy... Saya belum terbiasa mengendarai kendaraan beroda dua, kalau mobil saya lumayan bisa ". Jelas James tiba-tiba. Sudah dua kali, ia menjelaskan tanpa ditanya.
Karena itu sebabnya aku memilih membawa kendaraan pribadi sendiri, lagipula aku bisa mampir jajan untuk mengganjal perutku yang sudah dangdutan minta diisi.
...Continued...
...____________________________________...
...Like 🌟...
...Comen 💬...
...Share 📤...
...and Thank You...
...My Readers 👀...