
...SEASON 1...
...AMNESIA BOYFRIEND...
...- My Hope -...
...by maishaar...
' yit yit '. Pagi ini aku tertidur di atas ayunan pada halaman rumahku yang luas. Menunggu kedatangan kepala keluarga yang paling dihormati, ia akan segera datang ke rumah untuk menyambut keluarganya dengan menumpahkan kerinduan yang amat dalam.
' tin tin tin ' . Suara klakson mobil kepala keluarga kami telah terdengar.
Chicago, Illinois. Ayah pulang dari kota Chicago dari negara Illinois. Yang katanya memiliki gedung pencakar langit yang terkuat dibuat dengan baja.
" Emily emily emily... bangun... nak... ini ayah ". Sambil menggoyangkan tubuhku dengan pelan.
" Hoaaa... Ada apa? ". Tanyaku (Emily) dengan membuka mata perlahan.
" Hm, ayah ". Aku terdiam sejenak.
" Ayahhhhhh....". Teriakku setelah sadar, dan langsung memberi pelukan rasa rindu yang begitu berat.
" Iya iya ini ayah ". Senyum bahagia ayah sambil mengelus kepalaku, Emily.
" Sayang... sudah pulang ". Mama pun muncul dan mencium tangan suaminya.
" Sudah berapa bulan kandunganmu, say? ". Tanya ayah sambil mengelus perut mama yang sedang mengandung adik bayiku. Ya, sekian lama aku jadi anak tunggal, kini sekarang aku akan segera mempunyai adik.
" Yaampun sayang... Baru aku WA kemarin, kalo dedenya udah jalan keempat bulan, kemarin juga baru USG dan kayaknya anak kita kali ini laki-laki ". Senyum mama yang begitu bahagia.
" Whahaha... iya maaf ayah lupa haha ". Tawa ayah sambil menepuk dahinya.
" Hayoo, jangan bilang kamu lupa besok hari apa? ". Ledek mama melirik ke ayah.
" Tau lah, Rabu kan? ". Jawab ayah dengan santai.
Bunda dan aku langsung menggeleng.
" Kayaknya ayah harus minum air dulu biar fokus haha ". Tawaku meledek sambil berlari ke arah dapur untuk meminta minum ke sus Ani (ART mama yang tertua dan paling lama disini).
" Ayah benar gak ingat hari apa besok? ". Tanya mama kembali sambil meminjat lengan kiri ayah di sofa besar ruang keluarga kami.
" Ingat kok, besok hari Rabu kan? Memang salahnya dimana? ". Bingung ayah sambil mengangkat alisnya.
" Benar sih, tapi hanya kurang tepat aja ".
' Tek '. Tak lama aku datang dan meletakkan secangkir kopi hangat.
" Wahh makasih anakku sayang... ". Senang ayah.
' srluupp '. Ayah menyeruput secangkir kopi hangat buatanku. Eits! Lebih tepatnya sus Ani.
" Besok itu, hari ulang tahun aku, ayah ". Kataku setelah duduk dihadapan ayah.
' Ho hok! '. Kaget ayah.
" Oh, iya. Ayah lupa! ". Kedua kalinya ayah menepuk dahi karena lupa.
" Haha... katanya anak kesayangan tapi kenapa lupa sama ultah anaknya, gimana sih sih ". Sindir mama sambil tertawa geli.
" Haha... Iya maaf, kalo gitu gimana kalo besok ayah beliin kamu hadiah. Mau dibeliin apa? Masak-masakan, boneka, barbie atau apa? bilang sama ayah ". Semangat ayah.
" Ayahh... umurku sudah sembilan belas tahun, masa iya aku dibeliin begituan ". Geleng-gelengku malu.
" Terus apa dekorasi ruang? ". Penasaran mama.
" Aisshh, bukan semua yang kalian pikirkan. Kali ini, Mely hanya berharap untuk bisa memiliki seseorang kekasih tampan, penyayang, setia dan pengertian ". Melasku sambil menggempalkan tanganku.
Yaa, kalo bisa sekalian yang bule, biar bisa memperbaiki keturunan, hehe. Senyum-senyumku sendiri.
" Memangnya kamu sudah punya, siapa? Kok gak dikenalin ke mama sih ". Cemberut mama.
" Haha... belum ada ma, tapi maksudnya Mely. Itu hanya harapan untuk nanti kedepannya ". Ucapku.
Dihari weekend itu. Aku dan keluarga mengobrol, bercurhat, menonton, bahkan jalan-jalan untuk pergi di hari libur penyambutan kedatangan ayah ku dan suami bagi mama yang selamat dari Chicago sampai ke Jakarta rumahku.
...Continued...
..._____________________________________________...
...Like 🌟...
...Comen 💬...
...Share 📤...
...and be a...
...Loyal Readers 👀...