
Reynold mengambil kunci mobilnya dan bersiap pergi..
Semalam dia sudah mencoba menggunakan Komputer miliknya, betapa mengerikannya segala game dia babat habis hingga max namun itu tetap tidak berpengaruh di komputernya.
Dengan kemampuan PC seperti itu, Reynold hanya perlu waktu 3 bulan untuk meretas data yang di simpan pada Mariana Web.
Hari ini Reynold berencana keluar, dikarenakan hari ini adalah ulang tahun teman yang dianggap sebagai saudara dihatinya.
Dikarenakan sudah 4 tahun tidak berjumpa dan belum mengenal kabar satupun tentangnya, Reynold sedikit merindukannya. Pertemanan mereka tidak bisa di ukur lagi di mulai dari SMP hingga sekarang.
"Hehe aku yakin dia akan terkejut melihat mobil ini" Reynold tersenyum senang saat mengungkapkannya didalam hati.
⟨Rey sepertinya pergerakan pemerintah agak sedikit aneh!⟩
"Hmm? Apa yang terjadi?"
⟨Mereka menyelidiki seluk beluk uang dari akunmu dan juga sepertinya akan ada orang dari pemerintah yang akan mewancaraimu!⟩
"Ya sepertinya kita membutuhkan cincin transformasi secepatnya! Ngomong-ngomong apakah kau berhasil mengambil uang milik orang di dunia bawah?"
⟨Silvi berhasil mengambil 20 Milliar Dollar dari rekening Bos Narkoba! Saat ini dia sepertinya berusaha sangat keras mencarimu Rey⟩
Reynold memegang kepalanya dan berkata "Sialan aku tidak tahu apa yang terjadi jika aku ketahuan oleh mereka berdua!".. Reynold menggelengkan kepalanya "Baiklah lupakan sementara, lagipula pencariannya juga membutuhkan waktu. Sedangkan wawancara dari pemerintah, aku memiliki alasan yang jelas"
"Untuk sekarang aku ingin menjenguk Alveno, sudah lama sekali tidak kulihat dia, Terakhir kali aku datang sepertinya 4 tahun lalu tepat orang tuanya meninggal" Gumamnya memandang langit dari kaca mobil dengan penuh nostalgia.
Rumah Alveno berada di kota lain tidak jauh dari kota tempat Reynold tinggal, dan perjalanannya melewati rumah lama Reynold.
Dua jam kemudian...
Dari sebuah jalanan yang sepi, Reynold bisa melihat di kejauhan gedung-gedung tinggi muncul, Melihat kota tempat Alveno tinggal di kejauhan, Reynold mempercepat mobilnya.
*Brummm
Tak lama kemudian Reynold tiba di kota ini, tidak perlu basa basi, Reynold langsung pergi ke rumah Alveno. Reynold tidak akan pernah lupa dengan rumah temannya.
Menggunakan Buggati Chiron di sebuah jalan kalangan bawah, membuat banyak mata tertuju kepadanya. Reynold memarkirkan mobilnya di depan rumah Alveno.
Keluar dari mobil, Reynold berjalan ke pintu rumah Alveno dan mengetuknya.
"Permisi ada orang?" Namun setelah lama bertanya dan mengetuk pintu, tidak ada reaksi yang menjawab.
Reynold sedikit bingung, dia berbalik dan menoleh kearah pedagang kaki lima yang ada di pinggir jalan.
"Eh itu Om Kumis? Sudah lama aku tidak bertemu dengannya" Reynold berkata dalam hatinya, dia berjalan menuju pedagang kaki lima tersebut.
"Permisi Om, Mau tanya itu, Rumah teman saya Alveno dimana yah?" Reynold bertanya saat melihat ekspresi murung Om Kumis, Reynold merasa hal buruk terjadi.
"Tempat yang kamu kunjungi tadi itu rumahnya Alveno, cuman Alveno telah meninggal dunia setahun yang lalu. Nak kamu siapa yah sepertinya tidak asing?" Om Kumis menjelaskan dan menatap Reynold dengan mata ragu.
"Saya Reynold Om, Om masih ingat gak? Teman dekat Alveno?" Mendengar kabar kematian temannya, Reynold tidak percaya. Tidak lebih tepatnya dia tidak menerima kenyataannya.
"Om apakah om serius jika Alveno telah pergi untuk selamanya?" Reynold terduduk di meja plastik dan memegang kepalanya. Dirinya berusaha menahan tangis.
Om Kumis tidak menjawab hanya mengangguk sedih saja. Melihat itu Reynold memejamkan matanya, Reynold menarik nafas dalam dalam.
"Bocah bodoh! Kenapa kau pergi duluan? Padahal aku baru saja membeli mobil impian kita! Sialan!" Reynold menggertakkan giginya, dia merasa Tuhan sepertinya merebut semua yang berharga darinya.
Beberapa menit kemudian, Reynold membuka matanya dan berkata.
"Om, Bisakah ceritakan apa yang terjadi selama 4 tahun sebelumnya?" Reynold bertanya dengan mata yang sedikit memerah.
Om Kumis mengangguk dan menceritakan keseluruhannya.
Setelah kematian kedua orang tuanya 4 tahun lalu, keduanya terus menerus di teror oleh preman yang kemungkinan berasal dari suatu perusahaan tertentu.
Om Kumis juga menceritakan jerih payah Alveno menyekolahkan adiknya, juga rumah mereka yang selalu di ganggu preman, bahkan polisi saja tidak mengambil tindakan apapun.
Setelah kematian Alveno, para preman semakin sering bertindak, mereka kadang menyergap adiknya Alveno untungnya banyak mata yang melihat membuat preman itu tidak berani melakukan sesuatu.
Juga sepertinya di sekolah adik Alveno selalu di bully dan yang gilanya, kepala sekolah malah mendukung si pembully bukan Adik Alveno.
Mendengar keseluruhan ceritanya..
Om Kumis sedikit gemetar ketakutan melihat, Reynold.
"Haah~~" Setelah melampiaskan amarahnya. Reynold akhirnya tenang dengan perlahan. Dia mengambil uang dari sakunya dan memberikan kepada Om Kumis.
"Terimakasih om atas informasinya! Ini uang untuk mengganti rugi meja yang ku pecahkan, terimakasih om" Reynold pergi tanpa berbalik.
'Silvi cari keberadaan SMA Chesam, aku akan pergi menjemput Alvina'
⟨Baik Rey⟩
'Juga, Cari informasi sebanyak-banyaknya tentang preman yang menyusahkan mereka selama ini'
⟨Siap Akan ku usahakan yang terbaik⟩
Reynold berhenti sejenak di depan halaman rumah Alveno, dia memandang rumah yang penuh kenangan ini dengan tatapan kerinduan.
"Haah~~" Menghembuskan nafas panjang, Reynold memasuki mobilnya dan beranjak ke SMA Chesam.
Sepertinya dia datang di waktu yang tepat, dikarenakan pelajaran sekolah baru saja selesai dan para Siswa dan Siswi di persilahkan untuk istirahat.
"Hahaha akhirnya istirahat aku sudah menunggu untuk ini"
"Hehehe lihat antingku cantik kan? Ini anting emas loh"
Para siswa tiba tiba terkejut melihat suara mobil yang nyaring terdengar.
"Eh siapa itu?"
"Apakah itu tamu? Lihat Buggati Chiron seharga 3 Juta Dollar? Apakah dia orang kaya atau gimana?"
Reynold memarkirkan mobilnya di tempat parkir, untungnya di pertengahan perjalanan dia membeli bekal di restoran mewah. Saat itu dia keluar dari mobil dan banyak pasang mata yang melihat.
"Ahhh siapa itu? Tampannya?? Apakah dia artis atau model?"
"Cepat foto-foto, sepertinya dia membawa bekal? Apakah untuk salah satu seseorang di sekolah?? Beruntungnya mendapatkan pacar sepertinya"
Reynold tidak memperdulikan bocah bocah yang memiliki antusias tinggi ini, dia berjalan perlahan dan saat ingin memasuki koridor sekolah, satpam lain menahannya.
"Permisi tuan! Saat ini murid sedang istirahat dan tidak bisa diganggu!"
Reynold hanya terdiam dan bertanya "Apakah selama ini kau pernah mengganggu murid bernama Alvina?"
Satpam itu sedikit bingung menjawab dan agak ragu, melihat satpam yang ragu-ragu itu, Reynold langsung mencengkram lehernya.
"Jika kau tidak memberiku masuk! Aku bisa membunuhmu disini!" Reynold mengancam dan aura kemarahan tak terlihat muncul di tubuhnya.
"Ba baik tu tuan" Ucap satpam dengan terbata-bata.
Setelah melepaskan Satpam yang menjaga koridor, Reynold berjalan ke koridor, kebetulan dia bertemu siswa disini dan bertanya tentang kelasnya Alvina.
Setelah bertanya-tanya ke anak murid di sekitarnya, Reynold akhirnya sampai ke kelasnya Alvina.
Yah dengan wajahnya itu tentu menarik perhatian, membuat satu sekolah gempar.
"Alvinaa" Reynold berteriak saat memasuki kelasnya Alvina. Di sudut kejauhan, gadis yang duduk di atas meja penuh coretan terkejut dan menoleh kearahnya.
Melihat tatapan Alvina! Reynold tersenyum senang, tatapan dari mata ungu Alvina membuatnya teringat dengan Alveno.
Alvina berdiri karena refleks, sementara Reynold mendatangi perlahan.
"Lama tidak berjumpa" Ucap pelan Reynold, Alvina yang tertegun segera memeluknya, Alvina memeluknya dengan sangat erat takut Reynold akan hilang.
Reynold sedikit terkejut, dia menaruh bekal di meja dan memeluk Alvina juga, Reynold berkata "Maafkan kakakmu ini Alvina! Maaf aku tidak bisa menjagamu! Kau pasti sudah sangat menderita setahun"
"Kakak Hero? Kakak Hero kau kembali" Mendengar teriakan kesedihan Alvina dan saat dia menyebutnya Kakak Hero, Hati Reynold terasa sangat hangat.
Alasan mengapa dia dipanggil Hero dikarenakan dulu, Reynold sangat lembut terhadap Alvina tidak seperti Alveno yang selalu membully (Bully Bercanda yah adik adik) adiknya.
"Tidak apa apa Alvina, Sekarang dan kedepannya tidak akan ada apa apa aku akan menjagamu! Tolong terima permintaan maafku!" Reynold berkata melihat Alvina masih menangis Sepertinya karena trauma yang diterima, mata Reynold menjadi lebih tajam dan dingin.